100 Hari: Antara Janji, Aksi, dan Realita

Seratus hari — katanya — adalah waktu cukup untuk menilai arah angin. Bukan untuk menuntut panen besar, tetapi setidaknya untuk melihat apakah benih sudah ditanam, air sudah disiram, dan gulma sudah mulai dibersihkan.
Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo kini telah hampir usia 100 hari kepemimpinan. Seperti bayi yang baru belajar berdiri, atau mungkin seperti koki baru di dapur, ada harapan besar yang disematkan. Ada pula suara-suara kecil, Masyarakat Nagekeo — kadang berbisik, kadang berteriak — bertanya: “Sudah sampai mana kita?”
Dalam janji kampanye, kita disuguhi daftar panjang program prioritas: pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi rakyat kecil, perbaikan pelayanan publik, penguatan pendidikan dan kesehatan, hingga misi mulia membawa Nagekeo lebih berdaya di tengah perubahan zaman. Sebuah daftar yang membuat kita nyaris percaya bahwa keajaiban itu tinggal sejengkal lagi, termasuk di dalamnya program kerja 100 hari.
Namun di balik semangat itu, ada pertanyaan sederhana yang ingin kita tanyakan dengan senyum tipis:
“Apakah jalan berlubang sudah dijahit? Apakah air bersih sudah mengalir lebih deras dari retorika? Apakah pasar rakyat sudah lebih ramai daripada janji-janji di panggung kampanye?”
Tentu, kita mengerti: membangun daerah tidak seperti membalikkan telapak tangan. Lebih sering, rasanya seperti menyusun puzzle dalam kabut tebal. Tapi rakyat Nagekeo — yang sabar sekaligus cerdas — paham membedakan antara langkah kecil yang pasti, dengan langkah besar yang hanya bunyi.
100 hari ini, jujur saja, lebih banyak diwarnai upacara, kunjungan, seminar, dan foto-foto apik di media sosial. Tidak salah — dunia memang harus tahu bahwa Nagekeo bergerak. Tapi setelah lampu kamera padam, kita tetap bertanya, “Gerak ke mana?”
Rakyat bukan menuntut kesempurnaan. Tidak perlu stadion megah dalam 100 hari. Tidak perlu pabrik besar di tiap desa. Yang rakyat inginkan sederhana, melihat tanda-tanda bahwa pemerintahan ini benar-benar bekerja untuk mereka. Jalan yang mulai diperbaiki, pelayanan yang lebih ramah, pupuk yang tidak lagi sebatas mimpi, atau izin-izin usaha yang tidak lagi berliku panjang seperti jalan ke Kesidari.
Kita ingin 100 hari pertama ini menjadi fondasi kokoh, bukan sekadar panggung glamor. Karena setelah 100 hari, akan ada 1000 hari berikutnya yang jauh lebih berat. Membangun Nagekeo tidak cukup dengan puisi dan pidato. Membangun Nagekeo butuh peluh, butuh telinga yang mau mendengar, dan tangan yang siap kotor.
Untuk Bupati dan Wakil Bupati tercinta, Kami percaya, bapak-bapak punya niat sangat baik untuk Nagekeo. Kami juga tahu, jalan ke langit itu penuh awan tebal, badai, dan godaan nyaman di kursi empuk kekuasaan. Tapi ingatlah, rakyat tidak pernah lupa siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang sekadar bergaya.
Hampir 100 hari ini, kami tertawa bersama — menghibur diri — di tengah janji-janji yang masih menunggu. Tapi lebih dari itu, kami tetap menunggu, bukti, bukan sekadar buklet. Kerja nyata, bukan sekadar kata-kata manja.
Semoga setelah 100 hari ini, langkah Bapak-Bapak semakin tegas, arah Bapak-Bapak semakin jelas, dan suara kami — suara rakyat kecil dari kampung-kampung di Nagekeo — selalu menjadi suara yang Bapak-Bapak dengar, bahkan lebih keras daripada tepuk tangan di aula.
Selamat terus berjalan, Bapak-Bapak pemimpin! Karena sejarah tidak menulis siapa yang paling banyak berbicara, Sejarah hanya mengingat siapa yang benar-benar bekerja. (Penulis adalah Pemimpin Redaksi Atalomba.com)
