RD. Servasius Sai Bakar Semangat MPAB PMKRI: Meneladani Yesus, Berani Lawan Ketidakadilan

NDORA Nagekeo Atalomba.com – Aula Paroki St. Petrus Martir Ndora, 18–22 Maret 2026, menjadi lebih dari sekadar tempat berkumpulnya 51 orang muda. Di ruang itu, berlangsung sebuah proses yang pelan namun dalam, proses pembentukan kesadaran, keberanian, dan arah hidup sebagai kader gerakan.
Dalam rangkaian Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) PMKRI Ende, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada organisasi, tetapi diajak masuk lebih jauh ke dalam refleksi mendasar tentang identitas dan keberpihakan. Salah satu sesi yang paling menggugah datang dari Pastor Moderator PMKRI Cabang Ende Santo Yohanes don Bosco , RD. Servasius Sai, yang membawakan materi bertema “Spiritualitas Yesus sebagai Teladan Gerakan.”
Sejak awal, RD. Servasius Sai menegaskan bahwa berbicara tentang spiritualitas Yesus tidak boleh berhenti pada doa dan simbol-simbol religius semata. Spiritualitas Yesus, menurutnya, adalah spiritualitas yang hidup, yang bergerak, dan yang berpihak.
“Spiritualitas Yesus itu bukan spiritualitas yang diam,” tegasnya.
“Itu spiritualitas yang turun ke jalan kehidupan, menyentuh yang menderita, dan berani melawan ketidakadilan.”
Bagi para calon anggota PMKRI, penegasan ini menjadi penting. Karena menjadi kader tidak cukup hanya dengan pengetahuan dan semangat organisasi, tetapi harus ditopang oleh spiritualitas yang kuat, spiritualitas yang mendorong untuk bertindak.

RD. Servasius Sai kemudian menggambarkan Yesus bukan hanya sebagai tokoh iman, tetapi sebagai figur gerakan. Yesus hadir di tengah masyarakat, bergaul dengan mereka yang tersingkir, menyapa yang dilupakan, dan berdiri bersama mereka yang tidak memiliki kuasa.
“Yesus itu tidak netral,” lanjutnya.
“Ia berpihak. Ia jelas berdiri di sisi yang lemah. Maka kalau kita mau meneladani Yesus, kita juga harus berani menentukan posisi.”
Spiritualitas Yesus, dalam konteks ini, bukan sekadar relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi juga relasi sosial dengan sesama dan dengan dunia. Ia mengandung keberanian untuk melihat realitas, kepekaan untuk merasakan penderitaan, dan komitmen untuk bertindak.
Suasana ruangan menjadi hening. Para peserta tidak hanya mendengar, tetapi mulai merenung. Materi ini seperti cermin yang memantulkan kembali kehidupan mereka sendiri.
Puncak dari sesi ini terjadi ketika peserta memasuki ruang diskusi kelompok. Dengan pertanyaan penuntun yang sederhana namun tajam, “Siapa kaum miskin di sekitar kita, dan apakah kita sudah berpihak?” para peserta diajak untuk tidak hanya berpikir, tetapi juga jujur pada diri sendiri.
Diskusi pun dimulai. Seorang peserta membuka percakapan dengan refleksi yang dalam.
“Kaum miskin itu bukan hanya yang kekurangan uang. Mereka juga yang tidak punya suara. Yang tidak didengar. Dan itu ada di sekitar kita,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung disambut oleh peserta lain.
“Iya, tapi apakah kita sudah berpihak kepada mereka? Atau kita hanya tahu, tapi tidak melakukan apa-apa?”
Diskusi mulai menghangat. Para peserta tidak lagi berbicara secara umum, tetapi mulai masuk ke dalam pengalaman nyata. Mereka menyebutkan contoh konkret, teman yang kesulitan biaya kuliah, masyarakat kecil yang sering diabaikan, hingga situasi sosial di kampung halaman mereka.
Diskusi bahkan terasa lebih tajam. “Kita sering bicara soal keadilan, tapi ketika melihat ketidakadilan, kita diam. Kita takut. Kita pilih aman,” kata seorang peserta.
Langsung disanggah oleh yang lain:
“Kalau begitu, kita belum hidup dalam spiritualitas Yesus. Karena Yesus tidak diam.”
Saling menyangga menjadi dinamika yang hidup. Argumen demi argumen dilontarkan. Tidak ada yang mendominasi, tetapi semua berusaha terlibat. Mereka belajar satu hal penting, berani berbicara dan berani berbeda.
Antusiasme peserta terlihat jelas. Bahkan mereka yang awalnya diam, mulai memberanikan diri untuk menyampaikan pendapat. Diskusi menjadi ruang latihan yang nyata, latihan untuk berpikir kritis dan menyuarakan kebenaran.
Namun diskusi tidak berhenti pada persoalan sosial semata. Dalam salah satu kelompok, pembahasan berkembang lebih jauh ketika seorang peserta mengaitkan spiritualitas Yesus dengan ajaran Gereja dalam ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus.
“Kalau kita bicara spiritualitas Yesus, kita juga harus bicara soal lingkungan. Karena Yesus juga peduli pada kehidupan. Dan hari ini, kehidupan itu terancam karena kerusakan lingkungan,” ujarnya.
Pernyataan itu membuka arah diskusi yang lebih luas. Peserta lain menambahkan:
“Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus bilang bahwa bumi ini adalah rumah bersama. Kalau kita merusaknya, kita juga merusak hidup manusia, terutama yang miskin.”
Diskusi pun semakin mendalam. Para peserta mulai mengaitkan iman dengan realitas ekologis. Mereka berbicara tentang eksploitasi alam, proyek pembangunan, dan dampaknya terhadap masyarakat kecil.
“Kita sering dengar kata pembangunan… tapi apakah semua pembangunan itu benar-benar membawa kebaikan?” tanya seorang peserta.
Pertanyaan itu memancing perdebatan serius. Ada yang mencoba melihat dari sisi pembangunan sebagai kebutuhan. “Kita tidak bisa menolak pembangunan. Kita butuh kemajuan,” ujarnya.
Namun argumen itu langsung ditanggapi:
“Iya, tapi kalau pembangunan itu merusak lingkungan dan menyengsarakan masyarakat, apakah itu masih sesuai dengan nilai iman kita?”
Diskusi semakin intens. Saling menyangga terjadi dengan lebih tajam, namun tetap dalam suasana saling menghargai. Hingga akhirnya, perlahan muncul satu pemahaman bersama.
“Gereja tidak menolak pembangunan,” kata seorang peserta mencoba merangkum,
“tetapi Gereja menolak pembangunan yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat kecil.”
Pernyataan itu menjadi titik temu. Peserta lain menambahkan:
“Berarti kita juga harus bersikap. Kita tidak boleh netral. Kita harus berpihak pada keadilan, pada manusia dan pada lingkungan.”
Di sinilah spiritualitas Yesus menemukan maknanya yang konkret. Ia bukan hanya soal doa, tetapi soal keberanian untuk berdiri di tengah realitas.
Semangat Laudato Si’ memperkuat kesadaran itu, bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman. Bahwa membela lingkungan adalah bagian dari membela manusia.
Di tengah dinamika diskusi, muncul momen reflektif yang kuat. Seorang peserta yang sejak awal lebih banyak diam akhirnya berbicara.
“Saya baru sadar… selama ini saya tahu siapa yang lemah di sekitar saya. Tapi saya belum benar-benar berpihak. Saya masih memilih nyaman.”
Ruangan seketika hening. Kalimat itu sederhana, tetapi penuh kejujuran. Dan justru kejujuran itu yang menjadi titik balik bagi banyak peserta.
Diskusi kemudian berkembang ke arah yang lebih dalam, bukan hanya mengenali masalah, tetapi juga mempertanyakan diri. Apakah mereka siap berubah? Apakah mereka siap keluar dari zona nyaman?dan apakah mereka siap benar-benar hidup dalam spiritualitas Yesus?

RD. Servasius Sai kemudian menutup sesi dengan penegasan yang kuat. “Spiritualitas tanpa tindakan itu kosong,” ujarnya. “Dan gerakan tanpa spiritualitas akan kehilangan arah. Kalian harus punya keduanya.”
Ia menegaskan bahwa MPAB bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang sebagai kader.
“Kalian sedang dilatih. Dilatih untuk berpikir, untuk berani berbicara, dan untuk berani bertindak. Karena dunia tidak butuh orang yang diam.”
MPAB PMKRI Cabang Ende Sato Yohanes don bosco di Ndora ini menjadi ruang pembentukan yang nyata. Bukan hanya membentuk kader yang cerdas, tetapi juga kader yang peduli dan berani berpihak.
Dari 51 peserta yang hadir, benih-benih kesadaran mulai tumbuh. Kesadaran untuk melihat realitas.
Kesadaran untuk peduli pada sesama. Dan kesadaran untuk menjaga rumah bersama.
Karena pada akhirnya, menjadi kader PMKRI berarti hidup dalam spiritualitas Yesus, spiritualitas yang berpihak, bergerak, dan berjuang.
Dan semua itu dimulai dari satu pertanyaan yang terus menggema di Aula Paroki St. Petrus Martir Ndora. “Siapa kaum miskin di sekitar kita, dan apakah kita sudah berpihak?” Dari pertanyaan itu, lahirlah kegelisahan. Dan dari kegelisahan itu, akan lahir gerakan. (AL/Irminus Deni)
