Ledalero Menyaksikan Cinta Allah: Mata yang Melihat Menjadi Kehidupan dalam 13 Imam Baru SVD
Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, memimpin tahbisan suci dan mengutus para imam baru ke ladang perutusan di berbagai penjuru dunia.

Ledalero, Sabtu 4 Oktober 2025 Atalomba.com — Seiring pagi merekah di puncak Bukit Ledalero, udara lembah terasa berat oleh doa dan harapan. Kabut tipis menari di atas pepohonan, menyelimuti kompleks seminari dalam keheningan sakral. Lonceng biara berdentang panjang, memanggil bukan hanya umat, tetapi jiwa yang merindukan panggilan. Di tengah itu, langit menahan hujan agar tak mengaburkan sakramen suci pagi ini.
Di altar utama Seminari Tinggi St. Paulus, 13 diakon muda berdiri hening dalam sorot lilin dan cahaya lembut. Di sana, iman menjadi hidup, janji diperbarui, dan mata panggilan dibukakan. Tema tahbisan “Berbahagialah mata yang melihat” bergema di setiap bisik napas, di setiap doa umat yang menyatu, mematri harapan ke dalam hati imam-imam baru.
Ketika Ekaristi dimulai, gelanggang sakral itu dipenuhi ribuan umat, keluarga dan kerabat yang datang dari berbagai sudut Flores dan sekitarnya, biarawan dan biarawati, seminaris, serta para tamu undangan yang rela melewati jalur terjal demi menyaksikan sakramen agung. Banyak yang berdiri melongok, mencoba menangkap momen yang tak sering terjadi, hari di mana Allah “melihat” jiwa manusia, dan manusia diutus untuk “melihat” dunia dengan mata-Nya.
Perayaan dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Dalam khotbahnya, beliau menegaskan bahwa menjadi imam bukanlah sekadar mengajar, merayakan misa, atau membacakan Sabda, tetapi melihat dunia dengan mata Kristus, melihat luka di balik senyum warga, mendengar seruan sunyi di antara keramaian, mengenali Allah dalam sesama manusia yang terpinggirkan.
Ia mengisahkan kisah seorang Bruder Reinhold, seorang anggota SVD di Austria yang secara fisik buta, namun memiliki mata batin yang jernih. Dengan itu, Uskup menggambarkan bahwa “mata yang melihat bukanlah mata kasat, tetapi mata iman yang mampu menyentuh hati.” Di depan altar, para diakon menyaksikan gestur sakral penumpangan tangan dan pengurapan minyak krisma; mereka dibalut stola dan dipasangi salib, menerima perlengkapan liturgi sakristik sebagai tanda bahwa mereka kini diutus, bukan untuk menjulang, tetapi untuk melayani.
Dari kerumunan umat muncul tepuk tangan hening yang menggema dalam doa, seolah ribuan mata menyaksikan transformasi panggilan. Air mata meleleh dari pipi orang tua, dari mata saudara, dari keriput wajah kaum tua yang mendoakan. Ini bukan perpisahan, melainkan seruan agar imam baru menjaga mata agar tetap melihat, agar pelayanan tidak menjadi rutinitas yang membutakan hati.
Di akhir liturgi, dalam suasana syukur, Pater Rikardus Mantero, SVD, mewakili imam-imam baru menyampaikan bahwa mereka datang bukan karena kekuatan diri, tetapi karena panggilan yang lebih dulu menghampiri mereka. “Kami ada di sini bukan karena hebat, tetapi karena Tuhan memanggil dan memelihara kami,” ujarnya getir namun penuh keyakinan. Ia menyebut para formator, keluarga, komunitas, serta umat yang turut menanggung panggilan mereka sebagai saksi pelantikan hidup. Ia mengutip, banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih dan karena itu, rahmat ini harus dihidupi dalam kesetiaan.
Ke 13 imam baru yang ditahbiskan mereka adalah, RP Emanuel Tredoanus Mere, SVD, RP Antonius Gaina Kaka, RP Rikardus Mantero, RP Carolus Batlyayeri, RP Antonius Moa, RP Yoseph Vandus Liliweri, RP Yohanes A. Deo Torong, RP Akahala Hilarius Huler, RP Alexander Sola Lele Madja, RP Bala Kean Bartolomeus, RP Paulus Yoseph de Rosario, RP Florianus Nai Nara, dan RP Anselmus Ngeta.
Menurut catatan resmi dari situs Seminari Tinggi Ledalero, perutusan para imam baru meliputi berbagai wilayah misi global, Mantero Rikardus akan berkarya di Provinsi SVD Timor, De Rosari Yoseph Paulus di Provinsi SVD Togo-Benin, Nai Nara Florianus di Provinsi SVD Kenya-Tanzania, dan Mere Emanuel Tredoanus akan berkarya di Provinsi SVD Timor. Bala Kean Fransiskus Bartolomeus diutus ke Provinsi SVD Togo-Benin, sementara Vanduz Liliweri Yoseph ke Bangladesh. Sola Lele Madja Conradus Alexander ditempatkan di Provinsi SVD Ruteng, Ngenta Anselmus ke Regio SVD Bolivia. Moa Antonius ke Provinsi SVD Portugal, Batlyayeri Carolus ke Provinsi SVD Ende, Huler Akahala Hilarius ke Provinsi SVD Ekuador, Gaina Kaka Antonius ke Chad, dan Torong Yohanes A Deo ke Provinsi SVD Belanda-Belgia.
Dengan tugas misi itu, imam-imam baru tidak hanya mengabdi di wilayah lokal, tetapi menjangkau sabda dan kasih Allah ke berbagai benua dan masyarakat. Dari pedalaman Flores hingga sudut Afrika dan Asia, mereka diutus sebagai duta iman yang harus memelihara mata agar tetap sensitif terhadap realitas.
Saat semboyan liturgi berakhir dan umat berdiri memberikan sambutan, sorotan mata menyapu wajah imam baru satu per satu, penuh harap, kerendahan, dan keberanian untuk melangkah ke ladang panggilan yang luas. Dalam lenguhan doa penutup, Uskup kembali menegaskan bahwa imam bukanlah pengintai atau pengawas, melainkan murid yang melihat, tergerak, dan bertindak. Ia mengajak umat agar bukan sekadar menyaksikan dari jauh, tetapi menjadi bagian dari panggilan, mendukung dalam doa, karya bersama, dan kerja bakti pastoral.
Kegembiraan pagi itu bukan milik SVD semata, melainkan milik Gereja universal. Atalomba.com yang menyaksikan menyebut bahwa penahbisan ini mengukuhkan peran Ledalero sebagai pusat pembinaan imam SVD terbesar di dunia.
Dengan langkah-langkah pertama mereka ke luar altar, imam baru melewati garis doa umat yang mengejar jejak mereka. Mereka akan bertemu realitas yang keras, kemiskinan, konflik sosial, kerusakan lingkungan, generasi muda yang sering terasing dari iman. Namun di setiap langkah, mereka membawa tema yang melekat di hati, mata yang melihat, bukan mata dunia, tetapi mata Tuhan yang merangkul, menyembuhkan, dan menghadirkan harapan.
Semoga setiap umat yang tergerak oleh berita ini menajamkan matanya untuk melihat panggilan imam, mendukung mereka dengan doa dan kasih, dan berjalan bersama mereka di ladang pelayanan. Imam-imam baru ini bukanlah milik SVD semata, melainkan milik Gereja dan dunia yang merindukan kehadiran Sabda hidup di tengah kerinduan manusia. (AL/Irminus Deni)
