Nagekeo: Ketika Sinyal dan Jalan Saling Menantang

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Hari Komunikasi Sedunia yang dirayakan Gereja Katolik setiap 1 Juni mestinya jadi momen reflektif tentang makna berbicara dengan hati, mendengar secara utuh, dan menjembatani hubungan sosial yang tercerai-berai.
Tapi dari Kabupaten Nagekeo, refleksi itu berubah jadi komedi tragis. Sebab bagaimana mungkin kita bisa “berkomunikasi dari hati” kalau sinyal hanya bisa ditangkap di pucuk bambu, dan jalan menuju kampung lebih cocok dipakai latihan motocross?
Cobalah berjalan-jalan seputar Nagekeo, Maunori – Raja, Mauponggo – Puuwada, Penginanga – Wakaseko, Mbay – Munde, Nageroro – Maunori, yang tinggal beberapa jengkal katanya dan wilayah pedalaman Boawae.
Di situlah komunikasi dan transportasi bersatu dalam derita. Kalau pun mau menghubungi keluarga, bukan cukup pakai HP. Harus naik batu besar dulu, jungkir balik ke arah timur, tunggu sinyal seperti nunggu jemputan mantan, kadang muncul, kadang ilusi. Dan kalau kebetulan hujan, bukan sinyal yang datang. Tapi sepatu lepas, motor nyungsep, dan lutut jadi saksi penderitaan.
Di desa yang tak disebut di peta Google, ada seorang kepala keluarga bercerita:
“Kami tidak pernah tahu kapan hujan datang. Tapi kami tahu persis, kapan sinyal hilang.”
Karena di Nagekeo, sinyal dan jalan punya kesamaan, Keduanya sering putus tanpa pemberitahuan.
Beberapa waktu lalu, Wakil Bupati menyampaikan kepada Wakil Presiden RI bahwa sekitar 10 ton cengkeh masyarakat tidak terjual tahun ini karena tidak ada akses jalan. Waktu itu, banyak yang nyinyir.
Tapi sekarang, kami baru sadar, Kalau jalan rusak, maka cengkeh tinggal mimpi. Kalau sinyal mati, maka semua laporan hanya tersimpan di hati.
Mungkin itu alasan kenapa laporan pembangunan jarang update. Karena jalan tak bisa dilalui, dan sinyal tak bisa ditembus. Kalau rakyat marah, pemerintah tinggal bilang:
“Itu karena kami belum sempat terima laporan dari bawah.”
Padahal kenyataannya, yang dari bawah sudah mengirim laporan pakai kertas dan doa. Tapi ya itu tadi, sinyal hilang, jalan putus, hati lelah.
Hari Komunikasi Sedunia bilang, “Komunikasi itu tentang mendengarkan.” Tapi kami di sini sudah capek mendengarkan janji—janji perbaikan jalan tahun depan, janji pemasangan menara sinyal tahun depan, janji akses internet tahun depan.
Sudah terlalu banyak “tahun depan”, sementara anak-anak di desa tidak bisa kirim tugas, dan
ibu-ibu masih telepon keluarganya dari tengah kebun karena sinyal hanya ada di sana.
Di satu desa, ada warga yang dengan bangga berkata:
“Kami pasang Starlink, karena di desa kami, sinyal operator lokal cuma lewat pas malam Jumat Kliwon.”
Puncaknya adalah ironi. Karena laporan wajib dikirim online, tapi sinyal tidak ada, maka kepala desa terpaksa pakai dana desa untuk pasang parabola luar angkasa. Kenapa? Karena internet sudah bukan soal gaya hidup. Sudah masuk kategori kebutuhan primer, seperti air, beras, dan jalan yang tidak membuat rem blong.
Ada yang sinis bertanya:
“Kenapa bukan jalan dulu yang diperbaiki?”
Tapi mereka menjawab:
“Laporan pengajuan jalan saja tidak bisa dikirim tanpa sinyal, Pak.”
Bayangkan saja. Untuk melaporkan jalan rusak, warga harus jalan kaki, naik ke bukit, colok HP ke power bank, lalu baru bisa upload ke SIPD. Sementara kalau sudah gelap, sinyal pun tertidur. Makanya banyak laporan yang menginap tak tau dimana. Bukan karena malas, tapi karena jaringan itu seperti pelayan restoran sombong, datang kalau sedang ada mood.
Di era 5G, kami di Nagekeo masih berjuang dengan GPRS spiritual. Yang naik bukan kecepatan jaringan, tapi tensi kepala desa yang stres karena SPJ tertahan. Sementara anak-anak di kota bisa bikin konten YouTube, anak-anak di Mauponggo harus jalan satu bukit dulu baru bisa unduh soal ujian.
Kami tidak iri. Kami hanya ingin wajar. Wajar bisa kirim pesan. Wajar bisa akses Google. Wajar bisa buka WhatsApp tanpa harus naik pohon mangga. Wajar kirim laporan tanpa harus naik motor Desa dengan risiko ambeien.
Lalu, apa sebenarnya isi komunikasi hari ini? Di sini, komunikasi bukan soal kata-kata, tapi jerih payah.
Karena butuh fisik kuat dan mental sehat hanya untuk berkata:
“Selamat pagi, Bapak. Laporan kami sudah kami kirim via email.” Email itu pun dikirim dari puncak bukit, saat petir mengancam, dan sinyal setengah hidup.
Dan ironisnya, kadang ada balasan:
“Kok lambat sekali ini pengiriman laporan?”
Mereka tidak tahu. Kami bukan lambat. Kami hanya diabaikan sinyal dan ditelantarkan jalan.
Hari Komunikasi Sedunia mestinya bicara soal menjembatani dunia. Tapi kami belum bicara jembatan digital, karena jembatan sungai saja kadang masih pakai batang kelapa.
Maka kami ingin mengatakan dengan penuh cinta, Bapak dan Ibu pejabat, pembangunan tidak cukup hanya bicara di seminar. Tidak cukup potong pita dan foto untuk IG. Tapi harus sampai ke tanah, ke batu, ke lumpur. Ke jalan yang sudah tidak layak disebut jalan. Ke sinyal yang hanya ada saat hujan belum turun. Kami orang Nagekeo tidak sedang minta gedung tinggi. Kami hanya minta jalan dan sinyal yang manusiawi.
Akhirnya, kami mohon kepada Bupati dan Wakil Bupati, pilihan kami sendiri, untuk lebih mengutamakan hal-hal dasar yang menjadi kebutuhan masyarakat, jalan yang layak, sinyal yang stabil, dan komunikasi yang tidak tersendat oleh bukit dan birokrasi. Karena kalau jalan dan sinyal saja belum terpenuhi, apa artinya berbicara soal “transformasi digital”, kalau untuk buka pesan WhatsApp saja harus naik ke pohon pepaya?.
