CLARA: Jalan Pulang dari Dunia Gelap Episode 3, Perbatasan yang Tak Bernama

(Karya: Irminus Deni / Atalomba.com)
Subuh itu, suara mobil berhenti di depan rumah penampungan. Para gadis dibangunkan tergesa.
“Cepat! Bereskan barang kalian!” bentak Bu Mei. Clara menggenggam rosario kecil yang diberikan Mama Lidia sebelum ia pergi, Rosario itu peninggalan Ayahnya. Ia tidak tahu ke mana akan dibawa, tapi hatinya sudah tahu, ini bukan lagi perjalanan menuju pekerjaan. Ini penyerahan.
Mereka digiring masuk ke dalam mobil boks tanpa jendela. Di dalam gelap, hanya terdengar deru mesin dan isak pelan gadis-gadis lain. “Bu Mei, ini ke mana?” tanya seorang gadis. “Diam!” bentak si wanita. “Nanti kalian tahu.” Clara memeluk lututnya, menatap kosong ke lantai mobil. Doa dalam hatinya pelan tapi terus menerus, Tuhan, kalau ini jalan yang salah, tolong tunjukkan tanda.
Perjalanan panjang itu seperti tak berujung. Setelah belasan jam, mereka berhenti di sebuah rumah besar di pinggiran hutan, tak jauh dari pantai. Di sana sudah menunggu Om Rudi, pria yang dulu datang dengan janji manis dan senyum ramah. “Bagus. Semua lengkap,” katanya sambil menghitung jumlah gadis. “Kalian akan diantar malam ini ke perbatasan. Setelah itu, urusan Om selesai.”
Clara menatapnya dengan mata penuh tanya. “Om, bukankah Om juga ikut?” Rudi menggeleng. “Tidak, Nak. Tugas Om cuma di sini. Setelah ini, kalian diserahkan ke orang yang urus di seberang. Namanya Pak Toke. Dia bos besar, orangnya baik. Kau dengar kata dia, semua aman.” “Aman?” suara Clara bergetar. “Kenapa harus sembunyi-sembunyi begini kalau aman?” Rudi tersenyum kecil. “Beginilah sistemnya. Kau terlalu polos.” Ia lalu menandatangani beberapa lembar dokumen dan menyerahkannya kepada dua pria asing yang menunggu di halaman. Dari nada bicara dan tatapan mata, Clara tahu, mereka bukan orang sembarangan.
Budi teman SMA Clara datang sore itu, membawa mobil kecil untuk mengantar Clara dan beberapa gadis lain sampai ke pantai. Ia menunduk sepanjang waktu, tak berani menatap. “Budi, kau tahu ini ke mana?” tanya Clara lirih. “Aku… cuma disuruh antar. Setelah itu aku pulang,” jawabnya pendek.
“Pulang?” Clara hampir tertawa. “Kami ke mana?” Budi tak menjawab. Tangannya gemetar di atas setir. dalam hati Clara mengatakan, “Budi tak ku sangka, kau tega menjual saya, kita sama-sama satu kampung, kita sama-sama sekolah, semoga kau tidak menjual saya“. pikir Clara dalam hati.
Setelah beberapa kilometer, mobil berhenti di jalan tanah dekat pantai gelap. Di sana sudah menunggu dua pria bersenjata tajam. Om Rudi turun, menyerahkan map cokelat kepada salah satu dari mereka. “Ini nama-namanya. Semua sudah siap. Uang transfer seperti biasa?” Pria itu mengangguk, lalu menyerahkan amplop tebal. Om Rudi menepuk bahu Budi. “Kau bagus kerja hari ini. Pulanglah. Kau sudah dapat bagianmu.” melihat itu hati Clara hancur, ternyata Budi telah menjualnya.
Budi menatap amplop itu dengan wajah pucat. “Om, ini manusia, bukan barang.” om Rudi mendecak pelan. “Budi, jangan sok suci. Dunia memang begini. Kalau bukan kita yang ambil, orang lain yang ambil.” Lalu ia menoleh pada Clara. “Kau jaga dirimu. Di sana, hidup lebih keras. Tapi kalau pintar, kau bisa selamat.” Clara menjawab dengan singkat “Budi begitu tega-nya kau menjual aku yang adalah keponakanmu sendiri” dalam hati Clara berpikir mau lari, tapi tidak tau jalan. Budi tersenyum terakhir kalinya, lalu pergi. Mobilnya perlahan menghilang di balik pepohonan, meninggalkan debu, dan sepi yang menggigit.
Malam itu, mereka diarahkan menuju pantai terpencil. Tak ada lampu, hanya bayangan ombak dan cahaya bulan separuh. Dari kejauhan, samar terlihat kapal nelayan kayu yang menunggu dengan mesin menyala pelan. “Cepat, naik! Jangan banyak tanya!” perintah seorang pria berlogat kasar. Clara dan teman-temannya naik dengan tubuh gemetar. Kapal itu berangkat tanpa suara, hanya diiringi gemuruh ombak dan bau solar yang menusuk hidung.
Mereka berlayar beberapa jam, jauh ke laut lepas. Setiap kali lampu kapal lain terlihat, nahkoda mematikan mesin dan berbisik keras, “Jangan bersuara! Kalau patroli tahu, kita semua mati!” Setelah perjalanan panjang, nahkoda menunjuk ke arah bayangan pantai gelap di kejauhan. “Itu sudah seberang! Kalian turun di sini. Berenang ke sana!” “Apa?!” seru seorang gadis. “Jaraknya jauh!”
“Seratus meter saja! Ayo cepat! Kalau lambat, kita tertangkap!”
Air laut malam itu dingin seperti pisau. Satu per satu mereka terjun, menjerit kecil saat tubuh mereka menghantam ombak asin. Clara menahan napas, menggenggam tangan Mira, dan berenang sekuat tenaga. Ombak menggulung, pasir terasa jauh, dan rasa takut jadi satu dengan asin air laut.
Kapal nelayan itu tak menunggu lama. Begitu semua gadis turun, nahkoda memutar haluan. Mesin meraung pelan, dan dalam hitungan menit, kapal itu lenyap kembali ke arah Indonesia. Hanya buih ombak yang tersisa, seolah tak pernah ada siapa pun di sana. Ketika akhirnya Clara menjejak pasir pantai, tubuhnya gemetar, jantung berdegup tak karuan. Di pantai sudah menunggu dua pria asing dengan senter di tangan. “Cepat! Lari ke mobil! Jangan bicara!” Clara sempat menoleh ke laut, laut yang tadi jadi batas hidup dan mati, sebelum didorong masuk ke truk bak tertutup. Malam itu, ia resmi hilang dari peta negeri sendiri.
Malam di kampung itu hening, hanya suara angin di sela-sela atap bambu. Mama Lidia berdoa di depan lilin kecil, sementara jauh di seberang sana, Clara berdoa di ruang gelap tanpa jendela. Dua doa yang berangkat dari tempat berbeda, tapi sama-sama mencari jawaban dari langit yang diam.
“Tuhan, tolong jaga anakku.”
“Tuhan, tolong bawa aku pulang.”
(Bersambung ke Episode 4 — “Rumah Tanpa Jendela”)
