Daniel Turot: Dari Maybrat ke Ende, Dari Mimpi ke Mandat Perjuangan

Oleh Irminus Deni – Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Di bawah langit Ende yang teduh pada 7 Oktober 2025, ketika lonceng senja dari Gereja Santo Yosef, Onekore berdentang pelan, seorang anak muda berdiri tegak di tengah ruang sidang yang baru saja menutup babak panjang Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC). Namanya Daniel Sakof Turot, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Flores, dan anak asal Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, yang kini resmi mengemban amanah besar sebagai Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende St. Yohanes Don Bosco periode 2025–2026.
Ia terpilih secara sah sebagai Mandataris Formatur Tunggal RUAC, melalui Surat Ketetapan Nomor: 07/TAP/PMKRI-RUAC/I-F/X/2025. Tepuk tangan panjang menyambutnya malam itu. Bukan hanya sebagai bentuk penghormatan, tapi pengakuan atas perjalanan seorang kader muda yang ditempa dari jauh, dari tanah penuh sunyi di timur, menuju ruang diskusi keras di Ende.
“Jangan tidur sebelum orang lain tidur, bangun duluan sebelum orang lain bangun.”
Daniel Sakof Turot
Kalimat itu bukan sekadar motto, tapi napas hidup yang ia bawa sejak hari pertama menginjakkan kaki di tanah Flores.
Langkah Panjang dari Maybrat
Daniel lahir pada 29 Juli 2002 di Maybrat, tanah yang keras tapi memelihara jiwa-jiwa yang kuat. Di kampung halamannya, setiap pagi adalah perjuangan, setiap sore adalah pelajaran tentang keteguhan.
Tahun 2021 menjadi awal petualangan baru, Daniel meninggalkan Papua untuk kuliah di Universitas Flores (UNIFLOR) setelah memperoleh beasiswa Afirmasi. Ia datang bukan hanya membawa ransel dan ijazah, tapi juga harapan keluarga dan tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa anak Papua mampu bersaing dan memimpin di mana pun ia berada.
“Beasiswa itu bukan tiket untuk kuliah santai,” katanya suatu sore di Margasiswa PMKRI Ende.
“Bagi saya, itu mandat. Mandat untuk belajar keras dan menunjukkan bahwa Papua punya banyak anak muda yang siap memimpin.”
Belajar Memimpin dari Ruang Kecil
Awalnya Daniel hanya ingin kuliah dan berorganisasi secukupnya. Namun semesta punya rencana lain.
Di kampus hukum, ia cepat dikenal sebagai mahasiswa yang berani bicara dan disiplin. Tak butuh waktu lama, ia dipercaya menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Papua (HMP) UNIFLOR periode 2021–2022.
Lalu pada tahun 2024, ia kembali memimpin, kali ini sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum dan juga Presidium Pendidikan dan Kaderisasi PMKRI Cabang Ende. Bagi Daniel, organisasi bukan tempat mencari panggung, tapi ruang belajar tentang nilai-nilai pelayanan.
“Saya belajar bahwa menjadi pemimpin berarti siap lelah lebih dulu,” ujarnya. “Kepemimpinan bukan soal jabatan, tapi soal kesiapan untuk bangun ketika yang lain masih tertidur.”
RUAC yang Panjang dan Penuh Dinamika
Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC) PMKRI Cabang Ende yang berlangsung empat hari – dari 4 hingga 7 Oktober 2025, menjadi panggung besar dinamika dan gagasan. Ruangan Margasiswa penuh sesak dengan semangat muda, debat panjang, dan tawa yang kadang menegang.
Ketua Panitia Ad-Hock, Theofilus Ledhi (Kevin), menggambarkan RUAC kali ini sebagai sidang yang keras tapi sehat. “ RUAC berjalan dengan baik walaupun sedikit alot dengan dinamika-dinamika yang dibangun oleh peserta,” ujarnya. “Namun saya bersama sekretaris dan anggota sidang dapat melaksanakan agenda sidang sampai selesai.”
Di antara deru diskusi dan suara palu sidang, nama Daniel perlahan mencuat. Ia tak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya tajam dan terukur. Ketenangannya menghadapi perdebatan, kesiapannya mendengarkan pandangan berbeda, membuat banyak peserta akhirnya yakin, pemimpin berikutnya telah ditemukan.
Pidato dari Seorang Anak Timur
Malam itu, ketika palu sidang diserahkan kepadanya, Daniel berdiri di depan mimbar sederhana.
Suasana hening. Semua mata tertuju padanya. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada yang tegas namun lembut:
“Saya ucapkan terima kasih kepada segenap peserta sidang yang telah memilih saya sebagai Mandataris RUAC Formatur Tunggal Ketua Presidium PMKRI Cabang Ende periode 2025–2026. Saya mohon kerja sama kita semua agar apa yang dirumuskan dalam RUAC dapat dijalankan. Saya juga mohon dukungan moril dan materil dari semua pihak agar kepemimpinan ini dapat berjalan dengan baik.”
Pidato itu singkat, tapi berisi komitmen yang besar. Ia menegaskan arah kepemimpinannya akan fokus pada dua isu penting, ekologi dan korupsi, dua luka besar yang mencederai masyarakat Indonesia, termasuk di NTT dan Papua.
“Sebagai organisasi yang berdiri sejak 25 Mei 1947 di Yogyakarta, PMKRI memiliki fondasi kuat untuk merespon isu-isu sosial, politik, dan lingkungan. Di masa kepemimpinan saya, kita akan menegaskan kembali keberpihakan kita pada kaum tertindas,” ujarnya mantap.
Pesan dari Ketua Demisioner
Ketua Demisioner PMKRI Cabang Ende, Marselinus Erlan Leu, menyambut hasil RUAC itu dengan bijak. Ia menyampaikan selamat kepada Daniel dan menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti pada momen pemilihan. “Organisasi yang aktif digerakkan oleh organ-organ yang hidup,” katanya.
“Dukungan sejati bukan hanya memenangkan jagoan, tapi ikut hidup di dalam organisasi. Kader sejati adalah mereka yang siap berproses dan memberi diri.”
Sementara itu, Evlensia Fransiska Korain, Ketua Panitia Pelaksana RUAC, menutup seluruh rangkaian acara dengan rasa syukur. “Semua agenda berjalan baik dan lancar,” ujarnya. “Kerja keras panitia dan peserta menjadi bukti bahwa semangat kekaderan PMKRI masih menyala.”
Pemimpin yang Belajar dari Senja
Selepas sidang, ketika aula mulai sepi dan kursi-kursi dikembalikan ke sudut ruangan, Daniel masih duduk sendiri di meja kecil. Di hadapannya, buku catatan lusuh dan secangkir kopi yang mulai dingin.
Ia menulis satu kalimat di halaman kosong:
“Menjadi ketua bukan soal tahu segalanya, tapi berani mendengar dan siap berkorban.”
Kata-kata itu menggambarkan dirinya sepenuhnya, seorang anak muda yang tidak haus jabatan, tapi lapar akan perubahan.
Untuk Papua, Dengan Cinta dari Flores
Ketika ditanya tentang mimpinya setelah masa jabatan berakhir, Daniel menjawab tanpa ragu. “Saya ingin berkontribusi terhadap pembangunan sumber daya manusia di Papua.” Jawaban yang sederhana tapi dalam. Di setiap langkahnya, Daniel membawa misi besar, membangun jembatan antara Papua dan Indonesia lewat pendidikan dan organisasi.
“PMKRI telah membentuk saya menjadi manusia yang berpikir, beriman, dan berjuang,” katanya. “Dan kelak, ketika saya kembali ke Papua, saya ingin membawa semangat itu, agar anak-anak muda di sana berani bermimpi dan bekerja keras untuk bangsanya.”
Cahaya dari Timur
RUAC 2025 mungkin sudah selesai, palu sidang telah diketuk, mandat sudah diberikan. Namun perjalanan Daniel baru dimulai. Di pundaknya kini melekat tanggung jawab moral untuk menjaga api perjuangan PMKRI agar tetap menyala, di kampus, di masyarakat, dan di hati kaum muda Katolik.
Malam itu, dari jendela Margasiswa, langit Ende tampak bertabur bintang. Dan di sana, seorang anak dari Maybrat menatap jauh, tersenyum kecil, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri,
“Aku datang dari jauh bukan untuk mencari nama, tapi untuk menyalakan cahaya.”
Dan cahaya itu kini benar-benar menyala, di Ende, di Papua, dan di setiap hati yang percaya bahwa masa depan bangsa ini ditentukan oleh keberanian anak-anak muda yang tidak takut bermimpi.
🟤 Catatan Redaksi:
Tulisan ini bagian dari rubrik Atalomba Weekend Feature — kisah inspiratif kader muda Nusa Tenggara dan Timur Indonesia yang menyalakan semangat pelayanan, iman, dan perjuangan sosial di tengah perubahan zaman.
