Berjalan Bersama, Menyalakan Harapan

Laporan Khusus dari SAGKI V, Ancol – Jakarta
Oleh: Irminus Deni
“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” Filipi 1:6
Dari Aula ke Jalan: Ketika Gereja Turun Menyapa Dunia
Langit Jakarta di awal November terasa lembut, seolah ikut menyambut langkah para peziarah iman dari seluruh penjuru Nusantara. Di aula besar Mercure Convention Center, Ancol, 375 peserta Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) V—para uskup, imam, biarawan-biarawati, dan umat awam—berkumpul dalam satu roh: mencari arah baru bagi Gereja Indonesia di tengah dunia yang berubah cepat.
Tema besar sidang kali ini menggema penuh makna, “Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan. Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian.” Gereja diajak keluar dari temboknya sendiri, turun ke jalan kehidupan, dan menatap wajah-wajah umat yang haus akan harapan.
“Gereja yang hanya bicara di altar, tapi tidak hadir di jalan, hanyalah gema tanpa makna,” ungkap salah satu peserta SAGKI.
Menyembuhkan Luka, Menyalakan Harapan
Dari ruang-ruang diskusi SAGKI terdengar satu nada yang sama, dunia ini terluka. Ada yang miskin, ada yang tersisih, ada yang kehilangan arah. Gereja tidak boleh tinggal diam. SAGKI menegaskan dua poros utama perjalanan Gereja:
-
Penguatan iman umat – agar keluarga Katolik sungguh menjadi sekolah kasih dan harapan.
-
Perutusan profetik – agar Gereja berani berbicara dan bertindak bagi keadilan, martabat manusia, dan kesejahteraan bersama.
Inilah wajah Gereja yang diimpikan, bukan menara tinggi yang menatap dari jauh, tetapi rumah sakit lapangan bagi dunia yang sakit, tempat setiap luka disembuhkan oleh kasih.
“Sinodalitas bukan sistem baru, melainkan cara baru mengasihi.”
Orang Muda, Perempuan, dan Difabel. Wajah Allah yang Dihargai
SAGKI 2025 menegaskan panggilan Gereja untuk berjalan bersama semua lapisan umat, terutama mereka yang kerap dilupakan, orang muda, perempuan, dan penyandang difabel.

Orang Muda, Gereja yang Hidup
Gereja diminta mendengarkan dan mempercayai orang muda, bukan sekadar memberi panggung sesaat.
“Orang muda bukan masa depan Gereja, mereka adalah Gereja hari ini,” bunyi dokumen hasil sidang. Mereka diutus menjadi misionaris harapan dalam bidang politik, ekonomi, budaya, dan lingkungan hidup.
Perempuan, Suara yang Tak Boleh Didiamkan
Perempuan dipanggil bukan hanya melayani, tetapi juga memimpin. Gereja harus membuka ruang bagi mereka di semua tingkat pengambilan keputusan. Sebab kasih yang mereka bawa adalah wajah Allah yang lembut sekaligus tegas.
Difabel, Gereja yang Inklusif
Bagi para penyandang difabel, SAGKI menyerukan Gereja yang sungguh ramah, dengan akses, pelayanan, dan kesempatan yang sama.
“Setiap tubuh, betapa pun rapuh, tetap memantulkan wajah Kristus yang utuh.”
Suara Kenabian di Tengah Bangsa yang Luka
Di tengah dunia yang semakin bising, Gereja diingatkan untuk menjaga kejernihan suara moralnya.
Ketimpangan ekonomi, korupsi, intoleransi, dan pelanggaran HAM menuntut Gereja bersuara, bukan bersembunyi.
SAGKI menyebut Gereja sebagai “jembatan moral” yang menghubungkan negara, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
Tiga sikap utama ditegaskan:
-
Kepada Negara: Gereja menyerukan keadilan, menolak korupsi, dan berpihak pada yang miskin.
-
Kepada Dunia Usaha: Gereja menumbuhkan etika kenabian yang menghormati pekerja dan bumi.
-
Kepada Masyarakat: Gereja menggerakkan solidaritas dan keadaban publik.
“Ketika dunia kehilangan arah, Gereja harus menjadi suara moral yang jernih.”
Bumi yang Menjerit, Papua yang Berdarah
Dua luka besar bangsa Indonesia bergema kuat dalam hasil SAGKI, krisis ekologis dan krisis kemanusiaan di Papua.
Bumi yang Menjerit
SAGKI menilai kerusakan lingkungan bukan hanya krisis ekologis, tetapi krisis moral dan spiritual.
Gereja diundang berani bersuara terhadap proyek-proyek yang merusak alam seperti tambang dan panas bumi, serta membangun spiritualitas ekologis di setiap paroki.
“Ketika bumi menangis, iman pun diuji.”
Papua yang Berdarah
Papua disebut sebagai “luka terbuka bangsa.” Gereja diminta hadir membawa damai, bukan amarah.
SAGKI merekomendasikan pembentukan Pusat Pastoral HAM dan Pusat Krisis di wilayah-wilayah terdampak kekerasan, demi memulihkan martabat korban.
Pendidikan, Kesehatan, dan Iman yang Membumi
SAGKI menyoroti kembali dua karya utama Gereja yang kini tengah diuji, pendidikan dan kesehatan Katolik. Sekolah Katolik diingatkan agar tidak kehilangan roh pelayanannya. Gereja harus kembali berpihak pada mereka yang miskin, bukan mengejar gengsi dan keuntungan. Pelayanan kesehatan pun perlu diperbarui, setelah ratusan klinik Katolik tutup dalam sepuluh tahun terakhir. SAGKI menyerukan pembaruan:
“Pelayanan kesehatan Katolik harus tetap menjadi tanda belas kasih Allah bagi semua, dari rahim hingga ajal.”
Formatio Iman, Pondasi Gereja yang Hidup
Di tengah semua rekomendasi, SAGKI menutup dengan satu kesadaran mendalam. Semua pembaruan tidak akan berarti tanpa pembinaan iman (formatio) yang menyentuh akar. Iman tidak tumbuh dari program, tetapi dari perjumpaan. Karena itu, keluarga dipanggil menjadi katekis pertama, dan para guru agama perlu didukung dengan formasi berkelanjutan.
“Iman tanpa pendampingan hanyalah bunga yang cepat layu.”
Ziarah yang Tak Pernah Selesai
Ketika lonceng penutupan SAGKI berdentang, suasana di aula Ancol berubah hening. Para peserta berdiri, saling berpelukan, menyanyikan lagu penutup. “Bersama-sama Kita Melangkah.” Namun, perjalanan ini belum selesai. SAGKI bukan akhir, melainkan awal dari ziarah baru Gereja Indonesia.
Ziarah menuju Gereja yang mendengarkan, melayani, dan membawa damai di tengah bangsa yang letih.
“Gereja yang sejati bukan bangunan megah, tetapi hati yang berani berjalan bersama sesama.”
Refleksi Penutup – Doa Peziarah Pengharapan
Tuhan,
ajarlah kami berjalan bersama,
mendengarkan yang lemah,
dan melayani dengan kasih yang tak berhitung.Jadikan Gereja-Mu tempat di mana yang terluka disembuhkan,
yang miskin diterima,
dan yang tersesat menemukan rumahnya kembali.Bimbinglah langkah kami
agar di setiap jalan, di setiap hati,
kami menjadi peziarah pengharapan
yang menyalakan damai-Mu di dunia.Amin.
Tentang Penulis:
Irminus Deni adalah jurnalis dan Pemimpin Redaksi Atalomba.com, yang kerap menulis refleksi iman, lingkungan, dan kemanusiaan dengan gaya naratif khas Ketimuran.
