Jenazah Kristina Dipikul 2 Kilometer: Tangis Sunyi dari Boamau, Keo Tengah

Desa Mbari, Keo Tengah Kabupaten Nagekeo – Atalomba.com – Fajar belum sempurna merekah. Awan abu dan langit lembap masih menyelimuti kaki Keo Tengah ketika suara isak tangis pecah dari sebuah mobil ambulans yang berhenti di Puuembu, Desa Wajo. Di dalamnya, terbujur jenazah kecil. Seorang anak perempuan berusia 4 tahun, Kristina Safira Mbupu. Putri kecil ini telah menutup mata selamanya, meninggalkan dunia dalam diam setelah perjuangan hidup yang begitu singkat dan sunyi.
Jenazah Kristina tidak langsung bisa dibawa pulang ke rumahnya di Kampung Boamau, Desa Mbaenuamuri. Alasannya begitu pilu dan tidak masuk akal untuk ukuran zaman ini, jalan menuju kampungnya rusak parah, tak bisa dilewati kendaraan roda empat, bahkan ambulans sekali pun tidak bisa lewat.
Maka pagi itu, masyarakat setempat, bapak-bapak, pemuda, dan saudara-saudaranya, bahu-membahu mengangkat jenazah Kristina. Di atas peti jenazah, mereka memikul jenazah itu melewati jalan setapak yang berlumpur, menanjak, menurun, dan berlubang sejauh 2 kilometer. Sebuah perjalanan yang seharusnya tidak perlu ada di negeri yang konon menjunjung tinggi keadilan sosial.
“Kami tidak punya pilihan,” ujar Sebastianus Roga, tokoh muda kampung Boamau kepada atalomba.com mengatakan. “Kalau menunggu jalan diperbaiki, Kristina sudah membusuk. Maka kami memikulnya. Kami tidak ingin ia terlantar bahkan setelah mati.”
Peristiwa tragis ini bukan yang pertama terjadi di wilayah Boamau. Warga sudah berkali-kali mengeluhkan kondisi akses jalan yang tak layak, namun suara mereka seakan tak pernah sampai ke telinga para pemangku kebijakan. “Dari dulu kalau ada orang sakit parah, kami harus gotong ke Puuembu. Kadang pakai roda dua, tapi itu pun harus bonceng tiga orang untuk menahan pasien agar tidak jatuh,” lanjut Sebastianus dengan nada getir.
Pada malam-malam gelap tanpa penerangan, warga harus bertaruh nyawa hanya untuk mencari pertolongan medis. Jika tidak ditandu, pasien digendong. Jika tidak ada tandu, kadang hanya beralaskan kain sarung.
Jalan rusak sepanjang dua kilometer menuju Boamau bukan hanya hambatan fisik. Ia adalah simbol keterasingan, ketidak pedulian, dan kegagalan kebijakan publik di daerah-daerah terpencil. “Kami ini bukan hantu. Kami ini warga negara Indonesia. Kami juga bayar pajak,” tambah Hermanus Mbusa, tokoh adat Lembaga Pelindung Adat (LPA) Desa Mbaenuamuri.
Warga kampung bahkan sudah berinisiatif mengumpulkan dana secara swadaya untuk membeli semen dan memperbaiki sebagian jalan dengan tenaga sendiri. Tapi seperti menimba air di pasir, usaha mereka sering habis sebelum tuntas. “Kami hanya bisa perbaiki untuk motor. Kalau mobil? Lupakan saja,” ujar Hermanus.
Kristina menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Aeramo pukul 04.00 dini hari. Orang tuanya sudah mencoba segala cara. Mereka membawanya turun dari kampung ke Puuembu, lalu naik mobil ke rumah sakit. Tapi waktu tidak bisa disogok. Ia kalah cepat oleh sistem yang lamban, oleh jalan yang tak kunjung diperhatikan. “Kalau jalannya bagus, mungkin Kristina masih bisa tertolong,” ujar ayahnya pelan, tanpa dendam, hanya menyimpan luka yang dalam. Air mata sang ibu tumpah saat melihat anaknya digotong. Bukan karena malu, tetapi karena perih melihat anaknya dipikul dari jalan raya menuju ke kampungnya.
Ironisnya, kejadian ini berlangsung di saat gembar-gembor pembangunan desa terus digalakkan. Dana desa digelontorkan setiap tahun. Rapat-rapat musrenbang dilangsungkan dengan wajah-wajah pejabat yang datang dan pergi. Tapi di Boamau, suara rakyat masih seperti nyanyian burung di tengah rimba – merdu tapi tak terdengar.
“Akses jalan ini bukan hanya penting untuk mobil, tapi juga untuk harapan hidup. Kita bicara soal nyawa!” seru Sebastianus dengan suara meninggi saat berbicara di depan warga.
Sebagai bentuk solidaritas, para pemuda kampung sudah berencana membuat petisi online dan surat terbuka kepada Bupati Nagekeo. Mereka juga berencana membuat video dokumenter tentang jalan rusak dan menyebarkannya lewat media sosial. “Kita tidak boleh diam. Kristina tidak boleh mati sia-sia,” ujar seorang pemuda sambil menggenggam telepon selulernya, memutar video detik-detik tandu jenazah Kristina dibawa melintasi bebatuan.
Warga Desa Mbaenuamuri tidak meminta jalan tol. Mereka tidak meminta jembatan gantung yang mentereng. Mereka hanya ingin anak-anak mereka bisa sekolah tanpa harus jatuh di lumpur. Mereka ingin orang tua mereka bisa ke puskesmas tanpa harus digendong. Mereka ingin ketika ada warga meninggal, setidaknya mobil jenazah bisa sampai ke rumah, bukan hanya sampai di batas desa.
“Kalau semua hanya diserahkan ke dana desa, tidak cukup. Kita butuh intervensi pemerintah kabupaten bahkan provinsi. Akses ini bukan jalan kecil, ini nadi utama kehidupan desa,” kata Hermanus Mbusa.
Kristina menjadi simbol. Bukan hanya dari kesedihan, tetapi juga dari perlawanan diam warga yang selama ini terabaikan. Jenazah Kristina telah ditandu oleh rakyatnya sendiri. Tapi hari ini, mereka menuntut lebih, agar tanggung jawab pemerintah tidak berhenti di papan proyek dan janji-janji kosong. Mereka ingin jalan dibangun, bukan karena belas kasihan, tapi karena hak sebagai warga negara. Dan kepada Kristina, maafkan kami. Negeri ini masih belajar berjalan di atas luka. Semoga di dunia yang baru, kau bisa berlari bebas, tanpa lubang, tanpa lumpur, tanpa harus dipanggul dalam sunyi. (AL/Irminus Deni)
