Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Muga Sada: Nagekeo Tak Butuh Geotermal

Mbay, Atalomba.com – Jumat pagi, 12 September 2025, lantai dua Kantor Bupati Nagekeo dipenuhi wajah-wajah serius. Kehadiran para pastor dan aktivis lingkungan yang datang dengan map tebal berisi dokumen, ada juga tokoh masyarakat yang setia membawa suara rakyat kecil dari kampung-kampung. Mereka bukan sekadar tamu, melainkan sebuah “rombongan suara” yang membawa pesan penting, tanah Nagekeo sedang berada di persimpangan.
Hari itu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, SH, didampingi Wakil Bupati Gonzalo Gratianus Muga Sada serta Plt. Asisten III Setda Nagekeo, Silvester Teda, menerima kunjungan tim khusus Keuskupan Agung Ende (KAE) dan Kevikepan Mbay. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh hormat, tapi juga sarat dengan ketegangan, karena isu yang dibicarakan bukan perkara kecil, masa depan energi dan kehidupan rakyat Nagekeo.
Di tengah percakapan, Wakil Bupati Gonzalo dengan lantang menegaskan:
“Nagekeo belum butuh geotermal. Masih banyak potensi lain yang bisa kita garap, seperti tenaga matahari, tenaga angin di pesisir dan perbukitan, tenaga air lewat mikrohidro di sungai-sungai kecil, hingga biomassa dari limbah pertanian dan peternakan. Bahkan energi laut pun bisa kita kembangkan. Nagekeo kaya dengan cahaya, angin, air, dan kearifan lokal. Jangan buru-buru menyerahkan tanah kita untuk sesuatu yang justru bisa menyakiti rakyat sendiri.”
Pernyataan ini seolah menjadi jawaban dari keresahan panjang yang selama ini bergema di masyarakat. Kata-kata Wakil Bupati seperti mengetuk pintu kesadaran bahwa energi tidak boleh mengorbankan rakyat. Bahwa pembangunan sejati bukan soal siapa yang datang membawa modal, melainkan siapa yang berani menjaga tanah dan pangan rakyat.
Gereja Membawa Suara Rakyat
Tim khusus yang datang bukan sembarang utusan. Mereka adalah wajah resmi Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende, membawa mandat pastoral dan moral. Dipimpin Vikep Mbay RD. Asterius Lado, rombongan terdiri dari, RD. Paulus Bongu, Tim Advokasi Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, RD. Reginaldus Piperno, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP) KAE, RD. Kristo Betu, Pastor Paroki Stella Maris Danga, RP. Felix Baghi, dari Aliansi TERLIBAT Bersama KORBAN Geothermal Flores (ALTER BKGF), RD. Geradus Janga, mewakili Paroki Wolosambi, mengingat ada satu titik Geotermal diwilayah Paroki Wolosambai, tepatnya di Stasi Pajoreja Kecamatan Mauponggo. RD. Renal Dhae, Ketua Komisi PSE KAE, dan Aktivis Lingkungan Hidup Keuskupan Agung ende RD. Yanto Songka, Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan Mbay, dan Juru Bicara Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay RD. Oncy Deru, Sekretaris Vikep Kevikepan Mbay, RP. Marselinus Kabut, OFM, Ketua Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, yang juga Pastor Paroki Aeramo dimana dalam Wilayah Paroki Aeramo ada Titik Geotermal yaitu di Marapokot. Irminus Deni, Tim Advokasi Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, yang juga Aktivis Human Trafikyng (Perdangan Manusia) dan Sekretaris Komisi Migran Perantau Kevikepan Mbay RP. Alex Mbenga, perwakilan Paroki Jawakisa, yang mana ada satu titik Geotermal diwilayah Paroki Jawakisa yaitu Rendoteno dan juga sebagai Juru bicara Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay. serta tokoh masyarakat Bapak Pius Dhari dan Bapak Hubert.
Kehadiran mereka mencerminkan kesatuan suara, menolak proyek geotermal di Nagekeo. Penolakan itu bukan tanpa alasan. Gereja menjelaskan, topografi Nagekeo yang penuh bukit dan lembah membuat lahan pertanian sangat terbatas. Sementara, 75–80% umat Keuskupan Agung Ende hidup sebagai petani. Tanah bukan sekadar sumber pangan, melainkan bagian dari budaya, doa, dan identitas iman. Mengambil tanah berarti mencabut akar hidup umat.
Luka Sosial dari Kehadiran Militer
Namun, geotermal bukan satu-satunya masalah. Gereja juga mengangkat isu kehadiran Yonif 834 Wakanga Mere. Alih-alih memberi rasa aman, mereka justru membawa trauma.
Kasus meninggalnya Prada Lucky Mamo masih membekas sebagai luka mendalam. Di Tonggurambang, masyarakat resah karena interaksi aparat sering menimbulkan ketegangan.
Lebih parah lagi, muncul klaim sepihak atas lahan ±236 hektar oleh TNI. Padahal, menurut adat, hanya ±23 hektar yang pernah diserahkan untuk para pensiunan TNI. Lahan yang kini dijadikan markas militer itu sejatinya adalah tanah pangan rakyat. Gereja menilai, inilah bentuk ketidakadilan yang harus dihentikan.
Tambang yang Merampas Air
Selain geotermal dan militer, Gereja juga menyoroti maraknya Galian C. Sungai-sungai rusak, sumber air mengering, tanah rawan longsor. Ironisnya, pengawasan pemerintah lemah, bahkan terkesan tutup mata.
“Tambang tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang, sementara rakyat banyak menanggung derita. Itu ketidakadilan struktural, dan Gereja menolak keras,” tegas RD. Reginaldus Piperno.
Titik Temu Pemerintah dan Gereja
Di tengah gelombang isu itu, pernyataan Wakil Bupati Gonzalo seolah menjadi jembatan. Pemerintah mengakui ada banyak potensi energi terbarukan selain geotermal. Gereja menegaskan, pembangunan harus berpihak pada rakyat.
Bupati Simplisius Donatus sendiri membuka ruang dialog, menyambut baik sikap kritis Gereja, dan menegaskan bahwa aspirasi rakyat akan dipertimbangkan dalam setiap keputusan pembangunan.
Energi Matahari, Harapan Baru Nagekeo
Bukan rahasia, Nagekeo adalah daerah yang nyaris selalu disinari matahari. Potensi tenaga surya sangat besar untuk memenuhi kebutuhan listrik rakyat. Ditambah dengan angin kencang di pesisir, mikrohidro dari sungai, biomassa dari limbah pertanian, dan energi laut dari gelombang, Nagekeo sebenarnya punya modal besar menuju energi bersih tanpa harus mengorbankan tanah rakyat.
“Mari kita cari jalan energi yang tidak mengorbankan rakyat. Matahari bersinar setiap hari di Nagekeo. Itulah kekayaan kita,” pungkas Wakil Bupati Gonzalo.
Suara yang Menggema
Pertemuan di lantai dua Kantor Bupati Nagekeo itu akhirnya menjadi catatan penting dalam sejarah kecil daerah ini. Bukan sekadar diskusi, tetapi momen ketika pemerintah dan Gereja menemukan kesamaan, bahwa tanah, pangan, dan rakyat harus menjadi prioritas di atas segalanya.
Suara Wakil Bupati Gonzalo menggema bukan hanya di ruang rapat itu, tetapi juga di hati rakyat, sebuah pengakuan bahwa Nagekeo kaya dengan potensi energi, dan geotermal bukan satu-satunya jalan. (AL/Tim Atalomba.com)
