“Rakyat Kita Dikejar RELA, Pemimpin Kita Mengejar Investor”
Atalomba.com, Kiri Kanan: Senggol Dong!
Kalau Hansip di Sini Cuma Jaga Parkiran, Di Sana Bisa Tangkap Orang

Oleh: Irminus Deni
Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay-KAE
Edisi Atalomba Senggol kali ini menyenggol negara tetangga Malaysia. Tulisan ini ditulis sambil menikmati kopi pagi buatan istri tercinta dan ubi goreng yang masih hangat mengepul di piring rotan.
Kamu tahu nggak, Bosqu? Di tahun 1970-an, Malaysia itu seperti adik kecil yang masih belajar jalan. Ekonomi mereka baru mulai, universitas masih dikit, dosen banyak yang impor, dan arah pembangunan belum segagah sekarang. Siapa guru mereka? Indonesia, tentu saja. Dosen-dosen kita, insinyur kita, guru besar kita, dikirim ke sana bantu bangun sistem pendidikan dan pemerintahan.
Mereka datang belajar ke sini. Ke UI, ke UGM, ke ITB. Bahkan ke kampus di Makassar dan Padang. Banyak pejabat Malaysia alumni kampus-kampus Indonesia. Bahkan bahasa Melayu Malaysia adalah hasil adaptasi dan modifikasi dari Bahasa Indonesia yang pernah jadi panutan mereka. Kita dulu merasa gagah, jadi abang besar di kawasan.
Tapi sekarang? Coba kita tengok lapangan kerja di Johor, Kuala Lumpur, Sabah, Sarawak. Siapa yang paling banyak jadi buruh kasar, pekerja rumah tangga, tukang bangunan, pelayan restoran, sopir, dan TKI informal lainnya? Jawabannya: orang Indonesia.
Apa yang terjadi, Bosqu? Kenapa bisa jungkir balik begini? Apa karena nasi lemak lebih bergizi dari nasi padang? Atau karena Upin Ipin lebih sukses dari Si Unyil?
Kita Lengah, Mereka Serius
Indonesia ketiduran di tikungan sejarah, Malaysia malah ngebut. Saat kita sibuk berdebat ideologi, gonta-ganti menteri, demo harga BBM, korupsi berjemaah, dan ngurusin sinetron reinkarnasi, Malaysia fokus bangun ekonomi dan pendidikan. Mereka tarik investasi, bangun kampus internasional, datangkan dosen asing, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa akademik utama. Sementara kita? Kurikulum ganti tiap menteri. Guru honorer dibayar lebih kecil dari ongkos bensin. Mahasiswa sibuk demo, rektor sibuk main politik. Alhasil: Malaysia melesat. Kita? Meleset.
Ekonomi Kita Tak Merata, Pendidikan Kita Tak Meningkat
Indonesia memang kaya sumber daya, tapi distribusinya timpang. Kesejahteraan numpuk di Jakarta dan kota besar, tapi di desa-desa banyak orang putus sekolah, kerja serabutan, dan akhirnya tergiur kerja ke Malaysia walau jadi buruh. Pendidikan kita makin hari makin tergerus kualitasnya.
Sementara itu, Malaysia bukan cuma tumbuh karena kerja keras sendiri, tapi juga karena memanfaatkan Indonesia secara strategis. Mereka tahu SDM kita melimpah dan murah. Mereka tahu birokrasi kita berbelit, jadi banyak orang frustrasi dan ingin pindah. Mereka tahu orang Indonesia itu pekerja keras dan tahan banting.
Lalu PMI Kita? Hidup dalam Bayang-bayang RELA
Edisi kali ini kita senggol negara tetangga, Malaysia. Banyak orang Indonesia bekerja di sana sebagai PMI ilegal. Tanpa dokumen, dikejar-kejar oleh RELA dan Polisi Diraja Malaysia. RELA itu setara Hansip. Tapi bedanya? RELA bisa tangkap orang. Kalau Hansip kita? Jaga parkiran saja sudah syukur.
Banyak dari pekerja kita tidur dengan satu mata terbuka. Takut ditangkap, dideportasi, atau lebih tragis, mati di ladang sawit. Lalu dipulangkan ke kampung dalam bentuk peti mati. Sedihnya, itu realita yang dialami banyak perantau dari NTT.
Orang Jawa ke Malaysia, pergi naik kapal laut, pulang naik pesawat itu disebut perantau keren. Orang NTT? Pergi naik kapal laut, pulang naik pesawat juga, tapi dalam bentuk peti jenazah. Diam-diam. Sunyi. Tanpa seremoni negara.
Kenapa Ilegal? Karena Sistemnya Tak Bersahabat
Jalur legal ribet, mahal, dan berbelit. Akhirnya orang-orang desa pilih jalur cepat. Tanpa izin resmi, tanpa pelatihan. Yang penting sampai. Urusan nanti? yang penting sudah sampai disana. Negara tahu semua ini. Tapi negara pura-pura tak tahu.
NTT: Sibuk Bicara Geotermal, Lupa Masalah Migran
Di tengah semua ini, Nusa Tenggara Timur (NTT) sibuk bicara proyek besar bernama “energi ramah lingkungan”: geotermal. Pemerintah dan investor menyebutnya masa depan. Tapi lupa, ratusan ribu orang NTT tak sedang berpikir soal listrik masa depan. Mereka sedang berjuang hidup hari ini.
Sementara pejabat sibuk resmikan proyek dan berswafoto dengan investor, rakyat kecil naik kapal kayu, mengarungi lautan menuju Malaysia. Mereka bukan ingin kaya. Mereka hanya ingin bertahan hidup. Karena di kampung halaman, sawah tak cukup menghidupi, dan pemimpin terlalu sibuk mengejar mimpi hijau yang belum tentu ramah bagi rakyat.
Di tengah ketidak pedulian negara, ada satu lembaga yang tetap hadir di sisi mereka, yaitu Gereja. Setiap Natal dan Paskah, Gereja Katolik di Regio Nusa Tenggara (Nusra), dari Keuskupan Agung Ende Keuskupan Denpasar, Atambua, Weetebula, Larantuka, Maumere, hingga Ruteng, rutin melayani buruh migran kita di negeri jiran.
Para Imam pergi dari camp ke camp, dari kebun ke kebun, dari barak ke barak, memberikan misa Natal dan Paskah, mempersembahkan sakramen permandian, pemberkatan nikah, hingga pelayanan pastoral sederhana.
Tapi harus dicatat, Gereja hanya bisa melayani menurut wewenangnya sebagai gembala. Gereja tidak bisa mengambil keputusan kebijakan atau melindungi secara hukum. Tugas mereka adalah hadir secara spiritual, memberi kekuatan rohani, menyatukan umat dalam perayaan iman.
Mereka sudah lama hadir. Tapi terlalu sering suara mereka hanya terdengar di altar, bukan di ruang kebijakan. Padahal, di setiap doa, mereka tahu betapa banyak anak-anak Tuhan dari NTT hidup dalam penderitaan di tanah seberang. Di tengah semua ini, kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) sibuk bicara proyek besar bernama “energi ramah lingkungan“: geotermal.
Pemerintah dan investor menyebutnya masa depan. Tapi lupa, ratusan ribu orang NTT tak sedang berpikir soal listrik masa depan. Mereka sedang berjuang hidup hari ini.
Sementara pejabat sibuk resmikan proyek dan berswafoto dengan investor, rakyat kecil naik kapal kayu, mengarungi lautan menuju Malaysia. Mereka bukan ingin kaya. Mereka hanya ingin bertahan hidup. Karena di kampung halaman, sawah tak cukup menghidupi, dan pemimpin terlalu sibuk mengejar mimpi hijau yang belum tentu ramah rakyat.
Mari Kita Kembali Jadi Guru, Bukan Buruh
Indonesia harus bangkit. Bukan untuk jadi adidaya, tapi untuk menjaga martabat rakyatnya. Untuk kembali menjadi guru kawasan, bukan buruh regional. Untuk kembali memimpin dengan akal, bukan dengan kenangan masa lalu.
Atalomba kiri kanan, senggol dong! Jangan cuma lihat sejarah dan menangis. Lihat ke depan dan melangkah. Kalau dulu mereka datang belajar ke kita, kenapa sekarang kita rela jadi jongos di sana?
Jangan sampai kita terus mengantar anak-anak kita ke pelabuhan dengan doa dan air mata, lalu menyambut mereka di bandara dalam peti bersampul palstik dan karung bekas.
Kalau negara belum bisa melindungi, setidaknya jangan jadi penonton. Karena setiap peti yang datang dari Malaysia adalah bukti bahwa kita gagal jadi rumah yang layak untuk anak-anak kita sendiri. Sampai jumpa di edisi selanjutnya: Rubrik Atalomba.com—Senggol dong!
Yang disenggol kali ini: Bukan lagi sekadar proyek geotermal atau energi ramah lingkungan. Yang disenggol adalah hati nurani, tentang nasib buruh migran, tentang warga kita yang pulang dalam peti Jenasah, tentang rakyat yang ditinggal janji, dan gereja yang hanya bisa menghibur jiwa tapi tak bisa menetapkan kebijakan. Yang kena: sistem yang gagal hadir. Yang terasa: getir, pahit, tapi perlu dibicarakan.
