Berawal dari Tiga di Jopu, CIJ Kini Mendunia: 91 Tahun Kisah Iman dan Pengabdian

Oleh: Irminus Deni, Sekretaris CIJ-Sekuler Ende
Di sebuah kampung kecil yang sunyi bernama Jopu, di wilayah Wolowaru, Flores, sejarah itu pernah dimulai dalam diam. Tidak ada gemuruh tepuk tangan, tidak ada sorotan besar yang menandai kelahirannya. Hanya ada iman yang sederhana, keberanian untuk memulai, dan keyakinan mendalam bahwa Tuhan bekerja melalui hal-hal kecil yang setia.
Hari ini, 25 Maret 2025, Congregatio Imitationis Jesu (CIJ) memperingati 91 tahun perjalanan. Sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya tentang usia, tetapi tentang keteguhan, kesetiaan, dan daya hidup sebuah panggilan yang berakar kuat dari tanah Flores dan kini menjangkau dunia.
Sejarah itu dimulai pada 25 Maret 1934. Di tengah keterbatasan zaman kolonial, ketika akses pendidikan dan pembinaan rohani masih sangat terbatas, seorang gembala Gereja, Mgr. Heinrich Leven, SVD mengambil langkah yang berani dan visioner. Ia melihat bahwa Gereja lokal membutuhkan lebih dari sekadar pelayanan sesaat, ia membutuhkan fondasi yang kokoh melalui panggilan hidup bakti yang lahir dari rahim tanah sendiri.
Namun langkah besar itu tidak dimulai dengan kemegahan. Ia dimulai dengan kesederhanaan. Dari Jopu, lahirlah tri sulung, tiga pribadi pertama yang menjawab panggilan untuk hidup dalam semangat Imitationis Jesu, meneladani Kristus dalam kesederhanaan, ketaatan, dan pengorbanan. Mereka bukan orang-orang besar. Mereka tidak dikenal dunia. Namun dalam kesunyian pilihan mereka, mereka menjadi fondasi bagi sebuah karya yang melampaui zaman.
Tiga benih ditanam. Di tanah yang sederhana. Dalam keterbatasan yang nyata. Dan justru di sanalah akar itu menguat. Pada masa awal, perjalanan CIJ tidaklah mudah. Segala sesuatu serba terbatas. Fasilitas minim, tenaga pembina sedikit, dan arah masa depan belum sepenuhnya jelas. Namun di tengah situasi itu, pembinaan tetap berjalan, dalam kesederhanaan yang penuh makna.
Novisiat dan komunitas Rumah Induk menjadi pusat awal pembentukan. Di tempat inilah, tri sulung ditempa, bukan hanya secara intelektual, tetapi terutama secara spiritual. Hidup bersama, doa, disiplin, dan pengorbanan menjadi bagian dari keseharian mereka. Dalam fase awal ini, kepemimpinan dipercayakan kepada Sr. Xaver, SSpS.
Peran Sr. Xaver, SSpS tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia hadir sebagai pembimbing, sebagai ibu rohani, sekaligus sebagai penjaga api awal panggilan CIJ. Dengan kesabaran dan keteguhan, ia membimbing para anggota pertama untuk memahami bahwa hidup bakti bukanlah jalan kemudahan, tetapi jalan kesetiaan.
Rumah Induk menjadi jantung kehidupan CIJ. Bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang pembentukan identitas. Di sanalah nilai-nilai dasar ditanamkan, kerendahan hati, ketaatan, kesederhanaan, dan semangat pelayanan. Di sanalah tri sulung belajar menjadi pribadi yang siap diutus, meski belum tahu ke mana arah jalan akan membawa mereka.
Memasuki tahun 1952 hingga 1961, perjalanan CIJ memasuki fase baru yang lebih terstruktur. Berdasarkan surat pendiri tertanggal 19 Desember 1951, Anthonius Thyssen diangkat sebagai Moderator Jenderal CIJ. Penunjukan ini bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi langkah penting dalam memperkuat arah dan kepemimpinan kongregasi.
Pada masa ini, kepemimpinan Rumah Induk juga ditegaskan kembali. Rumah Induk tidak hanya berfungsi sebagai pusat administratif, tetapi sebagai pusat spiritual yang membimbing tri sulung dan generasi berikutnya. Di sanalah kesinambungan nilai dijaga. Di sanalah semangat pendiri tetap hidup.
Perjalanan CIJ adalah perjalanan yang ditempa oleh waktu. Tidak selalu mulus. Tidak selalu terang. Ada masa-masa sulit yang harus dilalui. Tantangan datang dalam berbagai bentuk, keterbatasan sumber daya, perubahan sosial, bahkan keraguan dari dalam. Namun di tengah semua itu, satu hal tetap bertahan, kesetiaan pada panggilan.
Dari tiga orang, mereka bertumbuh. Dari Jopu, mereka melangkah. Dari kesunyian, mereka menjadi terang. Seiring waktu, CIJ mulai memperluas karya pelayanannya. Mereka hadir di berbagai wilayah, melayani umat melalui karya pastoral, pendidikan, dan sosial. Mereka berjalan di tengah masyarakat, sering kali tanpa dikenal, tetapi selalu memberi dampak.
Karya mereka bukan tentang popularitas. Bukan tentang pengakuan. Tetapi tentang kesetiaan. Generasi demi generasi melanjutkan estafet panggilan ini. Setiap generasi membawa tantangannya sendiri, tetapi juga membawa harapan baru. Mereka tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga menghidupkannya dalam konteks zaman yang terus berubah.
Dan perjalanan itu tidak berhenti di Flores. Dari tanah kecil di Jopu, langkah CIJ perlahan melampaui batas geografis. Mereka hadir di berbagai wilayah di Indonesia, menjangkau umat di berbagai keuskupan, dan terus memperluas pelayanan.
Kini, setelah 91 tahun, CIJ telah hadir di beberapa negara di dunia. Dari Flores ke dunia. Dari lokal ke universal. Ini bukan sekadar ekspansi, tetapi sebuah kesaksian bahwa nilai yang dihidupi memiliki daya jangkau yang luas. Bahwa semangat Imitationis Jesu tidak dibatasi oleh budaya, bahasa, atau bangsa.
Di berbagai negara, CIJ hadir dengan wajah yang sama, kesederhanaan, pelayanan, dan kesetiaan. Mereka mungkin berbicara dalam bahasa yang berbeda, hidup dalam budaya yang berbeda, tetapi roh yang menghidupi mereka tetap sama.
Roh dari Jopu. Roh dari tiga benih pertama. Roh dari keberanian untuk memulai. Perayaan 91 tahun ini menjadi momen refleksi yang mendalam. Ini bukan sekadar perayaan usia. Ini adalah undangan untuk kembali ke akar. Untuk bertanya, apakah semangat dari Jopu masih hidup dalam diri kita?
Apakah nilai-nilai kesederhanaan, ketaatan, dan pelayanan masih menjadi dasar hidup kita? Ataukah kita mulai tergoda oleh kenyamanan dan pengakuan dunia?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sangat relevan, terutama bagi kita yang hidup di zaman yang penuh dengan perubahan cepat. Dunia menawarkan banyak hal, tetapi tidak semuanya membawa kita lebih dekat kepada panggilan sejati.
Sebagai bagian dari CIJ Sekuler Ende, kita juga dipanggil untuk mengambil bagian dalam perjalanan ini. CIJ bukan hanya milik para religius. Ia adalah gerakan spiritual. Ia adalah cara hidup. Ia adalah panggilan untuk meneladani Kristus dalam keseharian. Di tengah keluarga. Di tempat kerja. Di tengah masyarakat. Semangat Imitationis Jesu dapat hidup di mana saja. Dan justru di situlah kekuatannya.
Hari ini, ketika kita mengenang 91 tahun perjalanan CIJ, kita sebenarnya sedang diingatkan bahwa setiap karya besar selalu dimulai dari langkah kecil yang setia. Dari tiga orang. Dari satu tempat kecil bernama Jopu. Dari iman yang sederhana. Dan kini, kisah itu telah menjangkau dunia. Namun cerita ini belum selesai.
Ia masih terus ditulis. Oleh mereka yang hari ini memilih untuk tetap setia. Oleh mereka yang berani menjawab panggilan. Oleh mereka yang percaya bahwa Tuhan masih bekerja, dalam kesederhanaan, dalam kesunyian, dan dalam hati setiap orang yang mau berkata “ya”. Dari Jopu, nyala itu masih hidup. Dan akan terus menyala. Selamat Ulang Tahun Ke 91 CIJ
