Dari Reinha Rosari ke Zaman Baru: Jejak Sejarah Para Uskup Larantuka dan Harapan Gereja pada Gembala Baru

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
LARANTUKA — Kota kecil di ujung timur Flores yang namanya nyaris tak pernah absen dari sejarah Katolik Indonesia, Gereja kembali berdiri di sebuah titik balik. Keuskupan Larantuka bersiap menahbiskan uskup baru, sebuah peristiwa iman yang bagi umat setempat bukan sekadar seremoni, melainkan momen menentukan arah Gereja di tengah perubahan zaman yang kian tak bisa dihindari.
Di tanah Reinha Rosari, tempat iman diwariskan lebih, lewat kesetiaan panjang daripada gegap gempita, setiap pergantian gembala selalu membawa pertanyaan mendasar, bagaimana Gereja tetap setia pada tradisi yang telah berusia ratusan tahun, tanpa kehilangan keberanian untuk menjawab tantangan masa depan.
Tahbisan uskup baru ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia lahir dari sejarah panjang, dari jejak para gembala sebelumnya yang menanam, merawat, menjaga, dan memperbarui Gereja Katolik di Larantuka, sebuah keuskupan yang bukan hanya penting secara lokal, tetapi juga memiliki bobot simbolik dalam perjalanan Gereja Katolik Indonesia.
Akar yang Dalam, Gereja Misi yang Bertumbuh dari Tanah Sendiri. Mgr. Gabriel Wilhelmus Manek, SVD (1951–1961) Merintis Gereja Lokal di Tengah Keterbatasan
Ketika Mgr. Gabriel Wilhelmus Manek, SVD, ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Larantuka pada tahun 1951, Gereja Katolik di wilayah ini masih sepenuhnya berwajah misi. Wilayah pastoral terbentang luas, dipisahkan oleh laut, gunung, dan pulau-pulau kecil. Transportasi terbatas, tenaga imam minim, dan fasilitas pastoral jauh dari memadai.
Mgr. Manek datang sebagai bagian dari generasi awal uskup pribumi Indonesia, sebuah simbol penting perubahan wajah Gereja. Ia tidak hanya memimpin umat, tetapi juga membawa pesan bahwa Gereja Katolik di Indonesia harus berakar di tanahnya sendiri.
Dalam keterbatasan, ia berkeliling dari paroki ke paroki, dari pulau ke pulau. Ia memperkuat peran katekis, mendorong lahirnya imam-imam lokal, dan menanamkan kesadaran bahwa umat bukan sekadar penerima pelayanan, tetapi subjek iman.
Meski tidak tercatat motto episkopalnya secara resmi, seluruh arah pelayanannya menyuarakan satu hal, kemandirian Gereja lokal. Fondasi inilah yang kemudian membuat Gereja Larantuka cukup kuat untuk melangkah ke fase berikutnya. Saat ia dipindahkan menjadi Uskup Agung Ende, jejak perintisannya tetap melekat dalam sejarah Larantuka.
Transisi Besar, Dari Vikariat ke Keuskupan. Mgr. Antoine Hubert Thijssen, SVD (1961–1973). Menata Gereja yang Baru Dewasa
Tahun 1961 menjadi tonggak penting. Larantuka resmi berstatus keuskupan. Perubahan ini membawa konsekuensi besar, Gereja tidak lagi sekadar bertahan sebagai wilayah misi, tetapi harus mengelola dirinya secara mandiri dan berkelanjutan.
Tugas berat itu diemban oleh Mgr. Antoine Hubert Thijssen, SVD. Jika Mgr. Manek adalah perintis, maka Mgr. Thijssen adalah penata. Ia bekerja dalam sunyi administrasi dan struktur. Fokusnya pada pembenahan tata kelola keuskupan, penguatan paroki, dan penyeragaman pelayanan pastoral. Gereja Larantuka mulai belajar tentang disiplin organisasi dan keberlanjutan institusional.
Masa kepemimpinannya mungkin tidak ditandai oleh gebrakan besar, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Ia meletakkan kerangka kerja yang memungkinkan Gereja berjalan stabil dalam jangka panjang.
Kesetiaan Panjang Seorang Gembala. Mgr. Darius Nggawa, SVD (1974–2004). Tiga Dekade Menjaga Gereja Tetap Teduh
Nama Mgr. Darius Nggawa, SVD, identik dengan stabilitas. Selama kurang lebih tiga dekade, ia menggembalakan Keuskupan Larantuka, sebuah masa kepemimpinan yang jarang terjadi dan penuh tantangan.
Ia memimpin Gereja melewati beberapa babak sejarah nasional, akhir Orde Lama, Orde Baru yang penuh kontrol, hingga awal Reformasi yang penuh gejolak. Dalam situasi sosial-politik yang sering berubah, Mgr. Darius memilih pendekatan pastoral yang tenang dan membumi.
Ia bukan tipe uskup yang gemar tampil di panggung nasional. Namun di tingkat akar rumput, kehadirannya terasa nyata. Ia menjaga Gereja tetap menjadi rumah yang teduh, tempat umat datang untuk berdoa, bukan untuk bertikai.
Di bawah kepemimpinannya, Gereja Larantuka bertumbuh secara perlahan namun kokoh. Paroki-paroki berkembang, pendidikan iman berjalan, dan relasi sosial dengan masyarakat tetap terjaga. Tanpa retorika besar, ia menunjukkan bahwa kesetiaan jangka panjang adalah bentuk pelayanan yang paling konkret.
Gereja yang Berani Berbicara ke Zaman. Mgr. Fransiskus Kopong Kung (2004–2025). Dari Altar ke Ruang Publik
Memasuki abad ke-21, Gereja Katolik di Larantuka menghadapi tantangan baru, globalisasi, arus informasi cepat, krisis lingkungan, kemiskinan struktural, serta tuntutan agar Gereja lebih hadir di ruang publik.
Mgr. Fransiskus Kopong Kung hadir dengan wajah pastoral yang kuat. Motto episkopalnya, “Aku ini hamba Tuhan” (Luk. 1:38), menjadi roh kepemimpinannya. Ia menempatkan Gereja sebagai pelayan, bukan menara gading.
Di bawah kepemimpinannya, Gereja Larantuka tidak hanya setia pada ritus, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Gereja mulai lebih berani bersuara tentang keadilan, kemanusiaan, dan keutuhan ciptaan. Semangat persatuan, “Supaya mereka semua bersatu, agar dunia percaya”, menjadi benang merah pelayanannya. Era ini menandai Gereja yang lebih dialogis, lebih terbuka, dan lebih sadar konteks zaman.
Profil Khusus Tahbisan. Mgr. Johannes Chrysostomos Berchmans Hanssen Monteiro. Membaca Tradisi, Menyongsong Masa Depan
Penunjukan Mgr. Johannes Chrysostomos Berchmans Hanssen Monteiro sebagai Uskup Larantuka menandai babak baru sejarah keuskupan ini. Ia datang dengan latar belakang akademik yang kuat, pengalaman lintas budaya, dan reputasi sebagai figur reflektif.
Ia tidak datang ke ruang kosong. Larantuka adalah keuskupan dengan tradisi iman yang sangat kuat. Semana Santa bukan sekadar perayaan liturgis, melainkan identitas kolektif umat. Tantangan terbesarnya bukan menjaga tradisi agar tetap hidup, tetapi menjaga agar tradisi tetap bermakna bagi generasi baru.
Di era digital, ketika perhatian umat, terutama kaum muda terbagi oleh banyak hal, Gereja dituntut untuk hadir dengan bahasa yang bisa dipahami tanpa kehilangan kedalaman iman. Di sinilah harapan besar diletakkan pada gembala baru ini.
Mgr. Hanssen Monteiro diharapkan mampu menjembatani iman tradisional dengan tantangan kontemporer, teknologi, pendidikan, kesadaran ekologis, dan isu kemanusiaan. Ia diharapkan menjadi uskup yang mau mendengar, berjalan bersama umat, dan berani mengambil arah. Menjelang tahbisan episkopalnya, harapan umat tidak melambung berlebihan, tetapi jujur dan realistis, hadirkan Gereja yang berpikir, beriman, dan peduli.
Kesinambungan yang Menyala
Pergantian uskup bukanlah garis putus sejarah. Ia adalah mata rantai dalam ziarah panjang iman. Dari Mgr. Manek hingga Mgr. Hanssen Monteiro, Keuskupan Larantuka bergerak dalam satu napas yang sama, kesetiaan pada Injil dan keberpihakan pada umat kecil.
Di tanah Reinha Rosari, iman tidak diwariskan lewat gegap gempita, tetapi lewat kesetiaan yang panjang, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan kini, sejarah itu kembali menulis bab baru. Tahbisan uskup baru bukan akhir cerita. Ia adalah awal tanggung jawab yang lebih besar, bagi seorang gembala dan bagi Gereja yang ia layani.
