PPPK Lulus Dulu Baru Dibatalkan VS Ijazah Diperiksa Setelah Dua Periode Jadi Presiden

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Ditulis sambil nyeruput kopi sore, ditemani roti kering dan berita pahit
Yang disenggol kali ini, ribut soal ijazah Presiden Jokowi yang tak ada habisnya, sementara ribuan tenaga PPPK yang sudah mengabdi bertahun-tahun malah batal diangkat. Yang kena: logika waras bangsa. Yang terasa: frustrasi. Tapi jangan khawatir, rubrik ini bukan untuk bikin pusing—tapi untuk nyentil. Dengan gaya kiri-kanan, senggol dong, biar sadar!
Babak Pertama: Pandai Mengalihkan Topik
Jadi ceritanya begini, Bosqu.
Indonesia negeri kita tercinta ini sedikit unik. Kalau ada kebakaran di dapur, kita sibuk bahas cat temboknya merk apa. Kalau rakyat minta nasi, pemerintah kasih seminar soal gizi. Dan ketika puluhan ribu guru honorer dan tenaga teknis PPPK menangis karena SK mereka dibatalkan secara massal, warganet malah rame bahas ijazah palsu mantan Presiden 2 priode.
Ijazah mantan presiden Jokowi katanya palsu. Ada yang bilang beliau tidak kuliah. Ada juga yang bilang kampusnya fiktif. Bahkan ada video TikTok yang lebih dramatis dari sinetron, “Jokowi ternyata bukan alumni mana-mana!”
Sementara itu, di sudut lain negeri ini, ada ribuan orang yang sudah ikut seleksi PPPK, lolos, lulus, bahkan sudah pasang baliho syukuran, eh, pengangkatannya dibatalkan. Alasannya? Formasi tidak tersedia, atau kehabisan anggaran. Jadi bukan gagal karena bodoh, tapi gagal karena negara sendiri tidak ada niat untuk mengangkat mereka.
Babak Kedua: Ijazah Mantan Presiden Jadi Lebih Seru dari Nasib Rakyat
Bosqu, yang paling lucu? Sidang soal ijazah mantan Presiden Jokowi lebih ramai dari sidang gugatan tanah atau korupsi. Di media sosial, muncul “pakar pendidikan investigatif” dadakan. Mereka bongkar foto tahun buku tahunan, gaya rambut 1980-an, dan warna celana mahasiswa tempo dulu.
Sementara itu, ibu-ibu tenaga PPPK yang sudah lulus tes sejak 2023, duduk di rumah dengan mata sembab. Anaknya tanya, “Ma, kok belum jadi PNS?” Ibunya cuma bisa jawab, “Negara kita sedang sibuk cari ijazah orang penting, Nak. Sabar ya.” Kalau mau jujur, rakyat kecil itu tak peduli ijazah siapa palsu. Yang mereka peduli, kapan gajinya naik, kapan SK-nya turun, dan kapan hidupnya bisa sedikit lega.
Babak Ketiga: PPPK, Pegawai yang Paling Penuh Pengharapan dan Kepedihan
Kalau PNS itu pegawai tetap, maka PPPK itu pegawai dengan penuh pengharapan dan kesabaran. Mereka ikut tes, kumpulkan berkas, tunggu pengumuman, ikut pembekalan, sempat difoto buat badge ASN, eh tiba-tiba dibatalkan. Alasannya? Karena tidak pernah mengabdi minimal dua tahun.
Pertanyaannya, Bosqu. Kenapa itu tidak ditanyakan sejak awal? Kenapa tidak diminta rekomendasi dari tempat mengabdi saat mendaftar? Kenapa panitia seleksi tidak menyaring dari awal? Ketika sudah dinyatakan lulus, baru dibatalkan. Itu sama saja seperti kata pepatah orang Medan, “Makan tulang kawan.” Ini bukan cuma soal administrasi. Ini soal perasaan. Soal kepercayaan. Soal harapan yang diangkat tinggi, lalu dibanting tanpa ampun.
Dan Bosqu? Ini mirip dengan kisah ijazah Presiden Jokowi. Kalau memang meragukan, kenapa tidak dicek dari Solo sejak awal? Kenapa harus tunggu sampai beliau dua periode jadi Presiden, baru sibuk cari tahu? Logikanya sama, telat mikir, tapi tetap merasa benar.
Dan ironi makin lengkap ketika negara ini lebih sibuk meributkan ijazah seseorang yang sudah dua kali jadi presiden, ketimbang menyelamatkan nasib ribuan rakyat kecil yang sudah jelas lulus tes dan berhak mendapat tempat. Ijazah bisa diperdebatkan, tapi nasib PPPK yang dibatalkan, itu bukan debat, itu duka nasional.
Babak Keempat: Ketika Yang Lulus Tak Diangkat, Yang Tak Lulus Malah Naik Pangkat
Sementara PPPK yang lulus tidak diangkat, ada orang yang tidak lulus malah jadi komisaris. Ada yang tidak pernah jadi guru tapi jadi kepala dinas pendidikan. Ada yang tidak pernah kerja di bidang sosial tapi mengurus BLT. Dan semua itu sah, karena katanya, penunjukan politik. Jadi jangan heran, kalau nanti ada slogan baru:
“Anda lulus tes? Maaf. Yang kami angkat adalah yang lulus kenalan.”
Babak Kelima: Rakyat Disuruh Percaya, Tapi Tak Diberi Kepastian
Kita ini disuruh jadi warga yang positif. Tapi gimana bisa, Bosqu?
-
Guru honorer 15 tahun, akhirnya lulus PPPK, tapi dibatalkan.
-
Tenaga kesehatan yang sudah kerja selama pandemi, ujungnya tidak diangkat.
-
Petugas teknis desa yang sudah kerja dari zaman kepala desanya masih bujangan, sekarang malah disuruh daftar ulang tahun depan.
Sementara itu, mereka diminta percaya bahwa negara hadir. Hadir di mana? Di rapat? Di layar YouTube? Rakyat butuh negara hadir bukan di baliho, tapi di rekening bank. hahaha senggol dong?
Babak Keenam: Humor Rakyat, Satir Bangsa
Kita orang Indonesia memang hebat. Meski sedih, tetap bisa bikin lelucon.
“Apa bedanya ijazah Jokowi dan SK PPPK?”
“Ijazahnya dipertanyakan, SK-nya dibatalkan.”
“Apa persamaan PPPK dan mantan pacar?”
“Sama-sama bikin janji manis, tapi akhirnya pergi tanpa kabar.”
Lucu? Iya. Sedih? tapi Banget.
Babak Terakhir: Senggol Dulu Biar Bangun
Atalomba senggol kiri kanan, bukan karena benci. Tapi karena cinta. Cinta pada negeri ini yang terlalu sibuk dengan sensasi, tapi lupa substansi. Cinta pada guru, nakes, petugas desa, arsiparis, penyuluh pertanian, yang sudah lulus tapi dikhianati. Cinta pada rakyat kecil yang berharap pada negara, tapi malah ditinggal pas butuh. Ijazah bisa diperdebatkan. Tapi nasib ribuan PPPK yang dibatalkan, itu bukan debat. Itu duka.
Saatnya Kita Kembali ke Soal Pokok
Negara ini tidak rusak karena ijazah palsu. Negara ini rusak karena janji palsu. Karena rakyat dijanjikan pengangkatan, tapi malah disodori pembatalan. Dikasih pelatihan, tapi ujungnya dibiarkan kembali ke status semula.
Bosqu, senggolannya kali ini bukan untuk lucu-lucuan saja. Ini soal masa depan guru, tenaga medis, penyuluh, dan ribuan rakyat biasa yang cuma ingin jadi bagian dari sistem, bukan korban dari sistem. Kalau negara benar, tunjukkan. Tapi kalau salah, ya jangan pura-pura sibuk cari ijazah buat alihkan isu.
Sampai jumpa di rubrik selanjutnya, Bosqu. Masih banyak yang perlu kita senggol. Karena di republik ini, senggolan kecil kadang lebih keras dari pidato panjang. Atalomba Kiri Kanan, Senggol Lagi, Bosqu!
Salam hangat dari rakyat yang lelah tapi belum menyerah.
