SAGKI 2025: Tumbuh Bersama dari Kota Pancasila ke Jalan Gereja yang Sinodal

Oleh: Irminus Deni
Peserta SAGKI 2025 – Perwakilan Keuskupan Agung Ende
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Ketika lonceng pagi berdentang di Ancol, Jakarta, pada tanggal 3 November 2025, saya menutup mata sejenak dan mengingat satu hal, saya datang ke sini membawa suara dari tanah Ende, kota kecil di tepian Laut Sawu, tempat Bung Karno merenung di bawah pohon sukun dan menyalakan gagasan besar bernama Pancasila.
Ende bukan kota biasa. Ia adalah Kota Pancasila, tempat iman dan kebangsaan pernah berpelukan. Di sana, Gereja tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga menanamkan cinta tanah air. Di sana pula, setiap misa adalah perayaan iman dan harapan — harapan untuk tumbuh bersama sebagai bangsa yang berkeadilan dan berperikemanusiaan.
Dan ketika saya berdiri di aula Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, saya tahu bahwa semangat Ende ikut hadir di sana. Semangat Pancasila yang lahir dari permenungan iman, dan semangat Kelimutu, danau tiga warna yang selalu berubah, seperti hati manusia yang terus diperbarui oleh Roh Kudus.
Gereja yang Belajar Berjalan Bersama
Tema SAGKI 2025, “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan. Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian”, bukan hanya semboyan pastoral. Ia adalah panggilan Roh untuk Gereja Indonesia di zaman yang sedang kehilangan arah.
Saya datang membawa cerita umat dari paroki-paroki di Keuskupan Agung Ende, umat yang sederhana, imam yang setia di pedalaman, biarawati yang terus menyalakan lilin kecil di tengah gelapnya dunia. Mereka semua berjalan, bukan di atas jalan aspal yang mulus, tetapi di jalan tanah yang berdebu, berlumpur, dan panjang.
Mereka berjalan bukan karena tahu akhir perjalanannya, tetapi karena percaya bahwa Tuhan menyertai langkah-langkah kecil mereka. Dan itulah sinodalitas yang sejati bukan teori, tetapi gerak kasih yang konkret.
Di ruang sidang SAGKI, saya mendengar banyak kata besar sinodalitas, misi, ekologi, perdamaian. Tapi di hati saya, satu kata bergema lebih kuat, kebersamaan. Sebab tanpa kebersamaan, semua visi Gereja tinggal wacana.
Dari Aula Ancol ke Lereng Kelimutu
Ketika SAGKI berbicara tentang Gereja yang berjalan bersama, saya teringat tanah Ende, tanah yang menyimpan simbol-simbol spiritual dan kebangsaan.
Di lereng Gunung Kelimutu, tiga danau berwarna berbeda hidup berdampingan. Warna mereka berubah, tapi mereka tidak pernah bertabrakan. Mereka berbeda, tapi tetap satu. Bukankah itu simbol paling indah tentang Gereja dan Indonesia? Kita semua berbeda, tapi dipanggil untuk hidup dalam kesatuan. Kita semua punya warna, tapi dijiwai oleh satu Roh.
Sama seperti Kelimutu, Gereja juga punya banyak wajah, imam dan awam, religius dan awam, muda dan tua, Jawa dan Flores, kota dan desa. Tapi jika Roh yang sama bekerja di dalamnya, perbedaan itu justru menjadi keindahan. Itulah makna sinodalitas yang saya bawa pulang dari SAGKI 2025, bukan menyeragamkan warna, tapi merayakan keberagaman dalam kasih yang sama.
Gereja Sinodal, Gereja yang Mau Mendengar
Selama sidang berlangsung, saya merenungkan satu hal sederhana tapi penting, Gereja tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar. Mendengar bukan hanya mendengarkan kata-kata, tetapi juga diam bersama luka. Mendengar berarti menahan diri untuk tidak selalu merasa paling tahu.
dalam kebersamaan diperjalanan salah Seorang tim kami dari Ende berkata,
“Gereja itu indah karena mau mendengarkan tangisan orang kecil.”
Kalimat itu saya bawa ke ruang SAGKI, dan saya yakin, Gereja yang sinodal adalah Gereja yang mau mendengarkan suara dari bawah, suara petani yang kehilangan lahan, suara nelayan yang kehilangan laut, suara anak muda yang kehilangan arah, dan suara bumi yang kehilangan keseimbangan. Jika Gereja mau mendengarkan, maka Roh Kudus akan berbicara melalui mereka. Sebab Roh tidak hanya berbicara lewat altar, tapi juga lewat kehidupan umat.
Misi, Cinta yang Bergerak
SAGKI mengingatkan kita bahwa Gereja sinodal bukan Gereja yang hanya berjalan bersama, tapi juga bergerak ke luar. Menjadi misioner berarti pergi, bukan hanya ke tempat jauh, tapi juga ke hati yang jauh dari kasih. Misi berarti membawa terang, tapi bukan dengan cahaya yang menyilaukan; melainkan dengan kehangatan yang menyembuhkan.
Saya teringat pesan Paus Fransiskus yang dikutip dalam sidang:
“Lebih baik Gereja yang terluka karena keluar ke jalan, daripada Gereja yang sakit karena tertutup di dalam dirinya sendiri.”
Dan jalan itu di Ende, di Nagekeo, di Bajawa dan seluruh Flores, sering bukan jalan yang nyaman. Tapi justru di sana, kasih menjadi nyata. Gereja yang mau berjalan di jalan itu akan menemukan Kristus yang sedang memikul salib bersama umat-Nya.
Dari Pancasila ke Ekaristi
Salah satu renungan terdalam saya di SAGKI 2025 adalah betapa eratnya hubungan antara iman dan kebangsaan. Ende telah mengajarkan kita bahwa iman yang murni justru melahirkan cinta pada tanah air. Bung Karno menemukan Pancasila bukan di ruang politik, tapi dalam permenungan iman dan perjumpaan dengan para Gembala Umat dan rakyat kecil.
Dan di sinilah Gereja harus menatap diri, apakah kita masih menjadi garam dan terang bagi bangsa?
Apakah kita berani menyalakan semangat Pancasila bukan hanya di pidato, tapi di tindakan dengan membela keadilan, menolak korupsi, dan menjaga martabat manusia?
Ekaristi yang kita rayakan setiap minggu seharusnya menjelma menjadi tindakan konkret setiap hari, menjadi roti bagi yang lapar, menjadi kehadiran bagi yang sepi, menjadi pengharapan bagi yang putus asa. SAGKI mengajak Gereja untuk kembali ke akar itu, bahwa iman tanpa karya kasih hanyalah ritus tanpa ruh.
Gereja yang Tumbuh di Tanah Penuh Luka
Gereja Indonesia tidak hidup di ruang steril. Ia tumbuh di tengah luka bangsa, ketimpangan, eksploitasi, migrasi, dan krisis ekologis. Tapi justru di tanah yang terluka itu Gereja dipanggil menjadi penyembuh. Ende, yang kita banggakan sebagai Kota Pancasila, juga menanggung luka-luka itu, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan anak muda yang meninggalkan tanah sendiri demi mencari hidup yang lebih baik.
Namun di tengah luka itu, Gereja tetap menjadi tempat di mana harapan bertumbuh. Saya melihat bagaimana umat di pedalaman Keuskupan Agung Ende, tetap setia membangun kapela dengan tangan sendiri. Saya mendengar bagaimana suster-suster di Keuskupan Agung ende, menanam pohon di lahan kering sebagai doa untuk bumi. Saya menyaksikan imam-imam muda berjalan kaki menyeberangi sungai untuk membawa sakramen kepada yang sakit. Mereka semua adalah wajah Gereja yang hidup, Gereja yang tidak menyerah pada kegelapan.
Gereja yang Menyala dari Dalam
SAGKI 2025 menegaskan bahwa Gereja yang sejati bukanlah yang kuat secara struktur, tapi yang menyala secara spiritual. Roh Kudus bukan bekerja lewat megahnya gedung, tapi lewat ketulusan hati.
Kita sering sibuk memperbaiki sistem, tapi lupa memperbarui semangat. Kita bisa membangun pusat kota yang megah, tapi kalau hati kita dingin, semua tak berarti. Di akhir sidang, ketika lagu Doa Gereja Indonesia dinyanyikan, saya menunduk dan berdoa dalam diam:
“Tuhan, jadikan Gereja-Mu di Indonesia terang kecil yang tak pernah padam.”
Dan saya percaya, api kecil itu menyala di banyak tempat. Di altar sederhana, sekolah di desa, di ladang petani, di ruang jurnalisme lokal seperti Atalomba.com yang terus menyuarakan suara nurani dari Timur Indonesia. Api kecil itulah Gereja sejati. Ia tidak selalu besar, tapi cukup hangat untuk menyalakan kembali ketika hati terasa lelah.
Gereja dan Alam
Salah satu refleksi terindah yang saya bawa dari tanah Ende adalah pelajaran dari Danau Kelimutu.
Tiga danau itu selalu berubah warna, tapi tidak pernah kehilangan keindahan. Kita juga demikian, hidup berubah, Gereja berubah, dunia berubah. Tapi kasih Allah tetap sama. Kelimutu mengajarkan kita bahwa perubahan bukan tanda kehilangan, tapi tanda kehidupan.
Begitu juga dengan Gereja, selama kita mau terus diperbarui oleh Roh Kudus, Gereja tidak akan mati. Ia akan terus menemukan warna baru, cara baru, dan jalan baru untuk mengasihi dunia. Kelimutu bukan sekadar destinasi wisata, ia adalah katedral alam. Dan di sana, setiap embun pagi yang jatuh di kawahnya seperti bisikan lembut Roh Kudus, “Bangunlah, Gereja-Ku, dan berjalanlah bersama dunia.”
Harapan dari Timur untuk Gereja Indonesia
SAGKI 2025 telah berakhir, tapi perjalanan kita baru dimulai. Dan dari ujung timur, dari Ende, dari Nagekeo, dari Bajwa dan dari Flores, saya percaya akan tumbuh harapan baru bagi Gereja Indonesia.
Kita punya umat yang tangguh, iman yang hidup, dan tradisi yang kuat. Kita punya anak-anak muda yang berani bermimpi dan melayani. Kita punya warisan rohani yang lahir dari persilangan iman dan kebangsaan. Maka tugas kita bukan menunggu petunjuk dari atas, tapi menyalakan api dari bawah.
Dari KUB, dari lingkungan, dari Stasi dari desa dan dari altar keluarga. Sebab Gereja yang besar lahir dari umat yang kecil tapi setia.
Penutup Gereja yang Tumbuh Bersama
Saya menutup catatan ini dengan keyakinan yang lahir dari perjalanan iman, Bahwa Gereja tidak tumbuh karena banyaknya program, tapi karena banyaknya kasih. Bahwa Gereja tidak maju karena kuat, tapi karena setia. Dan bahwa Gereja akan selalu indah, seperti Kelimutu, selama kita mau berjalan bersama, saling mendengarkan, dan terus berharap. Dari Kota Pancasila yang damai, dari tanah pariwisata terindah Danau Tiga Warna Kelimutu, saya membawa satu pesan kecil bagi Gereja Indonesia:
Berjalanlah bersama, tumbuhlah dalam kasih, dan biarkan harapan menjadi warna abadi di setiap langkah Gereja.
🕊️ Irminus Deni
Peserta SAGKI 2025 – Perwakilan Keuskupan Agung Ende
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
