Di Negeri Orang, Aku Hilang; Di Tanah Sendiri, Aku Hidup: Kisah Dua Bersaudara

Di sebuah kampung kecil di pulau Flores, tempat matahari lahir dari balik gunung dan tenggelam di pelukan laut biru, hiduplah dua bersaudara, Matius Bere dan Berto Bere (bukan nama sebenarnya).
Keduanya lahir dari keluarga petani sederhana, anak-anak yang tumbuh dengan cangkul di tangan dan doa di bibir. Warisan satu-satunya dari orang tua mereka hanyalah sebidang tanah, tanah kecil yang dulu diolah dengan peluh, ditaburi keringat, dan disiram kasih.
Ketika Matius menamatkan SMA, dunia seolah berhenti untuknya. Cita-cita kuliah tinggal harapan. Orang tua tak mampu lagi membiayai. Di rumah mereka, ubi rebus dan garam sudah jadi santapan utama. Matius sadar, kalau ia tetap tinggal di kampung, nasibnya takkan banyak berubah.
Suatu malam, sambil memandangi langit yang penuh bintang, Matius berbicara pelan kepada ibunya,
“Mama, saya mau ke Malaysia. Banyak orang kampung bilang di sana bisa kerja, bisa kirim uang. Kalau saya berhasil, saya bangun rumah batu untuk Mama.”
Ibunya terdiam. Air matanya mengalir pelan.
“Anakku, ke negeri orang itu bukan sekadar pergi. Itu perjuangan antara hidup dan mati. Apalagi kalau tidak resmi. Tapi kalau itu jalanmu, pergilah, tapi jangan lupakan tanah ini. Jangan lupakan asalmu.”
Berto, adiknya yang masih duduk di SMA kelas dua, hanya menunduk di sudut ruangan.
“Kaka, kalau Kaka sudah kerja, jangan lupa kirim kabar ya…” katanya lirih.
“Pasti, De. Jaga Mama dan Bapak. Sekolah yang rajin,” jawab Matius sambil tersenyum.
Merantau di Negeri Orang
Beberapa minggu kemudian, Matius benar-benar berangkat. Ia menyeberang diam-diam lewat jalur laut, bersama rombongan yang tak punya paspor, menuju Johor. Malam itu, di tengah gelap laut, hanya bintang dan ombak yang tahu bahwa ia pergi tanpa kepastian, tak ada jaminan hidup, hanya keberanian dan doa.
Hari pertama di negeri orang, ia langsung bekerja di ladang kelapa sawit. Upah kecil, kerja berat, tidur di pondok reyot tanpa listrik. Kadang makan nasi basi, kadang hanya mie instan. Tapi ia bertahan.
“Asal bisa kirim uang untuk Mama,” pikirnya setiap malam.
Tahun pertama, ia jatuh sakit tapi tak berani berobat karena takut tertangkap. Tahun kedua, teman-temannya ditangkap polisi. Ia kabur ke kota lain. Tahun ketiga, ponselnya hilang. Kabar ke kampung pun terputus. Sejak hari itu, nama Matius hilang dari rumah kecil di kampung. Tak ada surat, tak ada telepon. Orang-orang mulai berbisik:
“Mungkin Matius sudah mati di tanah orang.”
Bapak dan Mama hanya bisa menatap kosong setiap kali angin bertiup dari arah laut, seolah membawa kabar dari anak yang jauh.
Menanam Harapan di Tanah Sendiri
Berto, adik yang ditinggal, tumbuh dengan keyakinan berbeda. Setelah tamat SMA, ia memilih tidak merantau. Ia memilih menanam. Tanah yang dulu penuh alang-alang, kini ia cangkul dengan sabar.
Ia menanam kakao, cengkeh, pala, kelapa, vanili, tanaman umur panjang yang butuh waktu, tapi memberi hasil pasti.
Orang-orang menertawakannya.
“Berto, kau buang waktu! Tanaman itu baru panen sepuluh tahun lagi!”
“Orang lain kerja di Malaysia, kau malah main tanah!”
Tapi Berto hanya tersenyum.
“Biar lambat, asal tanah ini hidup. Tanah ini darah kita,” jawabnya tenang.
Tiga tahun setelah kepergian Matius, kedua orang tua mereka meninggal. Berto sendirian mengurus pemakaman, urusan adat, dan kebun. Ia menikah dengan gadis kampung yang setia menemaninya di rumah bambu beratap seng. Bersama istrinya, ia terus menanam, merawat, dan berdoa.
Waktu berlalu. Pohon kakao mulai berbuah, cengkeh mulai berbunga, pala dan vanili mulai mengeluarkan aroma harum. Setiap musim panen, hasilnya bertambah. Sedikit demi sedikit, ia bangun rumah batu, beli pick-up untuk angkut hasil kebun, dan menabung untuk anak-anaknya.
Dalam sepuluh tahun, Berto hidup dari hasil tangannya sendiri. Tak perlu merantau, tak perlu takut, tak perlu sembunyi. Ia hidup tenang di tanah warisan yang dijaganya dengan cinta.
Sebuah Nama di Dunia Maya
Suatu malam, ketika hujan turun pelan, Berto membuka Facebook di ponselnya. Ia menggulir beranda pelan-pelan, lalu tiba-tiba berhenti. Ada nama yang membuat jantungnya berdegup, “Matius Bere.”
Ia tak percaya. Foto profil itu menunjukkan lelaki tua, kurus, rambut memutih, wajah asing tapi nama marganya sama.
“Apakah ini… Kaka?”
Dengan ragu ia mengetik pesan:
“Selamat malam, Om. Maaf, mau tanya, Om asli dari mana?”
Tak ada jawaban malam itu. Berto menunggu hingga tertidur. Pagi hari, ketika membuka kembali Facebook, ada balasan:
“Selamat malam juga. Saya asli, Flores. Kampung kecil dekat sebut nama kampungnya.”
Berto terdiam, air matanya mengalir. Ia berlari ke istrinya,
“Saya temukan Kaka! Dia masih hidup!”
Kepulangan yang Ditunggu
Beberapa hari kemudian, Matius mengabarkan akan pulang. Ia bilang ingin lihat kampung, ingin ziarah ke kubur Bapak dan Mama. Berto tak bisa menahan haru. Ia segera menyiapkan segalanya.
“Istriku,” katanya lembut, “rapikan kamar itu. Itu kamar Kaka. Kita sambut dia seperti orang tua sendiri.”
“Iya, saya siap,” jawab istrinya sambil mengelap air mata.
Kabar itu menyebar cepat ke seluruh kampung. Orang-orang menunggu di jalan, anak-anak berlarian, semua ingin melihat “orang Malaysia” yang kembali.
Pagi itu, Berto sudah di pelabuhan. Kapal dari Batam bersandar, dan dari tangga besi turunlah Matius, kurus, wajahnya letih, membawa koper besar dan dua dus berdebu. Berto berlari memeluknya erat.
“Kaka, terima kasih Tuhan, Kaka pulang!”
Air mata dua puluh tahun tumpah di pelabuhan itu.
Mereka naik pick-up menuju kampung. Sepanjang jalan, Matius terpana. Jalan sudah diaspal, rumah-rumah berdinding batu, dan kebun di kiri-kanan jalan tumbuh subur.
“De, ini tanah kita?”
“Iya, Kaka. Semua ini milik kita. Saya hanya menanam selama Kaka tidak ada. Sekarang Kaka sudah pulang, semuanya milik Kaka.”
Matius terdiam. Ia menatap kebun luas, penuh pohon buah dan cengkeh yang menjulang tinggi. Dulu, tanah itu hanya alang-alang dan batu.
Ketika mereka tiba di rumah, air mata Matius jatuh lagi. Rumah besar berdinding putih, lantai berkeramik, dan di depan rumah dua kubur berlapis keramik bersih, Bapak dan Mama.
“De, ini rumah siapa?”
“Rumah Kaka. Saya cuma jaga.”
Harga dari Dua Puluh Tahun
Malam itu mereka makan malam bersama. Setelah semua tamu pulang, Matius masuk ke kamar, membuka kopernya, dan mengambil seikat uang. Ia menyerahkan kepada adiknya.
“De, ini hasil kerja saya selama dua puluh tahun. Dua puluh juta rupiah.”
Berto terdiam. Lalu perlahan berkata,
“Terima kasih, Kaka. Kami terima sebagai tanda kasih. Tapi soal makan minum, biar kami yang tanggung. Hasil kebun ini sudah cukup buat semua. Sekarang Kaka pulang, biar Kaka istirahat.”
Matius menunduk. Dalam hatinya, malu menghantam seperti badai. Dua puluh tahun di tanah orang hanya menghasilkan dua puluh juta. Sementara adiknya, selama dua puluh tahun di kampung, hidup berkecukupan dan tenang.
Malam itu, ia tak bisa tidur. Ia teringat malam-malam panjang di Malaysia, Tidur berpindah-pindah, sembunyi di hutan, lari dari razia, makan nasi basi, bekerja tanpa bayaran. Ia sadar, ia bukan pergi mencari hidup, tapi lari dari kenyataan.
Keputusan yang Menggetarkan
Beberapa bulan berlalu. Suatu malam, setelah makan malam, Matius berkata pelan,
“De, saya mau kembali ke Malaysia.”
Berto kaget, “Kenapa, Kaka? Bukannya Kaka mau tinggal di sini?”
“Saya malu, De. Dua puluh tahun saya di sana, tapi tak ada apa-apa. Sementara kamu di sini berhasil. Saya tak sanggup hadapi pandangan orang kampung.”
Berto menatap kakaknya lama, menahan tangis.
“Kaka, semua ini milik Kaka. Tanah, kebun, rumah. Kami hanya jaga. Kalau Kaka mau, ambil semuanya. Kami cukup dengan sedikit.”
Tapi Matius hanya tersenyum pahit.
“Tidak, De. Bapak dan Mama menitipkan semua padamu. Jaga baik-baik. Saya cuma ingin ke sana sebentar, urus sesuatu, nanti saya pulang.”
Dua minggu kemudian, Matius berangkat lagi. Berto dan istrinya mengantar sampai pelabuhan. Sebelum naik kapal, Matius berpesan,
“De, jaga anak-anakmu. Sekolahkan mereka. Anggap mereka anak saya juga. Saya tak akan menikah lagi. Tapi saya janji akan segera kembali.”
Berto memeluknya erat, “Kaka, cepat kembali. Kami tunggu.”
Matius hanya mengangguk pelan. Tapi dalam hatinya, ia tahu, ia mungkin tak akan pernah pulang lagi.
Pulang yang Tak Bernyawa
Kapal yang ditumpangi Matius berlayar ke Batam. Dari sana, ia menyeberang ke Malaysia dengan perahu kecil bersama beberapa orang. Tapi nasib buruk menimpa. Di tengah laut, perahu mereka dicegat polisi Malaysia. Matius ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Tiga bulan kemudian, kabar itu datang seperti petir di siang bolong.
“Matius meninggal di penjara karena sakit.”
Berto jatuh terduduk. Dunia seolah runtuh di hadapannya. Namun, pemerintah membantu pemulangan jenazah lewat pesawat. Peti jenazah tiba di kampung dengan bendera kecil di atasnya. Berto memeluk peti itu sambil menangis,
“Benar, Kaka. Kaka bilang Kaka akan segera pulang. Dan hari ini Kaka benar-benar pulang…”
Jenazah Matius dimakamkan di samping makam ayah dan ibu. Di atas pusaranya, Berto menanam sebatang kelapa muda, tanda kehidupan baru, tanda bahwa cinta keluarga tak pernah mati.
Pesan dari Tanah
Kini setiap sore, Berto duduk di beranda rumah, menatap kebunnya yang rimbun. Ia sering berkata kepada anak-anaknya,
“Kalau kamu mau cari hidup, jangan lari dari tanahmu. Rezeki itu tidak selalu di negeri orang. Kadang ia bersembunyi di tanah tempat kamu lahir, menunggu kamu mencangkulnya.”
Ia menghela napas panjang.
“Kaka pergi mencari emas di negeri orang, tapi emas sejatinya tumbuh di tanah sendiri.”
Pesan Moral:
Kisah dua bersaudara ini adalah cermin hidup ribuan anak muda di Nusa Tenggara Timur, yang meninggalkan tanah kelahiran demi harapan, tapi justru kehilangan dirinya di negeri orang. Menjadi pekerja ilegal di luar negeri bukan kebanggaan. Itu perjuangan pahit, hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tidur berpindah-pindah, tanpa status, tanpa jaminan.
Sementara mereka yang bertahan di kampung, menanam, merawat tanah, seringkali justru hidup lebih tenang dan bermartabat.
Merantau bukan salah, tapi melupakan tanah sendiri adalah kehilangan terbesar.
Dan pulang bukan selalu berarti kembali dengan uang, kadang pulang berarti kembali dengan kesadaran bahwa tanah dan keluarga adalah rumah sejati.
Ditulis oleh:
Irminus Deni
Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay
