Nada yang Menjadi Doa: Pustardos Voice Takatunga di Misa Perdana RP Emanuel Mere, SVD

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Di lereng sejuk Bajawa, tepatnya di Ngurabolo, Paroki Laja, Kevikepan Bajawa, ada sekelompok orang yang telah dua puluh lima tahun menjaga harmoni antara iman dan budaya. Mereka menamai diri Pustardos Voice Takatunga suara yang bukan hanya terdengar, tetapi juga terasa di hati.
Kelompok ini bukan sekadar paduan suara; mereka adalah penjaga jiwa seni Flores, tempat nada dan gerak menjadi doa yang hidup. Dan pada Misa Perdana RP Emanuel Tredoanus Mere, SVD di Desa Witurombaua, Stasi St. Rafael Watunggegha, Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Romba, suara mereka kembali menggema, seolah menembus batas antara bumi dan langit.
Hari itu, umat memenuhi panggung lapangan Romba. Udara sore membawa aroma tanah basah dan wangi dupa. Namun lebih dari semua itu, yang membuat hati bergetar adalah ketika Pustardos Voice Takatunga memulai lagu pembuka.
Dari gong pertama yang bergema hingga lengking lembut foi, setiap nada membawa kisah panjang.
Mereka memadukan kulintang, foi, okalélé, gitar, bas, kajon, gendang, gong, dan keyboard, alat-alat dari dua dunia, tradisi dan modernitas.
Lalu, tanpa aba-aba, nyanyian berubah menjadi tarian. Gerak kaki menapak bumi, tangan menari di udara, mata menatap ke langit. Tarian khas Nagekeo dan Bajawa mengalun dalam irama misa, menghadirkan perjumpaan antara liturgi dan budaya. Umat diam. Sebagian menangis pelan. Karena apa yang mereka saksikan bukan sekadar penampilan, itu adalah peristiwa iman yang hidup.
Di balik harmoni yang megah itu, berdirilah Ibu Bernadetha Wea, pemimpin sekaligus ibu rohani bagi para anggota Pustardos Voice Takatunga. Sejak berdiri pada tahun 2000, dialah api yang tak pernah padam, menghidupkan semangat anggota agar tetap setia melayani lewat seni.
“Musik itu bukan panggung,” katanya suatu kali dengan nada lembut. “Musik adalah doa. Dan doa, kalau dinyanyikan dengan hati, bisa menyentuh surga.” Dua puluh lima tahun bukan waktu singkat. Tapi di tangan Bernadetha, kelompok ini bertahan melewati segala keterbatasan. Kadang berlatih di rumah umat, kadang di bawah pohon, kadang hanya dengan gitar dan gong seadanya. Namun suara mereka tak pernah pudar, karena yang mereka bawa bukan sekadar lagu, melainkan iman yang menari dalam nada.
Di antara suara dan alat musik itu, ada sosok muda yang menonjol, Mariana Dike, akrab disapa Rin.
Ia bukan hanya anggota kor, tapi juga dirigen yang menyalakan nyawa di setiap lagu. Dengan gerakan tangan yang halus namun tegas, ia menuntun teman-temannya dalam harmoni yang nyaris sempurna.
“Bagi kami, setiap alat musik punya roh,” kata Rin kepada Atalomba.com.
“Kulintang, gong, foi, gendang — semuanya punya cerita. Setiap kali kami bernyanyi dan menari, kami seperti memanggil kembali semangat leluhur untuk hadir bersama kami.”
Kata-kata Rin sederhana, tapi penuh makna. Ia tahu bahwa apa yang mereka lakukan bukan sekadar seni. Itu adalah cara menjaga warisan dan menyalurkan iman lewat budaya.
Momen paling indah dalam misa itu adalah ketika lagu persembahan dimulai. Kulintang mengetuk lembut, gong berdentum pelan, suara suling berpadu dalam aransemen yang menggetarkan.
Lalu tarian mengalir, langkah-langkah kecil namun bermakna besar.
Dalam setiap gerak, ada penghormatan kepada Tuhan. Dalam setiap nada, ada cinta untuk tanah sendiri.
Dan ketika RP Emanuel Yredoanus Mere, SVD, mengangkat roti dan piala di altar, semua terasa sempurna, iman dan budaya berdiri sejajar, saling menopang, saling memuliakan. Itulah wajah Gereja Katolik di Flores, Gereja yang bernyanyi dalam bahasa tanah sendiri.
Selama dua puluh lima tahun, Pustardos Voice Takatunga dari Ngurabolo, Paroki Laja, Kevikepan Bajawa, telah tampil di berbagai kesempatan. Tapi mereka selalu kembali ke panggilan semula, melayani Tuhan lewat musik. Mereka tidak mencari sorotan. Mereka mencari makna.
Kini, setelah penampilan di misa perdana RP Emanuel Tredoanus Mere, SVD nama mereka kembali dibicarakan. Bukan karena megahnya penampilan, tapi karena kejujuran dalam setiap nada. Di tengah dunia yang bising oleh musik instan dan penyanyi viral, kelompok ini menjadi pengingat bahwa seni sejati lahir dari ketulusan, bukan popularitas.
Saat misa usai dan umat beranjak pulang, gema gong masih terasa di dada. Anak-anak menirukan langkah tarian, orang tua menatap dengan bangga, dan langit Witurombaua tampak lebih lembut. Di antara tepuk tangan umat, Ibu Bernadetha Wea berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Selama masih ada yang mau bernyanyi dari hati, seni ini tidak akan mati,” katanya pelan.
Dan sore itu, di tanah yang sederhana, Pustardos Voice Takatunga telah membuktikan bahwa suara yang lahir dari hati di kampung bisa mengguncang langit. Mereka bukan hanya paduan suara. Mereka adalah suara bumi, suara iman, dan suara harapan yang tak pernah padam.
🟤 Atalomba.com
Menulis yang Tak Sekadar Dibaca, Tapi Dirasakan.
— Irminus Deni, Pemimpin Redaksi
