Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong! “Setiap Orang Ada Masanya, Setiap Masa Ada Orangnya”

Oleh: Irminus Deni
(Pemimpin Redaksi Atalomba.com — Menulis sambil nikmati kopi Flores, pahitnya jujur, wanginya tajam, sindirannya nancep.)
“Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya.”
Kalau belum tiba masamu, jangan paksa.
Kalau sudah lewat masamu, jangan ngotot.
Kalimat ini bukan hanya petuah, tapi hukum alam. Ia seperti kopi Flores, pahitnya membuat sadar, hangatnya bikin mikir. Kalau kamu merasa masih pantas memimpin, memutuskan, atau mendikte semuanya, padahal zaman sudah berubah dan orang-orang mulai diam saat kamu bicara, mungkin bukan karena mereka tak hormat, tapi karena masamu sudah selesai. Dan tidak ada yang lebih menyedihkan dari orang yang tidak tahu kapan harus mundur.
Dari Edison ke Elon, Zaman Berganti, Tokohnya Berganti
Dulu, kita punya Thomas Alva Edison, sang penemu besar. Bola lampu, fonograf, sistem listrik, semua lahir dari otaknya. Edison adalah lambang kemajuan pada zamannya. Dia bekerja di laboratorium dengan pena, peluh, dan percobaan yang meledak-ledak.
Tapi bayangkan kalau Edison masih hidup hari ini. Lalu dia ngotot pakai mesin tik, lilin, dan kabel tembaga buat bersaing sama anak-anak muda yang bikin startup dari kamar kos sambil live TikTok.
Masih relevan? Tentu tidak. Karena setiap zaman akan menyiapkan panggung dan pemainnya sendiri.
Hari ini kita kenal Elon Musk, Steve Jobs, atau bahkan anak SMA yang jago AI, bukan karena mereka lebih hebat dari Edison, tapi karena ini memang eranya.
Dulu Mesin Ketik, Sekarang Laptop Tipis. Dulu Surat Pos, Sekarang Chat Cepat.
Kita hidup di zaman di mana perubahan datang lebih cepat daripada pemilu susulan. Dulu nulis surat cinta pakai tinta, tunggu pos berkuda. Sekarang? Chat, emoji, stiker berpelukan, semua bisa bikin jatuh cinta dan putus hanya lewat notifikasi.
Zaman dulu, salah ketik di mesin tik? Ulang dari awal. Sekarang? CTRL+Z, masalah selesai. Jadi kalau masih ada yang hidup di zaman sekarang tapi pikirannya masih berkutat di masa lalu, gaya kepemimpinannya penuh komando ala Orde Tertib, dan alergi kritik kayak anak kecil alergi udang, maka dia bukan pemimpin zaman ini. Dia cuma pemegang masa lalu yang enggan turun panggung.
Kopi Hari Ini, Bukan Kopi Kemarin
Mari tarik napas sambil minum kopi Flores yang baru diseduh. Masih panas. Masih harum. Masih relevan. Lalu bayangkan kalau kita ditawari kopi, tapi yang disodorkan adalah kopi kemarin sore, basi, dingin, dan sudah disemutin.
Kira-kira kamu mau minum? Sama halnya dengan kepemimpinan, gagasan, atau sistem yang sudah basi. Rakyat kita butuh solusi segar, bukan kenangan pahit yang dipanaskan ulang.
Yang Tak Mau Turun Biasanya Tak Pernah Siapkan Pengganti
Ada satu spesies langka di negeri ini yang sulit punah, Pemimpin Kekal Tanpa Akta Kekekalan. Sudah menjabat tiga periode, masih bilang, “Saya masih dibutuhkan.” Sudah tidak produktif, masih berkata, “Saya paling berpengalaman.” Sudah mulai pikun ide, tapi tidak pikun ambisi.
Lucunya, kalau ditanya soal regenerasi, jawabannya selalu gitu-gitu aja:
“Saya sih mau mundur, asal penggantinya selevel saya”
Lah, ya siapa yang selevel kamu, Pak? Kamu aja gak mau ajari orang. Gak pernah kasih ruang. Yang muda selalu kamu potong jalannya kayak jalan rusak di kampung saya. Maka tak heran kalau anak muda lebih suka cari ruang di medsos, bikin gerakan sendiri, atau bahkan bikin partai baru. Karena ruang lama penuh dengan mereka yang enggan pergi.
Belajarlah dari Mesin Ketik
Mesin ketik tahu diri. Ketika komputer masuk, ia tak protes. Ketika dunia bergeser ke digital, ia menepi. Diam. Tapi tetap dikenang. Ia tidak insecure. Mesin ketik tidak sibuk membentuk Ormas ‘Paguyuban Mesin Ketik Indonesia’. Ia tidak buat gerakan ‘Kembalikan Zaman Tinta & Kertas‘. Ia diam. Tapi dihormati. Karena ia tahu, ia pernah berjasa. Tapi masanya sudah selesai.
Pensiun Itu Bukan Mati. Itu Kematangan.
Mundur dari jabatan bukan berarti hilang dari dunia. Mundur bukan berarti kalah. Itu pertanda bahwa kamu paham ritme kehidupan. Bahwa kamu tidak ingin jadi batu sandungan. Bahwa kamu ingin dikenang, bukan dikasihani. Karena mereka yang enggan mundur sering kali tidak sedang berjuang untuk rakyat, tapi sedang memungut sisa-sisa pujian demi memuaskan egonya sendiri.
Kalau Masamu Sudah Lewat, Biarlah Kamu Jadi Mentor, Bukan Monster
Banyak yang bilang,
“Anak muda sekarang susah diatur.”
Padahal, kenyataannya,
“Anak muda sekarang susah ditindas.”
Dan perbedaan antara keduanya itu sangat besar. Yang pertama menyalahkan. Yang kedua mendengarkan. Kalau kamu ingin dihormati oleh generasi baru, jangan paksa mereka tunduk, tapi bantu mereka tumbuh.
Yang Akan Dikenang, Bukan Jabatanmu, Tapi Jejakmu
Di ujung hidup ini, semua jabatan akan ditanggalkan. Semua gelar akan tinggal dalam arsip. Semua status akan disalip oleh generasi yang lebih segar. Dan yang akan abadi hanyalah, Apakah kamu pernah memberi ruang? Apakah kamu pernah jadi jembatan? Atau kamu hanya jadi tembok yang keras kepala?
Saatnya Paham Kapan Waktumu Sudah Lewat
Jika kamu membaca sampai sini, itu tandanya kamu belum sepenuhnya beku. Masih ada ruang di hatimu untuk merenung. Dan mungkin, malam ini, sebelum tidur, kamu bisa tanya satu hal sederhana:
“Apakah aku sedang memperjuangkan masa depan, atau cuma memperpanjang masa jabatan?”
Karena siapa pun kita, secerdas apa pun, sekaya apa pun, sehebat apa pun, pada akhirnya hanya akan tinggal di ruang sempit dua meter kali satu. Dan saat itu tiba, dunia tak akan ingat berapa banyak yang kamu miliki. Tapi berapa banyak yang kamu tinggalkan untuk yang lain.
Atalomba Kiri Kanan: Senggol Dong!
Senggol biar sadar. Sindir biar cermin. Tertawa biar tidak tegang. Merenung biar tidak tenggelam. Sampai jumpa di senggolan berikutnya. Masih saya tulis selagi kopi Flores belum dingin dan suara hati kita belum sepenuhnya diredam ego.
