Mahasiswa KKN Univ. Muhammadiyah Kupang dan Karang Taruna Desa Witurombaua Gelar Nobar Kemerdekaan
Nilai Perjuangan dari Layar ke Hati

WITUROMBAUA Atalomba.com –Malam di Desa Witurombaua, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, terasa berbeda dari biasanya. Angin laut berhembus pelan. Di halaman terbuka kantor desa Witurombaua, puluhan kursi plastik berwarna-warni sudah tersusun rapi. Sebagian warga lebih memilih duduk di tikar yang digelar di tanah, sementara anak-anak berlarian di sela kerumunan. Sebuah layar putih sederhana berdiri tegak, siap menampilkan cerita besar tentang perjalanan bangsa ini menuju kemerdekaan.
Inilah cara Desa Witurombaua memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia. Tidak dengan panggung mewah, bukan pula dengan konser besar atau pesta kembang api. Mereka memilih nonton bareng film perjuangan kemerdekaan — sebuah inisiatif yang lahir dari kolaborasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kupang dan Karang Taruna Desa Witurombaua.
Di tengah riuh rendah perayaan kemerdekaan di banyak tempat yang identik dengan lomba-lomba meriah, tawa, dan sorak-sorai, Witurombaua memilih jalannya sendiri, menyalakan kembali api nasionalisme lewat cerita dan sejarah.
Bukan Sekadar Menonton
Menjelang pukul 19.00 WITA, warga mulai berdatangan. Para ibu menggendong anak balita, bapak-bapak membawa kursi lipat, anak-anak sekolah datang berkelompok sambil bercanda. Di pojok halaman. Film yang akan diputar bukan film aksi modern atau drama percintaan, melainkan kisah perjuangan bangsa melawan penjajah. Suara tembakan dan dentuman meriam yang keluar dari speaker sederhana itu membuat suasana hening seketika. Semua mata tertuju pada layar.
“Inilah makna sesungguhnya dari kemerdekaan,” ujar Rahmat Leki, Koordinator Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang, ketika ditemui media ini di sela acara. “Bagi kami, perayaan HUT RI seharusnya tidak hanya sebatas seremonial. Generasi muda perlu diingatkan kembali bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibayar mahal oleh para pejuang dengan darah, air mata, bahkan nyawa.”
Rahmat mengaku terinspirasi untuk membuat acara ini setelah berdiskusi dengan beberapa tokoh desa dan ketua Karang Taruna Desa Witurombaua. “Di sini, anak-anak dan remaja banyak yang belum pernah menonton film perjuangan secara bersama-sama. Kami ingin memberikan pengalaman yang membekas di hati mereka,” tambahnya.
Menghidupkan Kembali Sejarah
Di tengah pemutaran film, beberapa anak sesekali bertanya pada orang tua mereka, “Itu siapa?” atau “Kenapa mereka berperang?”. Pertanyaan-pertanyaan polos itu menjadi bukti bahwa momen ini bukan sekadar hiburan, melainkan proses belajar sejarah secara langsung.
Ketua Karang Taruna Desa Witurombaua, Kristoforus Kese, memandang kegiatan ini sebagai bentuk nyata menjaga ingatan kolektif bangsa.
“Arti dari kemerdekaan itu adalah jangan melupakan sejarah masa lalu. Generasi saat ini harus tahu dan paham tentang nilai-nilai perjuangan bangsa ini. Kalau kita tidak mengingatnya, lama-lama generasi penerus akan kehilangan identitas,” ujarnya dengan nada tegas.
Bagi Kris Kese (Sapaan Akrabnya Red), sejarah bukan hanya cerita masa lalu, melainkan cermin yang menuntun langkah ke depan. Ia percaya bahwa desa-desa memiliki peran penting menjaga nilai itu tetap hidup. “Di Kota boleh sibuk dengan kembang api, tapi di desa punya kekuatan lain kedekatan sosial yang bisa dipakai untuk membangun kesadaran bersama,” tambahnya.
Apresiasi dari Kepala Desa
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Kepala Desa Witurombaua, Laurensius Paji.
“Saya berterima kasih kepada mahasiswa KKN dan Karang Taruna yang mau berinisiatif membuat acara ini. Ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh generasi saat ini,” ujarnya. “Anak-anak kita harus tahu bahwa kemerdekaan bukan hadiah gratis. Mereka harus menghargai dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.”
Laurensius Paji menegaskan, kegiatan seperti ini akan selalu ia dukung. “Kalau perlu, kita jadikan agenda tahunan. Setiap tahun kita nonton bareng film perjuangan, lalu berdiskusi tentang maknanya,” katanya.
Suasana yang Tak Tergantikan
Begitu film selesai, suasana tidak langsung bubar. Beberapa warga tetap duduk, berbincang tentang adegan-adegan yang mereka tonton. Ada yang mengingat kembali cerita orang tua mereka tentang masa penjajahan. Ada pula yang mengaitkannya dengan situasi bangsa hari ini.
Seorang bapak tua, yang duduk di bangku paling belakang, berkomentar lirih, “Kalau dulu orang berjuang angkat senjata, sekarang kita harus berjuang dengan pendidikan dan persatuan. Musuh kita sekarang bukan penjajah asing, tapi kemalasan, kebodohan, dan perpecahan.”
Kata-kata itu seolah merangkum inti dari seluruh acara malam itu, kemerdekaan bukan hanya milik masa lalu, tapi tugas setiap generasi untuk menjaganya.
Makna Kemerdekaan dari Desa
Apa yang dilakukan Desa Witurombaua adalah bentuk peringatan kemerdekaan yang sederhana, tetapi sangat kuat maknanya. Dari layar tancap di halaman kantor desa, anak-anak belajar tentang patriotisme. Dari cerita-cerita warga, mereka memahami arti pengorbanan. Dari kebersamaan itu, mereka merasakan persatuan yang menjadi fondasi berdirinya bangsa.
Di kota-kota besar, kemerdekaan sering diperingati dengan acara megah. Tapi dari Witurombaua kita belajar bahwa kemerdekaan sejati adalah tentang kesadaran sejarah, kebersamaan, dan kepedulian antarwarga. Tidak perlu gedung besar atau panggung mahal, cukup ruang terbuka, layar sederhana, dan hati yang ingin belajar.
Harapan untuk Tahun-Tahun Mendatang
Baik mahasiswa KKN maupun Karang Taruna berharap acara seperti ini tidak berhenti di sini. Mereka berencana mengembangkan ide ini menjadi serangkaian kegiatan edukatif pada hari kemerdekaan RI ke 80 dengan berbagai lomba. “Selain film perjuangan, akan ada berbagai lomba seperti, pidato, lomba menulis cerita kemerdekaan” kata Rahmat Leki.
Kris Kese menambahkan, “Kita ingin anak-anak punya memori kolektif tentang kemerdekaan yang tidak hanya mereka dengar dari buku pelajaran. Mereka harus mengalami sendiri momen belajar bersama seperti ini.”
Ketika layar mulai digulung dan lampu-lampu dimatikan, warga pulang dengan perasaan berbeda. Anak-anak masih bercerita tentang tokoh-tokoh di film, sementara orang tua tersenyum lega melihat generasi baru mulai mengenal sejarah bangsanya.
Di sanalah kemerdekaan terasa paling murni, bukan di podium megah, bukan di pesta besar, tetapi di hati warga desa yang berkumpul untuk mengingat dan menghargai perjuangan yang membawa mereka sampai pada hari ini. Dari Desa Witurombaua, pesan itu jelas. Merdeka adalah menjaga ingatan dan mewariskan semangat perjuangan itu kepada generasi berikutnya. (AL/Irminus Deni)
