Di Tengah Hujan, Iman Kami Tetap Menyala: Umat Paroki Maunori Sambut Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD

🖋️ Ditulis oleh:
Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Di bawah langit kelabu yang menangis perlahan, umat Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Maunori berdiri bersatu. Hujan turun tanpa jeda, tapi tidak satu pun dari mereka bergeser. Dari yang tua sampai yang paling kecil, dari pemuda OMK sampai opa-oma yang bertopang tongkat, semua menyambut dengan hati terbuka. Hari ini adalah sejarah. Hari ini, Maunori menyambut Yang Mulia Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende.

Ia datang sebagai gembala utama, pemimpin spiritual seluruh umat di Keuskupan Agung Ende. Maunori bukan tempat asing bagi iman. Tapi kedatangan Uskup untuk pertama kalinya sebagai gembala utama membawa getaran baru. Umat tahu, ini bukan kunjungan biasa. Ini ziarah kasih, ini pelukan dari Gereja universal kepada gereja kecil di pantai selatan Nagekeo.
Turut mendampingi beliau, seorang imam yang sudah menanam banyak kenangan di tanah ini, RD. Servasius Say, mantan pastor paroki Maunori, kini menjabat di Keuskupan Agung Ende. Kehadirannya menyempurnakan cinta. Ia datang sebagai saksi, sebagai saudara yang mengantar sang gembala utama kepada umat yang pernah ia layani.

Prosesi Kasih di Tanah Basah
Di lingkungan St. Paulus Bengga, gong dan gendang mulai ditabuh. Kain adat dilipat rapi. Umat berdiri dalam barisan panjang, memandang ke jalan yang mulai becek oleh hujan. Tak ada raut lelah, hanya rindu. Gong bukan sekadar bunyi. Itu adalah jeritan cinta Maunori kepada gembala barunya.
Mobil rombongan muncul di kejauhan. Saat itu pula, gong dibunyikan serentak. Umat dan OMK membuka barisan. Payung dinaikkan. Air mata mulai menetes, tidak hanya karena hujan. Tapi karena haru yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Mgr. Paulus Budi Kleden turun dari mobil. Beliau tersenyum. Langkahnya pelan, penuh hormat kepada tanah ini. Di sampingnya, RD. Servas Say ikut melangkah, mendampingi gembala utama dengan wajah teduh. Tidak mencuri perhatian. Ia tahu, hari ini bukan tentang dirinya. Hari ini tentang umat dan gembala yang akhirnya bersua.

Sambutan adat dilakukan. Selendang diselempangkan. Gong tak berhenti. Dari kampung ke kampung, rombongan bergerak dalam prosesi Sebha Raghi, dari Lingkungan ST. Paulus Bengga, menuju Stasi ST. Rafael Watunggegha, umat Stasi Watunggegha menanti kedatangan yang mulia uskup Agung Ende dibawa Guyuran Hujan. iringan umat dan rombongan bapa Uskup Agung Ende dari Watunggegha menuju Lingkungan Roh Kudus Mauara, disana umatpun sudah menanti kedatangan yang mulia uskup agung ende, setelah bapa uskup turun dari mobil lansung dilakukan sapaan selamat datang dan sebha raghi sebagai tanda kenangan dan kerinduan umat kepada bapa gembala yang baru menginjakan kakinya di tanah keo tengah. dari mauara yang mulia uskup agung ende diterima oleh umat lingkungan ST. Clara Niodede, walaupun hujan semakin deras tidak mematakan niat yang tulus umat lingkungan Niodede untuk menyambut kedatangan gembala agungnya, di Niodede dilakukan hal sama sebha raghi. dari Niodede disambut umat lingkungan Maunori, semacam peziarahan adat yang memadukan iman dan budaya. Di setiap tikungan jalan, umat berdiri, beberapa berseru, beberapa hanya menatap diam, tapi semuanya berdoa dalam hati.
Gereja yang Basah, Iman yang Menyala
Saat akhirnya mereka tiba di pelataran gereja, tanah becek tak lagi berarti. Di bawah guyuran hujan, altar dihiasi sederhana. Tapi suasana hati umat melampaui keindahan mana pun.
Liturgi penyambutan digelar. Para alumni SDK Maunori hadir dan bersorak. Dan di tengah semuanya, Uskup berdiri tenang, menyambut cinta umat dengan penuh hormat.
Tak ada khutbah panjang. Hanya doa dan pelukan. Tapi justru di situlah letak kekuatan hari itu. Maunori tidak ingin pidato. Maunori ingin hadirnya seorang bapa, seorang gembala, seorang penuntun jalan.
RD. Servasius Say: Hadir Tanpa Mencuri Cahaya
Kehadiran RD. Servas Say menjadi catatan tersendiri. Dulu, ia melayani umat Maunori dengan sepenuh hati. Hari ini, ia hadir bukan sebagai bintang utama. Tapi sebagai penjaga api kecil yang dulu ia nyalakan. Ia berdiri di belakang Uskup, membantu di balik layar, tersenyum kepada umat yang masih mengingatnya dengan penuh cinta.
Ia tidak disambut dengan gong. Tapi peluk dan bisik umat mengisahkan segalanya. “Romo Servas… masih ingat kami?” Tentu. Mana mungkin ia lupa tanah tempat ia pernah jatuh cinta pada pelayanan.

1 Abad SDK Maunori: Dari Kapur ke Kasih
Dalam momen ini juga, dilakukan penyerahan simbol estafet perayaan 1 Abad SDK Maunori. Tanda bahwa pendidikan, iman, dan masa depan generasi muda tetap menjadi prioritas paroki ini. Dari guru-guru tempo dulu hingga para alumni masa kini, semua bersatu dalam satu janji: bahwa 100 tahun hanyalah awal.

Senggol Dong! Catatan Kiri Kanan dari Maunori
Hari ini, langit menangis. Tapi Maunori tersenyum. Hujan bukan hambatan. Itu air berkat. Hari ini, Uskup tidak naik mimbar. Ia turun ke tanah, menyentuh tangan, mencium anak-anak, dan memeluk oma-opa. Hari ini, Gereja tidak bicara tentang dogma. Ia bicara tentang kasih, tentang hadir, tentang melihat dan dilihat. Hari ini, RD. Servas Say tidak memimpin misa. Tapi ia memimpin kenangan. Hari ini, Atalomba.com mencatat bahwa Gereja masih hidup. Bukan di kota besar. Tapi di Maunori, di tempat gong dipukul dengan cinta dan payung dibuka karena hormat.

Penutup
Yang datang adalah Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Klede, SVD. Yang menyambut adalah iman umat Maunori. Yang membasahi jalan adalah hujan dan air mata. Tapi yang tumbuh dari tanah adalah cinta dan harapan. Dan semoga semua yang hadir hari ini, pulang dengan satu kesimpulan, di dunia yang makin sibuk ini, kasih sederhana seperti di Maunori-lah yang menyelamatkan Gereja.
