Atalomba Kiri Kanan, Senggol Dong! “Ini Aku, Ini Saya, Bukan Ini Kita”

Oleh: Irminus Deni
Ada masa di mana kita semua berdiri di bawah panas matahari, menunduk, bekerja, berdoa, dan saling membantu dengan kalimat sederhana,
“Kita sama-sama berjuang, ya.”
Tapi zaman berganti cepat, Bosqu. Dan tiba-tiba saja, begitu sukses diraih, kalimat itu berubah pelan-pelan jadi,
“Saya yang berjuang, bukan kita.”
Dulu orang datang dengan merendah, minta doa, minta dukungan, minta jaringan, minta tenaga.
Begitu berhasil, semua nama yang dulu disebut, hilang seperti embun. Yang tinggal hanya dada yang ditepuk, keras-keras, sambil berkata dengan bangga,
“Ini karena saya.”
Dari Mohon Tolong ke Tepuk Dada
Kita sudah terlalu sering menyaksikan drama yang sama. Ketika masih dalam proses, semua jadi saudara. Yang satu bantu, yang lain sumbang, yang lain berdoa, dan yang lain menghibur. Semua bilang, “Kita sama-sama bantu, ya.”
Tapi begitu pekerjaan selesai, begitu kursi tercapai, begitu kamera mulai menyorot, semua yang dulu disebut “kita” tiba-tiba menghilang. Yang tersisa hanya satu kata sakti, “saya.”
“Saya yang berjuang.”
“Saya yang kerja keras.”
“Saya yang bertahan.”
Dan mereka yang dulu membantu dari belakang panggung kini jadi penonton di luar pagar, menatap dengan senyum pahit, sambil berbisik pelan,
“Dulu kamu bilang kita.”
Ya, begitulah nasib banyak perjuangan di NTT, bahkan di mana pun di negeri ini. Kebersamaan itu cuma sementara, berlaku selama belum ada hasil. Begitu hasil datang, kebersamaan diganti dengan kepemilikan pribadi.
Kami Punya Kuasa, Tapi Kamu Bukan Penguasa
Ini kalimat yang harus diingat,
“Kami punya kuasa, tapi kamu bukan penguasa.”
Karena di negeri kecil ini, di pulau-pulau yang indah dan panas oleh perjuangan, banyak yang lupa perbedaan antara kuasa dan penguasa. Kuasa adalah mandat rakyat, amanah kebersamaan, hasil dari “kita.” Tapi penguasa adalah ketika seseorang lupa diri, lupa asal, dan mulai merasa dunia ini hanya bergerak karena langkahnya sendiri.
Lihat saja, Bosqu. Setiap kali ada yang berhasil naik ke panggung, ada yang tiba-tiba lupa cara turun.
Setiap kali ada yang berhasil duduk di kursi empuk, kursinya dianggap milik pribadi. Setiap kali ada yang berhasil tanda tangan proyek, tanda tangannya dianggap wahyu Tuhan. Padahal sebelum itu, dia datang dengan tangan menunduk, bilang,
“Tolong bantu saya.”
Kita bantu. Kita percaya. Kita ikut mendorong, mendoakan, menulis, mengantar, menyiapkan kopi, menahan lapar. Tapi begitu dia tiba di puncak, semua yang di bawah dianggap rumput. Dan ketika ditegur, dia bilang dengan nada tinggi,
“Saya punya kuasa!”
Padahal, Bosqu, kita tahu, Kuasa itu bukan milikmu. Itu milik “kami”. Kamu hanya pinjam. Dan setiap pinjaman harus dikembalikan dengan rendah hati.
Derajat Kita Beda, Tapi Siapa yang Mengukur?
Satu lagi kalimat yang makin sering terdengar di ruang-ruang kekuasaan.
“Derajat kita beda.”
Kalimat itu seperti racun halus yang pelan-pelan mematikan semangat kebersamaan. Dulu duduk di warung yang sama, minum kopi yang sama, bercanda dengan nada yang sama. Sekarang, baru sedikit naik posisi, langsung beda kursi, beda nada, beda cara menatap.
Yang dulu bisa panggil “kawan”, sekarang harus pakai “Bapak.” Yang dulu bisa bercanda, sekarang harus lewat protokol. Yang dulu bisa bicara dari hati, sekarang harus minta jadwal.
Begitu mudah manusia lupa tanah tempat ia berdiri. Begitu cepat manusia melupakan wajah-wajah yang ikut mendorongnya naik. Kita hidup di zaman di mana derajat ditentukan oleh posisi, bukan oleh pengabdian. Dan di situ, Bosqu, keikhlasan mati pelan-pelan, digantikan oleh gengsi dan pangkat.
Ini Karena Saya, Bukan Karena Kita
Fenomena “ini karena saya” itu menjalar ke mana-mana. Dari kantor desa sampai ruang gereja, dari panggung politik sampai ruang komunitas. Ketika program berhasil, semua berebut klaim.
“Itu karena saya!”
Ketika proyek sukses, semua tampil di foto:
“Itu hasil kerja saya!”
Tapi ketika gagal, tiba-tiba semua lenyap.
Tidak ada “saya”, yang ada cuma “mereka.”
Lihat bagaimana manusia modern begitu piawai memainkan kata ganti. Ketika butuh, mereka bilang “kami.” Ketika gagal, mereka bilang “mereka.” Tapi ketika berhasil, mereka bilang “saya.”
Padahal, Bosqu, tidak ada “saya” tanpa “kita.” Tidak ada satu kemenangan yang lahir dari satu tangan saja. Ada peluh orang yang tidak dikenal, ada doa orang tua di kampung, ada air mata pekerja kecil yang tidak pernah disebut namanya. Dan lucunya, yang dulu menunduk sambil bilang “tolong bantu saya” sekarang berpidato dengan dada membusung.
“Saya berhasil karena kerja keras saya sendiri.”
Padahal, kita tahu. Kerja kerasnya hanya sebagian kecil dari semua tangan yang pernah terulur.
Dari “Kita” ke “Saya”. Sejarah yang Terulang
Pola ini bukan hal baru. Sejak zaman dulu, setiap kali kekuasaan berganti tangan, yang lama dilupakan.
Yang baru muncul dengan slogan baru, tapi pola yang sama.
“Saya yang menyelamatkan situasi.”
Kita lihat di lembaga-lembaga lokal. Setiap kali ada pergantian pemimpin, semuanya dimulai dari nol, karena yang baru tidak mau meneruskan program “orang lain.” Padahal, kalau betul bekerja untuk rakyat, tidak perlu peduli siapa yang memulai.
Tapi tidak, Bosqu. Yang penting bukan rakyatnya, tapi nama di prasasti. Yang penting bukan hasilnya, tapi siapa yang difoto saat peresmian. Yang penting bukan kerja nyatanya, tapi siapa yang menandatangani berita acara. Dan di situlah kita jatuh lagi, dalam lubang yang sama. Lupa bahwa semua keberhasilan adalah kerja “kita.”
Mentalitas Panggung. Saat Kamera Menjadi Tuhan
Kita hidup di zaman di mana tepuk tangan lebih berharga dari keringat. Yang penting bukan siapa yang bekerja, tapi siapa yang terlihat bekerja. Yang penting bukan hasilnya, tapi siapa yang pertama posting.
Lihat di tiap acara peresmian, di tiap pembagian bantuan, di tiap proyek desa. Sebelum pekerjaan selesai, kamera sudah siap. Sebelum rakyat puas, konten sudah naik. Dan setiap konten ditutup dengan kalimat klasik.
“Terima kasih untuk diri saya sendiri yang sudah berjuang.”
Kita tertawa, tapi sebenarnya ingin menangis. Karena yang dulu jadi semangat kebersamaan kini jadi ajang pamer kesendirian. Mereka bilang, “Ini bukti kerja nyata.” Padahal yang nyata itu bukan kerja, tapi kameranya.
Kami yang Tak Pernah Dianggap
Mari bicara tentang mereka yang tak pernah disebut, orang-orang yang bekerja di belakang, yang tidak pernah diajak ke foto bersama. Mereka yang mengetik naskah, memikul barang, menyiapkan makan, membersihkan ruangan, tapi tak pernah masuk daftar ucapan terima kasih.
Ketika butuh, mereka jadi sahabat. Ketika sukses, mereka jadi bayangan. Dan ironisnya, mereka masih datang kalau dibutuhkan lagi. Masih mau menolong, meski tahu akhirnya nama mereka tak akan disebut juga.
Itulah kekuatan “kami.” Kekuatan orang-orang yang diam tapi bekerja. Yang tak butuh kamera, tapi membuat segala hal berjalan. Dan itulah alasan mengapa kata “kami” selalu lebih berharga dari “saya.”
Karena “kami” tidak butuh panggung, kami hanya butuh makna.
Kuasa yang Memabukkan
Kuasa itu seperti arak tuak yang manis di awal, tapi memabukkan di ujung. Sedikit saja diminum, bisa bikin lupa arah. Dan banyak orang, terutama yang baru mencicipinya, tak tahu cara berhenti. Mereka mulai percaya bahwa kuasa itu miliknya, bukan amanah. Mereka lupa bahwa setiap tanda tangan yang dibuat akan kembali diuji oleh waktu. Mereka lupa bahwa jabatan datang dan pergi, tapi nama baik tinggal atau hancur selamanya.
Kita melihat banyak contoh, Bosqu. Dari tingkat desa sampai nasional, dari kantor kecil sampai istana besar. Banyak yang naik karena “kita”, tapi jatuh karena “saya.” Banyak yang diangkat oleh rakyat, tapi tumbang oleh kesombongan. Dan di saat itulah kita sadar, bahwa penyakit paling berbahaya bukan korupsi uang, tapi korupsi makna. Korupsi “kita” jadi “saya.” Korupsi solidaritas jadi ambisi pribadi.
Senggol Dulu, Bosqu…
Senggol dulu yang suka bilang.
“Saya tidak butuh siapa-siapa.”
Padahal dulu, waktu jatuh, dia mengetuk setiap pintu minta tolong.
Senggol juga yang suka bilang.
“Derajat kita beda.”
Padahal waktu butuh dukungan, dia datang dengan senyum, bilang “saudara kita semua sama.”
Dan senggol paling keras buat yang suka bilang.
“Saya punya kuasa.”
Karena kuasa tanpa kebijaksanaan hanyalah panggung sandiwara dengan durasi terbatas.
Penutup: Kembalikan “Kita” Sebelum Terlambat
Bosqu, mungkin dunia ini memang sedang cepat berputar. Tapi kita masih punya pilihan untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Karena pada akhirnya, semua tepuk dada akan berhenti.
Kursi akan diganti, jabatan akan usai, sorotan kamera akan padam. Dan yang akan tinggal hanyalah satu pertanyaan sederhana.
“Siapa yang masih bersamamu setelah semua tepuk tangan hilang?”
Kalau jawabannya tidak ada, maka semua keberhasilanmu hanya sebatas bunyi mikrofon. Tapi kalau masih ada yang mau menyebut namamu dengan penuh hormat, meski kamu tak lagi punya kuasa, itu artinya kamu dulu tidak lupa bilang “kita.”
Jadi, mari kembalikan lagi makna itu. Kita boleh berjuang sendiri, tapi jangan pernah merasa sendirian.
Kita boleh sukses, tapi jangan pernah lupa siapa yang ikut mendorong. Karena sejatinya, tak ada “saya” yang lahir tanpa “kita.” Dan bangsa ini, NTT ini, hanya akan maju kalau yang ditepuk bukan dada, tapi bahu-bahu sesama.
🪶
Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
(Masih percaya bahwa setiap keberhasilan adalah cerita bersama, bukan monolog seorang pemenang.)
