Telepon Gelap di Balik Aksi Mahasiswa, “Upaya Membeli Diam PMKRI di Nagekeo”
Kisah Integritas yang Tak Bisa Diperdagangkan di Tengah Luka Agraria Nagekeo
Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com & Terra Nusa News.com
SUARA YANG MENGUSIK GELAP
Dalam sejarah panjang bangsa ini, suara mahasiswa selalu menjadi “gangguan” bagi mereka yang menikmati gelap sebagai ruang kerja. Suara yang jujur memang tidak pernah mudah diterima oleh mereka yang hidup dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di bawah sinar matahari.
Dan Nagekeo, tanah kecil yang indah di jantung Flores, kembali menjadi saksi bagaimana suara mahasiswa dijadikan musuh oleh orang-orang yang takut pada kebenaran. PMKRI Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco tidak melakukan kejahatan. Mereka tidak menyerang siapa pun. Mereka hanya melakukan satu hal yang dijamin konstitusi.
menyampaikan pendapat. Prosedurnya jelas. Bahasanya sopan. Isinya administratif. Surat pemberitahuan aksi mereka dikirimkan ke Polres Nagekeo. Sebuah surat biasa, tetapi rupanya membuat beberapa pihak merasa tidak biasa. Sebab setelah surat itu diterima, malam-malam di Ende menjadi panggung bagi percakapan gelap, telepon samar, dan tawaran yang baunya busuk bahkan sebelum kata-katanya selesai diucapkan.
SURAT RESMI YANG MEMBONGKAR KEGELISAHAN
Pada hari itu, PMKRI mengirimkan surat pemberitahuan aksi damai, sesuai undang-undang.
Tema aksinya sederhana, mengawal isu sosial dan meminta penegakan hukum yang adil. Tetapi surat itu rupanya memiliki efek samping tak terduga. Tidak butuh waktu lama setelah surat masuk ke Polres, telepon misterius mulai berdatangan.
Satu telepon. Dua telepon. Tiga telepon. Entah berapa banyak, karena semuanya memakai nomor berbeda. Bukan konfirmasi lokasi. Bukan koordinasi keamanan. Bukan pertanyaan prosedural. Isi teleponnya justru:
-
bujukan agar aksi dibatalkan,
-
tawaran “bantuan” tak jelas bentuknya,
-
ajakan bertemu di tempat tertentu,
-
kata-kata manis yang rasanya tidak pernah tulus,
-
dan kalimat yang paling sering diulang, “Kalau PMKRI butuh sesuatu, tinggal bilang.” Sebuah kalimat yang sudah sangat sering dipakai di banyak kasus pembungkaman.
Telepon ini bukan sekadar telepon. Ini adalah modus klasik. Ini adalah jalan belakang yang gelap.
Ini adalah cara-cara lama yang kembali dipakai oleh generasi baru tangan-tangan tak terlihat.
KRONOLOGI TELEPON MISTERIUS, JEJAK YANG TIDAK INGIN TERTINGGAL
Ketua PMKRI menerima telepon pertama malam hari, tidak lama setelah surat masuk. Nomornya tidak dikenal. Suaranya halus, terlalu halus untuk orang yang baru pertama kali menelepon. Pembukaannya sopan, terlalu sopan untuk seseorang yang tidak dikenali. Tetapi isi percakapannya memuakkan,
“Kami dengar PMKRI mau aksi. Kalau ada yang kalian butuh, bilang saja…”
Ketua PMKRI menahan diri. Ia mencoba netral. Tapi nada penelepon tidak berubah, mengalihkan, membujuk, mempengaruhi. Esok malam, telepon dari nomor lain. Polanya sama,
-
ajakan bertemu,
-
tawaran bantuan,
-
permintaan agar aksi dipertimbangkan ulang.
“Pertimbangkan ulang” bahasa yang tampak manis, tetapi di baliknya ada bayangan besar, ketakutan seseorang. Suara-suara itu tahu satu hal, ketika mahasiswa turun ke jalan, gelap akan terancam. Dan telepon terakhir lebih agresif,
“Kalau butuh sesuatu malam ini juga, kami bisa antar.”
Siapa pun di balik telepon itu berharap mahasiswa akan goyah. Bahwa mereka akan memandang aksi sebagai beban. Bahwa mereka akan memikirkan kenyamanan pribadi. Tetapi mereka salah.
MENTALITAS YANG MERENDAHKAN, SEOLAH-OLAH PMKRI BERGERAK KARENA PERUT
Yang menyakitkan dari upaya ini bukan teleponnya. Bukan rayuannya. Bukan nomor-nomor yang berganti. Yang lebih menyakitkan adalah cara pandang di balik semua itu.
Cara pandang bahwa PMKRI bisa dibeli. Bahwa idealisme bisa digadaikan. Bahwa perjuangan bisa diredam hanya dengan sedikit “bantuan.” Seolah-olah PMKRI bergerak karena lapar. Seolah-olah PMKRI turun aksi karena kekurangan. Seolah-olah kesulitan ekonomi bisa dijadikan alat pembungkam moral.
Ini penghinaan terselubung. Dan paling menyedihkan, ini adalah potret mentalitas sejumlah orang yang merasa bahwa semua orang bisa dibeli, karena mungkin hidup mereka sendiri selama ini dibeli.
KONTEKS BESAR, NAGEKEO, WADUK LAMBO, DAN LUKA AGRARIA
Untuk memahami mengapa telepon gelap itu muncul, kita harus melihat latarnya, Waduk Lambo.
Sebuah proyek besar. Sebuah konflik agraria panjang. Sebuah luka yang tidak pernah sembuh.
Di baliknya ada:
-
tanah adat,
-
hak masyarakat,
-
proses pengukuran yang dipersoalkan,
-
keterlibatan banyak pihak,
-
dan dugaan permainan yang rumit.
Isu agraria di Nagekeo bukan pertarungan kecil. Ini bukan konflik biasa. Ini konflik dengan sejarah panjang, perlawanan, dan luka batin rakyat. Ketika mahasiswa memilih menyuarakan persoalan ini, mereka tidak sedang mencari panggung. Mereka justru sedang berdiri bersama masyarakat yang selama ini tidak mampu bersuara. Dan di situlah masalahnya. Karena suara masyarakat adalah musuh utama mereka yang hidup dari kegelapan.
SIAPA YANG TAKUT PADA AKSI PMKRI?
Pertanyaan besar editorial ini bukan:
-
Siapa yang menelpon?
-
Dari institusi mana mereka?
-
Apa kepentingannya?
Karena tanpa menyebut nama pun, kita tahu, Orang yang paling ingin menghentikan aksi mahasiswa adalah orang yang paling takut pada kebenaran dari aksi itu. Telepon-telepon ini bukan telepon biasa.
Ini adalah alarm gelisah dari seseorang. Ini adalah tanda panik. Ini adalah upaya pemadaman sebelum api membesar.
Telepon tidak akan dibuat jika aksi itu dianggap tidak berbahaya. Telepon tidak akan muncul jika mahasiswa dianggap tidak penting. Artinya, Ada sesuatu dalam aksi PMKRI yang membuat mereka merinding. Dan itu, bagi kita semua, adalah petunjuk penting tentang sifat persoalan ini.
ANALISIS MOTIF, BUKAN TAKUT KERUSUHAN, TAPI TAKUT CAHAYA MENYINARI GELAP
Jika telepon itu benar-benar karena kekhawatiran terhadap keamanan, mereka bisa menyampaikan secara resmi. Ada prosedur. Ada protokol. Ada institusi. Tetapi telepon gelap bukan bahasa keamanan.
Telepon gelap adalah bahasa ketakutan. Ada dua hal yang biasanya ingin ditutupi oleh telepon gelap seperti ini:
- Kebenaran yang sudah terlalu lama disembunyikan
Aksi PMKRI bisa membuka jaringan, dugaan permainan, atau keberpihakan tertentu yang selama ini ditutup.
2. Kepentingan yang merasa terancam
Kepentingan ini tidak harus berupa uang. Bisa posisi. Bisa reputasi. Bisa kenyamanan. Siapa pun yang mencoba menghentikan suara PMKRI, sebenarnya sedang melindungi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar proyek.
INTEGRITAS PMKRI, HAL YANG TIDAK BISA DIPERDAGANGKAN
Yang membuat editorial ini harus ditulis adalah satu hal, PMKRI menolak. Tidak peduli apa yang ditawarkan. Tidak peduli dari siapa. Tidak peduli seberapa sering telepon masuk.
Jawabannya hanya satu, Tidak. Dan tidak itu bukan sekadar kata. Ia adalah tamparan moral bagi mereka yang percaya bahwa semua bisa dibeli. Ia adalah cahaya kecil di tengah ruangan gelap yang sudah lama tertutup. Ia adalah tanda bahwa negeri ini belum sepenuhnya kehilangan harapan. Karena masih ada yang memilih integritas.
SUARA YANG MENULAR, KETIKA SATU INTEGRITAS MENGGUGAH RATUSAN LAINNYA
Integritas itu seperti api. Ketika satu lilin menyala, gelap akan meredup. Hari ini PMKRI menolak suap.
Besok mungkin ada organisasi lain yang ikut berani. Lusa mungkin masyarakat yang selama ini takut akhirnya ikut berkata:
“Kami tidak bisa dibeli.”
Dan pada saat itu, telepon misterius tidak akan lagi membuat mahasiswa bingung. Justru telepon misterius itu akan menjadi bukti bahwa perlawanan berjalan di jalur yang benar. Karena pihak yang benar tidak perlu bersembunyi. Yang bersembunyi adalah mereka yang takut.
KALAU MEREKA MENELPON, ITU TANDA ANDA SEDANG MENDOBRAK TEMBOK YANG BENAR
Malam ketika telepon gelap itu masuk adalah malam yang memalukan bagi demokrasi. Tetapi sekaligus malam yang membanggakan bagi PMKRI dan mahasiswa Indonesia. PMKRI telah menunjukkan satu hal:
-
Kejujuran bukan barang lelang.
-
Perjuangan bukan barang dagangan.
-
Integritas bukan komoditas.
-
Kebenaran tidak bisa diperdagangkan.
Dan kepada siapa pun di balik telepon itu, yang menawarkan bantuan tidak diminta, yang berharap suara mahasiswa padam sebelum terdengar, yang mencoba membeli keheningan, “Anda salah alamat”.
Ini PMKRI. Ini bukan pasar gelap. Ini bukan rumah dagang. Ini bukan organisasi yang bisa ditawar dalam gelap. Dan kepada masyarakat Nagekeo, Jika ada yang takut pada PMKRI dan mahasiswa, itu berarti mahasiswa sedang berjalan di jalan yang benar.

