Dijaga MUI, Diteguhkan RD Karlo: Paskah Centrum Timur Jadi Simbol Toleransi Nyata

Bengga Maunori Atalomba.com – Suasana penuh sukacita dan damai menyelimuti perayaan Misa Hari Raya Paskah 2026 di Kapela St. Paulus Bengga, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen iman bagi umat Katolik, tetapi juga menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama, dengan keterlibatan aktif Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Keo Tengah bersama Remaja Masjid Daja dan aparat keamanan.
Sejak rangkaian Tri Hari Suci yang dimulai pada Kamis Putih, dilanjutkan Jumat Agung, hingga puncaknya Minggu Paskah, unsur MUI dan pemuda Muslim setempat turut ambil bagian dalam pengamanan. Kehadiran mereka di sekitar kapela memberikan rasa aman sekaligus menegaskan bahwa semangat persaudaraan lintas iman tetap hidup dan terjaga di wilayah Keo Tengah.
Misa Paskah di Kapela St. Paulus Bengga dipimpin oleh RD. Karolus Lali Madur, yang akrab disapa RD Karlo. Dalam homilinya, ia mengajak umat untuk memaknai kebangkitan Kristus sebagai momentum pembaruan hidup yang nyata, bukan sekadar perayaan seremonial.
“Setelah semalam kita memperbarui janji, maka hari ini kita diajak untuk melihat kembali hidup kita. Apabila ada yang retak, mari kita tambal. Dan apabila ada yang robek, mari kita sulam kembali,” ungkapnya di hadapan umat.
Menurutnya, “retak” dalam kehidupan sering kali berawal dari hal-hal kecil, kesalahpahaman, kata-kata yang melukai, atau sikap acuh yang dibiarkan. Jika tidak segera diperbaiki, retak tersebut dapat berkembang menjadi “robek”, yakni konflik yang lebih besar dan merusak relasi.
“Menambal yang retak itu butuh kerendahan hati. Menyulam yang robek itu butuh kesabaran dan kasih. Tapi justru di situlah kita menghadirkan makna Paskah dalam hidup kita,” lanjutnya.
Dalam refleksi yang lebih mendalam, RD Karlo juga menyinggung kecenderungan umat yang sering memperbarui hal-hal lahiriah, namun melupakan pembaruan batin.
“Kita cepat sekali ‘update’ yang luar, pakaian baru, penampilan baru. Semua tampak meriah. Tapi hati? Masih versi lama. Masih simpan marah, iri hati, dan kebiasaan lama yang tidak baik,” ujarnya dengan nada reflektif.
Ia menegaskan bahwa kebangkitan Kristus harus menjadi titik balik bagi umat untuk benar-benar meninggalkan “ragi lama” dalam hidup, sebagaimana diingatkan dalam Kitab Suci.
“Kubur itu kosong. Jangan kita isi lagi dengan dosa yang sama. Kalau Kristus sudah bangkit, maka hidup kita juga harus mulai bangkit,” tegasnya.
Pesan ini terasa semakin kuat ketika dilihat dalam konteks nyata perayaan Paskah di Bengga. Kehadiran MUI dan Remaja Masjid Daja dalam pengamanan misa menjadi contoh konkret bagaimana “menyulam yang robek” dalam kehidupan sosial.
Di tengah berbagai perbedaan yang ada, masyarakat Bengga justru menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup berdampingan. Sebaliknya, perbedaan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan menjaga satu sama lain.
Keterlibatan generasi muda dalam hal ini juga menjadi harapan besar bagi masa depan toleransi. Remaja Masjid Daja tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai simbol bahwa nilai-nilai persaudaraan dapat diwariskan dan dipraktikkan sejak dini.
Perayaan Misa Paskah di Kapela St. Paulus Bengga akhirnya menjadi lebih dari sekadar ibadah. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas iman, tempat di mana pesan kasih dan kebangkitan tidak hanya didengar, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dengan suasana yang aman dan penuh kebersamaan, umat Katolik dapat merayakan Paskah dengan khidmat, sementara saudara-saudari Muslim turut berperan dalam menjaga kedamaian tersebut.
Di akhir homilinya, RD Karlo mengajak umat untuk berani mengambil langkah pertama dalam perubahan hidup. “Jangan tunggu sempurna baru berubah. Jangan tunggu semuanya jelas baru percaya. Mulailah dari sekarang. Tambal yang retak, sulam yang robek. Dari situlah hidup baru dimulai.”
Pesan itu seakan menjadi benang yang merangkai seluruh perayaan, bahwa kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi undangan untuk hidup baru, hari ini dan seterusnya.
Dan di Bengga, undangan itu telah dijawab, bukan hanya oleh umat yang beribadah, tetapi juga oleh mereka yang dengan tulus menjaga, melindungi, dan merawat kedamaian bersama. (AL/Irminus Deni)
