Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang dan Karang Taruna Desa Witurombaua Kerja Sama Meriahkan HUT RI ke-80
Agustusan Tak Harus Glamor – Di Witurombaua, Cukup Lomba, Tawa, dan Bambu Berbendera Merah Putih

Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong!
Oleh Irminus Deni
Di atas tanah yang ditiup angin Laut dan disirami matahari Nagekeo bagian selatan, Desa Witurombaua kembali menyusun rencana sederhana namun berarti, merayakan ulang tahun ke-80 Republik Indonesia dengan semangat gotong royong dan kreativitas kampung.
Tak ada panggung megah. Tak ada artis ibu kota. Tapi jangan salah di desa ini, semangat kemerdekaan justru terasa lebih nyata. Dan tahun ini, ada dua kekuatan yang bersatu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang yang sedang menjalankan KKN, dan Karang Taruna Desa Witurombaua.
Bersama-sama, mereka akan memfasilitasi dan merancang rangkaian lomba, hiburan, dan aksi sosial sederhana, demi satu tujuan mulia, membawa kembali keceriaan, persatuan, dan tawa rakyat di bulan Agustus.
Dari Lomba ke Kebersamaan
“Ini momentum,” ujar Kris Kese, Ketua Karang Taruna Desa Witurombaua.
Kalimat pendek itu lahir dari realitas. Kris dan teman-temannya paham betul bahwa di tengah tekanan ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dan hidup yang kadang seperti lomba tarik tambang dengan nasib, masyarakat butuh ruang bernapas. Dan bulan Agustus adalah salah satu napas itu.
“Melihat kondisi masyarakat kita, kegiatan seperti ini menjadi hiburan tersendiri dalam rangka HUT RI ke-80. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan teman-teman mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Kupang. Saya dan teman-teman Karang Taruna hanya memfasilitasi. Sementara jenis dan bentuk lomba kami serahkan sepenuhnya kepada teman-teman mahasiswa KKN,” lanjut Kris, kepada Atalomba.com melalui sambungan seluler, yang mencerminkan harapan besar.
Dukungan Pemerintah Desa
Tak hanya Karang Taruna dan mahasiswa, dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa. Sekretaris Desa Witurombaua, Zakarias Ndiwa, juga angkat bicara dan menyampaikan semangat yang sama.
“Pada prinsipnya kami sangat mendukung kegiatan ini, dan kami menyampaikan terima kasih kepada Karang Taruna Desa Witurombaua dan mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Kupang yang bersedia menghibur masyarakat dalam rangka HUT RI ke-80,” tegasnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya sekadar seru-seruan. Ia adalah bagian dari proses membangun kebersamaan, rasa memiliki desa, dan semangat nasionalisme di akar rumput. Pemerintah Desa, kata Sekdes, siap mem-backup penuh demi kesuksesan acara.
Agustusan Tak Harus Mahal
Warga desa tahu diri. Mereka tidak punya anggaran seperti kota. Tapi mereka punya yang kota sering lupakan, kekompakan dan kreativitas. Ada lomba balap karung, tarik tambang, panjat pinang, estafet air pakai batok kelapa, lomba makan kerupuk sambil jongkok, bahkan fashion show ala petani. Yang jadi hadiah? Ya seadanya. Sabun mandi, minyak goreng, biskuit. Tapi hadiahnya bukan itu. Hadiah sesungguhnya adalah tawa yang menular, rasa saling kenal antarwarga, dan anak-anak yang pulang dengan pipi merah karena tertawa seharian.
Mahasiswa Bukan Tamu, Tapi Bagian dari Warga
Sejak tiba di Witurombaua akhir Juli lalu, sebanyak 24 mahasiswa lintas jurusan dari Universitas Muhammadiyah Kupang sudah menyatu dengan warga. Mereka tinggal di rumah, ikut kerja bakti, ikut senam bersama lansia, mengajar anak-anak di SDK Romba dan SDN Mauara, dan mendampingi ibu-ibu kader untuk menangani dan mendata kasus stunting.
Kini, dengan HUT RI ke-80, mahasiswa KKN menambah satu babak baru dalam pengabdiannya, menggerakkan rakyat untuk merayakan kemerdekaan dengan semangat yang hidup.
“Kami datang bukan hanya untuk belajar dari buku, tapi untuk belajar dari kehidupan,” kata salah satu mahasiswa.
Dari Desa untuk Indonesia
Witurombaua mungkin hanya satu titik kecil di peta Nusa Tenggara Timur. Tapi dari titik kecil itu, semangat besar sedang dibangun. Ada persiapan panitia. Ada rumah-rumah yang memasang bendera. Ada yang bikin gapura dari bambu dan daun kelapa. Ada bapak-bapak yang sedang gali lubang untuk tiang bendera sambil cerita soal masa kecil mereka ikut lomba zaman Orde Baru.
Di desa ini, kemerdekaan bukan tema seminar, tapi cerita sehari-hari yang diulang tiap Agustus, cerita tentang bagaimana rakyat tetap bertahan, tetap tersenyum, dan tetap bergandengan tangan meski dunia luar sering lupa bahwa mereka ada.
Bukan Sekadar Merdeka
Agustusan di Witurombaua bukan soal nostalgia. Tapi tentang membangun harapan baru di tengah tantangan zaman. Di saat banyak desa kehilangan identitas karena sibuk mengejar modernitas, Witurombaua justru menemukan jati dirinya dalam kesederhanaan.
Mereka tahu, kemerdekaan hari ini bukan lagi melawan penjajah bersenjata, tapi penjajah yang tak kasat mata, kemiskinan, ketimpangan, pengabaian, dan penggerusan nilai-nilai gotong royong.
Dan lewat kerja sama antara kampus dan desa, antara muda dan tua, antara yang datang belajar dan yang membuka rumah, merdeka kembali punya arti yang lebih dalam.
Mari Rayakan, Mari Terlibat
Untuk seluruh warga Desa Witurombaua dan sekitarnya, inilah panggilan untuk berpesta kecil tapi penuh makna. Bawa semangatmu, tawa anak-anakmu, dan bendera merah putihmu, meski hanya terbuat dari kain bekas dan bambu kampung.
Karena seperti kata orang bijak dari dapur:
“Merah putih bukan soal kain dan tiang. Tapi soal hati yang tetap mencintai negeri meski hidup kadang susah payah.”
