Pak Bupati, Tonggurambang Tidak Butuh Salam Hormat, Tapi Butuh Jawaban
✍️ Oleh: Irminus Deni – Rubrik Atalomba Kiri Kanan
📍Tonggurambang, Aesesa, Nagekeo
🗓️ Edisi Minggu, 13 Juli 2025
“Kami bukan tanah kosong, Pak. Jangan kirim surat cinta suruh kami pindah dari kampung yang sejak nenek moyang kami berdarah dan dikuburkan di sini.”
— Seorang ibu, wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyala.
Pagi yang mestinya damai itu berubah jadi sejarah. Di Tonggurambang, satu kampung kecil yang letaknya bisa saja luput dari radar Google Maps, warga justru bikin geger satu Indonesia. Bukan karena kebakaran, bukan karena rebutan sembako, tapi karena mereka menghadang rombongan pejabat, lengkap dengan bupatinya, yang mau masuk lokasi rencana pembangunan Batalyon 834/WakaNgaMere.
Dan yang bikin heboh, video penghadangan itu viral. Tayang di Youtube Sergap NTT, Mbay Online, dan langsung disebar luas. Dalam 6 menit 39 detik yang memuat suara rakyat dan wajah-wajah marah yang terlatih oleh kesabaran, kita semua dipaksa bertanya. “Ada apa sebenarnya di Tonggurambang?”
📜 Surat Cinta Tanpa Salam
Semuanya bermula dari sepucuk surat perintah pengosongan. Surat itu dikirim ke warga seperti layaknya surat putus cinta. Singkat. Dingin. Tanpa salam. Isinya? “Segera kosongkan kampung.”
Eh, halo! Ini bukan pacaran SMP yang bisa bubar lewat kertas sobekan. Ini kampung, Pak. Bukan kontrakan. Kampung yang bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat bernafas, berdoa, dan menyimpan tulang nenek moyang.
💥 Ketika Warga Bukan Lagi Objek
Biasanya warga di kampung hanya jadi penonton pembangunan. Tapi kali ini beda. Mereka naik panggung, buka suara, pegang mikrofon, dan bilang. “Kami bukan anti-negara, kami anti-penggusuran diam-diam.”
Coba bayangkan. Pagi-pagi pejabat datang, bawa baju bagus, niat mau lihat lokasi. Tapi yang mereka temui bukan tanah lapang, melainkan barisan warga yang sudah berdiri, memegang spanduk, dan suara yang tak bisa dibungkam. Warga bicara bukan dengan emosi, tapi dengan sejarah, luka, dan warisan.
Dan semua itu terekam jelas dalam video viral itu.
🎭 Humor Rakyat: Sakit Tapi Menggelitik
Rubrik ini namanya Kiri Kanan Senggol Dong, jadi izinkan kami menyenggol lagi,
“Pak Bupati, kalau pembangunan ini untuk rakyat, kenapa rakyat harus pergi dulu?”
“Surat pengosongan datang tanpa diskusi. Padahal kalau mau pinjam pacul saja, kami di sini masih musyawarah!”
“Katanya mau bangun markas tentara. Tapi warga dulu yang ditertibkan. Padahal mereka justru yang jaga tanah ini sejak belum ada negara.”
“Kalau mau gusur rakyat, kirim undangan bukan ultimatum. Ini kampung, bukan kafe yang bisa ditutup sewaktu-waktu.”
Lucu? Memang. Tapi coba ketawa sambil pegang surat pengosongan. Tonggurambang sedang diuji, lucu-lucu begini, hatinya sedang berapi-api.
🧭 DPRD dan Pemerintah Pusat, Ke Mana Arahmu?
Lucunya lagi, saat warga ramai teriak, wakil rakyat diam. DPRD Kabupaten? hanya satu orang yang bersuara, katanya akan memanggil Bupati, lansung panggil jangan menunggu lagi. awas loh… terjadi kesepakatan dibelakang meja hahaha, senggol dong. DPRD Provinsi? Sibuk selfie. DPR RI dan Pemerintah pusat? Sibuk bangun narasi. Kalau DPRD dan Pemerintah Pusat masih bangun narasi, mari kita minta bantuan Melki Lakalena Gubernur kita yang bijaksana, Pak Gub. Datang dan Bantulah Warga Tonggurambang, kasian Wargamu yang telah memilihmu di Pilkada yang baru saja usai.
kalau semuanya mendadak jadi senyap. Apakah bapak-bapak mereka baru muncul kalau ada peresmian jalan, pemotongan pita, atau syukuran panen. Tapi saat rakyatmu diusir dari tanahnya, apakah tiba-tiba bapak-bapak mereka jadi alumni ninja, menghilang tanpa jejak.
🔥 Tonggurambang: Dari Ladang Jadi Landmark Perlawanan
Kita semua harus tahu. Hari ini Tonggurambang, besok bisa kampung kita. Kalau negara terus merasa bebas menentukan arah tanpa konsultasi, maka rakyat akan terus merasa menjadi objek, bukan subjek. Dan kalau rakyat dianggap tidak tahu apa-apa, maka rakyat akan mengajari pemerintah cara membaca sejarah. Di Tonggurambang, rakyat tidak hanya menyambut pembangunan. Mereka menantang cara kerja pembangunan yang arogan.
🎬 Akhir Kata Tonton Videonya, Dengar Suaranya
Video itu bukan hanya viral karena sensasi. Ia viral karena mengandung kebenaran. Ada ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda yang bicara jujur dari hati. Bukan karena diajari LSM. Bukan karena disponsori. Tapi karena tanah yang diinjak adalah identitas, bukan sekadar alamat.
✊ Tonggurambang Bersuara, Indonesia Harus Mendengar
Jangan cuma datang saat panen. Jangan cuma hadir saat pilkada. Jangan cuma minta tolong warga jaga negara, sementara negara tak jaga warga. Tonggurambang adalah pelajaran. Bahwa demokrasi itu bukan datang dari kantor ke kampung, tapi dari kampung ke telinga kekuasaan.
📌 Rubrik: Atalomba Kiri Kanan – Senggol Dong!
🗓️ Edisi: 13 Juli 2025
✍️ Penulis: Irminus Deni
📍Editor & Visual: Tim Atalomba.com
🎥 Video Viral: “Bupati Dihadang dan Diusir” – via Sergap NTT
