“Jalan Rusak” yang Tak Pernah Ada: BPJN NTT Bongkar Hoaks Proyek Mauponggo–Ngera–Pu’uwala

NAGEKEO NTT Atalomba.com – Di tengah riuhnya tudingan bahwa jalan baru di ruas Mauponggo–Ngera–Pu’uwala “sudah rusak hanya dalam hitungan bulan”, sebuah fakta justru muncul dari lapangan, kerusakan itu tidak pernah benar-benar ada.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur akhirnya turun tangan. Bukan sekadar klarifikasi di balik meja, tetapi langsung menapaki aspal yang dituduh rusak. Dan hasilnya? Sunyi dari retakan. Sepi dari kerusakan. Yang ada hanyalah satu hal, kesalahpahaman yang berubah menjadi hoaks.
Kepala Seksi Preservasi Jalan dan Jembatan BPJN NTT, Rofinus Ngilo, ST, bersama timnya turun langsung ke Desa Ngera, Kamis (19/3/2026). Didampingi PPK 4.1, Ricard Manukoa, mereka menelusuri setiap titik yang sebelumnya disebut-sebut rusak parah oleh sejumlah media.
Tak ada yang dilewatkan. Dari permukaan hotmix hingga struktur lapisan jalan, semuanya diperiksa. Bahkan titik-titik yang sempat viral turut dicek ulang. Namun hasilnya justru mematahkan narasi yang telah terlanjur dipercaya publik. “Tidak ada kerusakan seperti yang diberitakan. Ini tidak sesuai fakta di lapangan,” tegas Rofinus.
Kalimat itu sederhana. Tapi dampaknya besar. Ia seperti menampar keras arus informasi yang selama ini bergerak tanpa rem.
Masalah utama ternyata bukan pada jalan, melainkan pada cara melihatnya. Saat berita “kerusakan” itu menyebar, proyek tersebut masih dalam tahap pengerjaan. Belum selesai. Belum PHO.
Namun sebagian pihak sudah buru-buru memberi vonis, rusak. Padahal dalam dunia konstruksi, perbaikan sebelum PHO adalah hal biasa. Bahkan wajib. “Kontraktor sedang memperbaiki sebelum serah terima. Itu bagian dari tanggung jawab mereka,” jelas Rofinus. Artinya, yang dianggap sebagai kegagalan justru adalah bagian dari proses penyempurnaan.
Tak hanya kondisi jalan, informasi lain pun ikut melenceng. Nilai proyek yang disebut mencapai Rp 18 miliar ternyata hanya Rp 9 miliar. Selisih yang tidak kecil. Begitu juga dengan klaim bahwa jalan “rusak sebulan setelah selesai”. “Kontrak saja masih berjalan. Belum PHO. Jadi rusaknya di mana?” kata Rofinus dengan nada heran. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi soal jalan. Tapi soal bagaimana informasi bisa berubah begitu jauh dari fakta.
Di balik semua polemik, ada satu faktor yang nyaris luput, adalah alam. Yanuarius Tenda, warga Desa Ngera yang sempat vokal mengkritik proyek ini, kini justru mengakui kekeliruannya.
Ia menyebut retakan yang sempat muncul bukan karena kualitas pekerjaan buruk, melainkan karena kondisi alam.
“Kalau musim hujan, mata air muncul di badan jalan. Itu yang bikin aspal pecah saat masih dikerjakan,” ujarnya.
Ia bahkan mengungkap bahwa kontraktor telah berulang kali melakukan perbaikan.
“Sudah diperbaiki, tapi kalau hujan lagi, rusak lagi. Itu karena alam, bukan karena kerja asal-asalan.” Kini, penilaiannya berubah. “Hasilnya bagus dan memuaskan,” katanya.
Jika hoaks dibangun dari kata-kata, maka fakta di lapangan dibangun dari kerja. Empat truk pengangkut hotmix terlihat antre. Aspal panas dihampar, diratakan, lalu dipadatkan oleh tandem roller.
Semua berlangsung di bawah tekanan cuaca yang tidak bersahabat. Tidak ada tanda-tanda proyek “gagal”. Yang ada justru proses kerja yang terus berjalan. Dan hasilnya mulai terlihat, jalan yang padat, rata, dan layak dilalui.
Kasus ini membuka satu realitas yang tidak nyaman, bahwa tidak semua kritik lahir dari pemahaman yang utuh. Sebagian mungkin berangkat dari kepedulian. Namun sebagian lain terjebak pada kecepatan tanpa verifikasi.
Dan di situlah garis tipis antara kritik dan hoaks menjadi kabur. BPJN NTT sendiri tidak menolak kritik. Namun mereka menegaskan bahwa kritik harus berdiri di atas fakta. “Kami sudah cek langsung. Tidak sesuai dengan yang diberitakan,” tegas Rofinus.
Dalam dunia yang bergerak cepat, hoaks sering kali datang lebih dulu. Ia viral. Ia dipercaya. Ia menyebar. Sementara kebenaran berjalan pelan. Ia harus dicek. Ia harus dibuktikan.
Dan ketika akhirnya sampai, publik sudah lebih dulu gaduh. Kasus jalan Mauponggo–Ngera–Pu’uwala adalah contoh nyata. Bahwa sesuatu bisa disebut rusak, padahal belum selesai. Bisa disebut gagal, padahal masih berproses.
Dan di antara semua itu, satu hal yang perlu diingat, Tidak semua yang viral adalah fakta. Dan tidak semua yang diam itu salah. Kadang, kebenaran hanya butuh satu hal sederhana, turun ke lapangan. (AL/Irminus Deni)
