BI NTT Nyalakan LENTERA: Saatnya PMI Menjadi Cerdas, Bukan Sekadar Mesin Uang

Oleh: Irminus Deni, Peraih Hassan Wirayudha Award, Aktivis Anti Human Trafficking NTT, dan Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay-KAE
Panggung di Kupang, Sebuah Awal yang Penting
Rabu, 1 Oktober 2025. Aula Rumah Jabatan Walikota Kupang dipenuhi semangat baru. Seratus calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) duduk rapi, sebagian penuh harap, sebagian lain masih menyimpan ragu. Mereka adalah wajah-wajah masa depan dari desa-desa di NTT yang sebentar lagi akan merantau ke negeri orang.
Kegiatan LENTERA (Literasi Keuangan Digital untuk Tenaga Migran Indonesia) yang diselenggarakan Bank Indonesia Perwakilan NTT menghadirkan banyak pihak penting:
-
BP3MI Provinsi NTT, yang menekankan pentingnya perlindungan PMI dari hulu ke hilir.
-
Walikota Kupang yang diwakili oleh Kadis Transnaker Kota Kupang, memberi dukungan agar pemerintah daerah benar-benar hadir bagi pekerja migran.
-
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjelaskan teknis pengelolaan uang dan perlindungan konsumen.
-
Bank Indonesia NTT sendiri yang membawakan materi penting tentang sosialisasi sistem pembayaran digital, QRIS antarnegara.
-
Irminus Deni – penulis editorial ini, peraih Hassan Wirayudha Award dari Kementerian Luar Negeri RI, aktivis yang sejak lama mendampingi korban human trafficking di NTT, sekaligus Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay Keuskupan Agung Ende.
-
Damaris Haba Bangngu, pekerja migran sukses asal NTT yang kini menetap di Kota Kupang, hadir membawa inspirasi bahwa PMI bisa sukses jika cerdas mengelola remitansi.
Kupang tidak hanya jadi ibu kota provinsi. Ia berubah menjadi titik cahaya yang mengajarkan bahwa literasi keuangan digital bukan jargon, melainkan kebutuhan mendesak bagi PMI dan keluarga mereka.

PMI: Antara Pahlawan Devisa dan Korban Sistem
PMI sering disebut pahlawan devisa, dan datanya mendukung, remitansi nasional tahun 2024 mencapai USD 15,54 miliar. Tapi mari kita lihat lebih dekat. BP3MI mencatat, khusus dari NTT saja, remitansi PMI pada tahun 2024 mencapai Rp 57,3 miliar. Angka ini bukan main-main. Dari kebun, sawah, dan dusun di NTT, uang hasil jerih payah PMI mengalir masuk, menopang keluarga, menggerakkan ekonomi lokal, bahkan membiayai sekolah anak-anak hingga kuliah.
Namun angka itu sering kali tidak sebanding dengan realitas di lapangan. Saya sudah lama mendampingi mereka. Saya tahu kisah para ibu yang pulang dalam peti mati, anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan orang tua, hingga keluarga yang terlilit utang meski kiriman uang rutin datang setiap bulan.
Human trafficking masih menjadi momok di NTT, agen ilegal masih berkeliaran, dan banyak PMI berangkat tanpa dokumen sah. Itulah mengapa literasi keuangan digital sangat mendesak, agar uang yang mereka kirim tidak terbuang sia-sia.
Cerita di Panggung, Dari Materi Teknis ke Kisah Nyata
Materi demi materi disajikan.
-
Bank Indonesia NTT membawakan sosialisasi sistem pembayaran digital.
-
OJK menyampaikan tentang perencanaan keuangan pribadi dan keluarga.
-
BP3MI mengingatkan jalur legal sebagai kunci perlindungan PMI.
-
BI juga menghadirkan kampanye Cinta, Bangga, Paham Rupiah.
Tapi yang paling membekas justru kisah nyata.
Saya bercerita tentang seorang PMI yang pulang setelah 10 tahun bekerja di malaysia, tapi tanpa rumah, tanpa usaha, bahkan tanpa tabungan. Ia berkata lirih, “Saya kerja untuk apa? Semua uang habis untuk konsumsi keluarga.”
Lalu saya kisahkan pula PMI lain di Taiwan yang pulang dengan kios sembako, ternak kecil, dan anak-anak yang bisa kuliah. Rahasianya sederhana, disiplin menabung, bijak mengelola remitansi, dan keluarga yang menghargai setiap rupiah yang dikirim.
Kemudian Damaris Haba Bangngu berdiri di panggung. Suaranya bergetar, tapi matanya penuh keyakinan. Ia bercerita bagaimana dulu ia berangkat sebagai pekerja migran, bekerja keras, jatuh bangun, tapi akhirnya bisa membangun kehidupan layak di Kupang. Kini ia memberi inspirasi, bahwa pekerja migran tidak hanya bisa bertahan, tapi juga bisa sukse.
Cerita Damaris adalah kontra-narasi dari stigma PMI. Ia membuktikan, dengan literasi, disiplin, dan dukungan keluarga, remitansi bisa menjadi tiket menuju martabat, bukan sekadar nafkah.
Keluarga PMI, Pilar yang Sering Terlupakan
Saya selalu mengingatkan, keberhasilan atau kegagalan PMI tidak hanya ditentukan oleh pekerja di luar negeri, tetapi juga oleh keluarga di kampung. Jika keluarga boros, uang sebesar apa pun akan habis. Jika keluarga bijak, uang bisa menjadi rumah, tanah, sekolah, usaha.
Karena itu, literasi keuangan digital harus menyasar keluarga PMI di desa-desa. Mereka perlu tahu cara menggunakan transfer resmi, menolak pinjaman online ilegal dll, membedakan kebutuhan dan keinginan. Di sinilah pentingnya kolaborasi dengan gereja, sekolah, dan komunitas lokal. Karena keluarga PMI lebih percaya nasihat pastor paroki atau guru ketimbang brosur bank.
Jangan Berhenti di Kupang!
Kupang sudah menyalakan LENTERA. Tapi editorial ini ingin menegaskan, NTT terlalu luas untuk hanya satu titik cahaya. LENTERA harus dinyalakan di setiap kabupaten. Dari Flores sampai Sumba, dari Timor sampai Alor. Setiap desa harus digapai. Setiap keluarga PMI harus disentuh.
Dan ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh Bank Indonesia atau OJK. Harus ada kerja sama dengan gereja-gereja, lembaga masyarakat, bahkan komunitas adat. Hanya dengan cara itu literasi benar-benar sampai ke akar.
Bayangkan, setelah misa minggu, umat mendapat penyuluhan singkat tentang cara aman kirim uang lewat QRIS antarnegara. Bayangkan, di balai desa, aparat lokal dan BP3MI hadir mendampingi keluarga PMI membuat rencana tabungan. Bayangkan, di sekolah-sekolah, anak-anak diajarkan menghargai uang yang dikirim orang tuanya. Itulah masa depan literasi yang sejati.
Agar Jerih Payah Tidak Hilang
Kegiatan LENTERA di Kupang adalah langkah awal yang berharga. Tapi editorial ini ingin menegaskan, jangan biarkan ia berhenti sebagai seremonial tahunan. PMI adalah pahlawan, tapi jangan lagi mereka diperlakukan hanya sebagai mesin devisa. Mereka adalah manusia dengan mimpi, keluarga, dan martabat.
Jika kita bisa membekali mereka dengan literasi keuangan digital, jika keluarga PMI bisa diajarkan menghargai remitansi, maka keringat mereka tidak akan sia-sia. Kupang sudah memulai. Mari nyalakan LENTERA di seluruh NTT. Agar masa depan PMI kita tidak lagi gelap, tapi terang, penuh harapan dan penuh martabat.
