“Keheningan yang Bersinar: Orang Muda Katolik dan Umat Paroki Mundemi Berduka Untuk Paus Fransiskus”

Mundemi, atalomba.com — Suasana hening, penuh doa dan duka menyelimuti halaman Gereja St. Mikael Mundemi pada Jumat malam. Umat Katolik bersama Orang Muda Katolik (OMK) menggelar Misa Requiem dan Aksi Seribu Lilin sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi Paus Fransiskus, yang telah berpulang ke hadirat Bapa di surga.
Perayaan misa dimulai pukul 18.30 WITA, dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, RD. Seferinus Meno. Umat hadir dengan lilin di tangan, sebagian membawa sendiri dan sebagian disiapkan oleh OMK yang menginisiasi kegiatan ini. Seusai misa, seluruh umat bergabung dalam aksi seribu lilin, membentuk lingkaran doa yang sarat makna di halaman gereja.
Dalam keheningan yang dalam, umat menyalakan lilin, satu persatu, hingga terbentuk lautan cahaya bertuliskan “We Love Pope Francis”. Seribu lilin yang menyala menjadi simbol cinta, penghormatan, dan doa dari umat Mundemi untuk Paus Fransiskus — Paus yang dikenal rendah hati, berpihak kepada kaum kecil, dan pecinta seluruh ciptaan Tuhan.
Dalam keterangannya kepada media, RD. Seferinus Meno menyampaikan,
“Terlepas dari suasana Paskah yang seharusnya dipenuhi kegembiraan atas kebangkitan Kristus, kita dikejutkan dengan kabar duka mendalam ini. Kepergian Bapa Paus Fransiskus membuat seisi dunia berduka. Atas nama seluruh umat Paroki St. Mikael Mundemi, kami mengucapkan belasungkawa yang paling dalam.”
Lebih lanjut, RD. Seferinus menekankan bahwa aksi seribu lilin ini adalah peristiwa iman yang kuat, inisiatif mulia dari Orang Muda Katolik yang disambut antusias oleh seluruh umat.
“Ini bukan hanya sekadar aksi, tetapi wujud cinta umat kepada Gembala Agung Gereja yang sepanjang hidupnya memperjuangkan damai, kasih, dan keadilan,” pungkasnya.
Emil Embu, salah satu senior Orang Muda Katolik Stasi Mundemi, juga turut berbagi refleksinya,
“Peristiwa malam ini mengingatkan kita semua akan sosok Paus Fransiskus, Paus yang penuh cinta pada kaum kecil, sederhana, serta membawa pesan ekologis yang kuat: bahwa seluruh ciptaan Tuhan harus kita cintai dan rawat,” ujar Emil.
Bagi umat Mundemi, Paus Fransiskus bukan sekadar pemimpin Gereja Katolik dunia, tetapi teladan nyata kerendahan hati, kepedulian sosial, dan keberanian di tengah perubahan zaman.
Aksi seribu lilin ini, dalam diamnya, mengajarkan sebuah pesan yang kuat: bahwa kasih, doa, dan kenangan akan Paus Fransiskus akan terus hidup dalam hati umat, menyinari jalan Gereja dan dunia.
Suasana terasa begitu menyentuh. Di tengah nyala lilin yang berpendar lembut, banyak umat yang juga mempersembahkan doa-doa pribadi, mencurahkan kerinduan dan harapan ke hadapan Tuhan. Malam itu, di bawah langit Mundemi, seribu lilin menjadi saksi bisu dari cinta tak terhingga kepada seorang Paus yang telah mengubah dunia dengan kerendahan hati dan ketulusan kasih. Selamat jalan, Bapa Suci Paus Fransiskus. Cahaya iman dan kasihmu akan selalu hidup di hati kami. (AL/Irminus Deni)
