Ketika OMK Wewoloe Menjadi Peziarah Harapan yang Ekologis

Stasi Dhawe, Wewoloe 11 Juli 2025 — Atalomba.com
Langit Dhawe perlahan cerah, seperti menyambut sekelompok peziarah muda yang datang membawa semangat dan harapan. Jalan-jalan kecil di Wewoloe menjadi saksi langkah kaki para orang muda dari seantero wilayah Stasi. Mereka datang bukan sekadar berkumpul, tetapi untuk menegaskan satu pesan kuat, kami mencintai bumi, dan kami bertanggung jawab menjaganya.
Wewoloe Youth Day 2025 di Stasi Dhawe berlangsung sederhana namun sarat makna. Dengan tema besar “Orang Muda Peziarah Harapan yang Ekologis”, kegiatan ini menjadi momentum reflektif sekaligus revolusioner bagi orang muda Katolik untuk menata ulang relasinya dengan alam.
Di tengah suasana misa pembukaan yang khidmat, Pastor Paroki Wewoloe, RD. Yanto Songka, berdiri di mimbar dengan suara lantang dan penuh kehangatan. Dalam kotbahnya, ia menyampaikan pesan yang menggugah hati:
“Tuhan sudah beri kita laut, udara, dan daratan. Di laut ada uang, di udara ada uang, di daratan pun ada uang. Tapi kamu harus bekerja! Jangan rusak ciptaan-Nya demi keuntungan sesaat. Allah menciptakan dunia ini baik, lalu manusia merusaknya dengan serakah.”
Kata-kata pastor Paroki Wewoloe itu bagaikan palu yang memecahkan kesadaran. Bahwa alam bukan warisan nenek moyang yang bisa diperas seenaknya, tetapi pinjaman dari anak cucu yang harus dijaga dengan penuh hormat.
Ia melanjutkan, “Orang muda harus jadi pelopor perubahan. Jangan jadi penonton di tengah krisis. Bangkit dan lawan! Lawan budaya buang sampah sembarangan! Lawan mentalitas plastik sekali pakai! Lawan proyek-proyek rakus yang membunuh sumber air kita!”
Dalam suasana perkemahan yang sederhana, tetapi tertata apik di halaman Kapela Stasi Dhawe, para peserta mendapat kesempatan mendalami tema besar ekologis melalui workshop intensif selama dua sesi utama. Workshop ini dibawakan oleh Irminus Deni, fasilitator dari Tim Advokasi Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, sebuah gerakan gereja lokal yang selama ini konsisten mengawal isu lingkungan hidup di Kabupaten Nagekeo.
Sesi pertama bertajuk “Krisis Ekologi Realitas dan Dampaknya bagi Orang Muda”, mengupas wajah muram dunia yang sedang panas, haus, dan sesak karena eksploitasi manusia. Irminus menampilkan data dan gambar tentang deforestasi di Flores, proyek pertambangan, krisis air di kampung-kampung, dan fenomena cuaca ekstrem. “Saat ini kita sedang hidup di zaman yang membunuh masa depan. Bukan karena kiamat, tapi karena pilihan manusia yang rakus,” tegasnya.

Anak-anak muda terdiam. Bagi sebagian besar dari mereka, ini bukan sekadar teori. Mereka hidup dan tumbuh dalam kenyataan desa-desa yang airnya kering, hutannya gundul, dan sawahnya dikepung panas serta polusi.
Sesi kedua mengambil tema “Harapan Ekologis Visi Masa Depan Berkelanjutan”. Di sini, Irminus mengajak peserta untuk membangun mimpi dan aksi. “Kita tidak bisa menunggu orang lain. Kamu harus mulai dari dirimu sendiri. Kamu harus menjadi tanda harapan bagi dunia yang sedang sekarat,” katanya. Ia menekankan bahwa iman tanpa aksi ekologis adalah iman yang ompong.
Sebagai penutup workshop, para peserta menyepakati dan merumuskan 9 Aksi Nyata OMK Wewoloe untuk Bumi. Ini bukan sekadar janji basa-basi, melainkan tekad yang akan dihidupi bersama:
- Bawa Botol Minum Sendiri, kurangi botol plastik sekali pakai.
- Tanam 1 Pohon, Rawat Seumur Hidup, di halaman, kebun OMK, atau tanah kosong paroki.
- Kurangi Sampah Makanan, ambil secukupnya, jangan mubazir.
- Buat Konten Edukasi Lingkungan, TikTok, Reels, atau Podcast bertema Laudato Si’.
- Ikut Bank Sampah atau Buat di Paroki, karena sampah bisa jadi berkah.
- Libatkan OMK dalam “Misa Hijau”, misa tanpa plastik, doa alam, homili ekologis.
- Tolak Proyek Merusak Alam di Wilayahmu, bersuara lewat surat, aksi damai, atau petisi.
- Buat Program “1 Minggu 1 Aksi untuk Alam”, misalnya: Senin Tanpa Plastik, Jumat Tanam, Minggu Doa Alam.
- Bersihkan Lingkungan Sekitar Setiap Pekan, minimal 1 jam, bersama OMK. Kesembilan aksi ini disusun bukan untuk dipajang, tapi untuk dikerjakan. Setiap OMK akan membawa pulang komitmen ini ke KUB masing-masing dan membagikannya dalam komunitas mereka.
Wewoloe Youth Day 2025 telah usai. Tapi percikan nyala api kesadaran ekologis itu kini menyala di dada setiap peserta. Mereka kembali ke kampung masing-masing dengan pikiran yang terbuka, hati yang tergerak, dan tangan yang siap bekerja.
Dari perkemahan kecil di lembah Dhawe, suara orang muda menggema. Kami bukan anak-anak yang apatis. Kami adalah peziarah harapan. Kami memilih untuk mencintai bumi. Karena iman yang sejati bukan hanya soal doa di altar, tetapi juga soal memungut plastik dari tanah, menanam pohon dengan tangan sendiri, dan menolak proyek-proyek rakus yang ingin menjual masa depan kami. Dari Wewoloe untuk Nagekeo, dari Nagekeo untuk Flores, dan dari Flores untuk dunia. (AL/ID)
