Status Liber: Cinta yang Tersesat, Doa yang Menemukan Jalan Pulang

Oleh: Irminus Deni
(Pemimpin Redaksi Atalomba.com dan Sekretaris Divisi Migran–Perantau Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende)
Cinta yang Terlalu Muda untuk Bertanggung Jawab
Di halaman SMA negeri di pinggir kota Mbay, dua anak muda duduk di bawah pohon mangga.
Namanya Riko dan Lina. Mereka baru berusia tujuh belas, tapi merasa dunia hanya milik mereka berdua. Cinta mereka tumbuh dari tawa ringan dan janji kecil yang sering diucapkan tanpa berpikir panjang.
“Aku cinta kamu, Lin. Selamanya.”
“Aku juga, Ko. Tuhan pasti restui kita.”
Kalimat itu terdengar indah, sampai suatu malam, rasa ingin tahu dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat mereka kehilangan kendali. Cinta yang awalnya suci berubah menjadi luka yang perlahan menggulung kehidupan mereka berdua.
Beberapa bulan kemudian, Lina sadar tubuhnya berubah. Khawatir, ia memeriksakan diri ke bidan. Hasilnya membuat dunia seolah berhenti berputar, ia hamil.
“Riko… aku hamil.”
“Apa?!”
“Aku nggak tahu harus bilang ke siapa. Aku takut.”
Riko diam lama. Ia menatap tanah.
“Aku tanggung jawab, Lin. Aku tidak akan kabur, kamu jaga baik baik anak kita.”
Kata-kata itu sederhana, tapi mengikat dua anak muda dalam beban orang dewasa yang belum siap mereka pikul.
Menjadi Dewasa Sebelum Waktunya
Sekolah tak lagi menjadi tempat nyaman. Bisik-bisik teman, tatapan guru, dan kecewa keluarga menjadi bayang-bayang setiap hari. Setelah perundingan panjang, keluarga sepakat, Lina akan tinggal di rumah Riko suaminya.
Rumah itu kecil dan tua. Orang tua Riko bekerja sebagai petani dan penjual kayu bakar. Hari-hari Lina diisi dengan memasak, mencuci, dan belajar menjadi istri di usia yang masih belasan. Riko bekerja serabutan, dari tukang angkut pasir sampai memperbaiki motor.
“Sabar ya, Lin. Kalau aku punya kerja tetap, hidup kita pasti berubah,” katanya setiap malam.
Waktu berjalan. Lina melahirkan seorang bayi perempuan mungil. Mereka menamainya Melia. Tangis bayi itu mengubah rasa malu menjadi kebahagiaan kecil yang sederhana.
“Kalau bukan karena anak ini, mungkin aku sudah menyerah,” kata Lina dalam hati sambil menatap wajah bayi itu.
Namun kebahagiaan itu singkat. Makan minum sering bergantung pada bantuan orang tua. Uang untuk beli susu harus menunggu belas kasih kedua orang tua mereka, baik orang tua Lina maupun orang tua Riko. Sampai akhirnya, Riko memutuskan pergi merantau, karena merasa tertarik mendengar cerita teman satu kampung yang baru pulang dari Kalimantan.
Janji di Ujung Dermaga
“Lin, aku dengar di Kalimantan Timur banyak kerja di kebun sawit. Gajinya lumayan,” kata Riko pada suatu malam kepada istrinya Lina.
“Aku akan pergi dulu. Satu tahun saja. Setelah setahun disana aku siapkan semua baru aku pulang, bawa kau dan Melia ke sana.”
Lina menatap suaminya dengan mata basah.
“Kalau itu demi kita, demi Melia buah hati kita, aku ijin kau pergi. Tapi kau jangan lupa saya dan Melia.”
” Lin, kata Riko. Lihat saya baik-baik, kalau aku tidak mau bertanggung jawab, ketika kamu hamil waktu kita masih sekolah aku pasti sudah kabur, tapi aku ingat ketika malam itu, di kos saya, saya berjanji tidak akan meninggalkanmu, apapun resikonya. sekarang aku ijin ke kamu dan anak kita Melia, saya akan pergi mencari pekerjaan di kalimantan. sebenarnya hati saya berat meninggalkan kamu berdua, tapi disini aku tak berdaya Lin“
Lina pun dengan air mata menetes di bantal mengecup suaminya sambil mengatakan “terima kasih sayang, sudah memikirkan kami berdua“.
Beberapa minggu kemudian, Riko berangkat naik kapal dari pelabuhan menuju Kalimantan. Ia membawa ransel kecil, sedikit uang, yang ia pinjam atas nama isterinya di koperasi harian dan harapan yang terlalu besar untuk usia semuda itu.
Satu Tahun Menunggu
Waktu berjalan lambat. Selama setahun, Riko hanya dua kali mengirim uang, masing-masing Rp 500.000. Itu pun habis dalam hitungan minggu. Setiap kali Lina menelepon, jawaban yang sama terdengar dari ujung sana:
“Kerja lagi sepi, Lin. Hujan terus. Kami jarang panen. Gaji belum keluar.”
Lina bertahan dengan sisa sabar. Ia membesarkan anak sambil membantu mertuanya di kebun. Setiap malam ia menatap langit dan berdoa agar janji suaminya tidak berubah. Namun di sisi lain, hidup di Kalimantan membawa cerita berbeda.
Nona dari Tanah Timor
Riko bekerja di perkebunan sawit di Kalimantan Timur. Ia hidup di barak pekerja, makan nasi dan ikan asin, dan tidur di kasur tipis berdebu. Hidup keras, tapi kesepian lebih keras lagi.
Di situlah ia mengenal Nona Maria, seorang gadis muda asal Timor. Awalnya hanya teman bicara, lalu teman makan, lalu teman jalan-jalan di perkebunan sawit. Perlahan, hati Riko goyah.
“Kita kan sama-sama sendiri di sini,” kata Nona Maria.
“Iya,” jawab Riko pelan.
Hari demi hari, hubungan itu tumbuh dalam diam. Mereka bahkan mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di Paroki. Semuanya sudah lengkap, kecuali satu dokumen penting,” status liber” dari paroki asal Riko.
Tanpa status liber, Gereja tidak bisa memberkati mereka. Namun Riko sudah berbohong terlalu jauh untuk berhenti. Maka ia mulai merancang kebohongan baru. Riko berpikir dalam hari, hanya satu orang yang bisa membantunya yaiyu “Mama” Riko teridiam dan merenung memikirkan caranya.
Telepon Rahasia
Suatu sore, di rumah tua di kampung, telepon berdering. Mama Riko, seorang ibu berusia 60-an, menjawab.
Riko “Halo, Ma, ini saya.”
Mama “Iya, Nak, apa kabar? Sudah lama sekali.”
Riko “Baik, Ma. Tapi Ma, saya mau bilang sesuatu… ini rahasia. Biar Lina Isteri sayapun Mama jangan kasih tahu. pokoknya tidak orang lain yang tau selain mama”
Mama “Iya, Mama rahasiakan.”
Riko “Ma, perusahaan di sini minta surat dari paroki, namanya status liber. Kalau tidak ada, saya dipecat dari pekerjaan.”Mama “Riko mama harus buat seperti apa, karena mama tidak mengerti surat apa itu“
Riko “mama pergi ke Paroki, ketemu Pastor Paroki, mama bilang minta Status Liber, alasannya seperti ma. mama kalau sudah tiba di paroki, kalau masiih ada orang mama tunggu dulu, pokoknya mama hanya empat mata dengan pastor paroki ya ma.. pinta Riko“
Mama “Iya anaku, bsk pagi mama pergi minta di Paroki” teleponpun mati
Mama Yuliana tidak tahu apa itu status liber. Tapi ia tahu satu hal, anaknya butuh pertolongan. Keesokan harinya, dengan sarung tenun lusuh dan langkah pelan, ia berjalan ke pastoran.
Dialog Dua Pastor
Setelah menunggu di teras cukup lama, karena masih ada Deawn Paroki yang bertemu dengan Romo, maka Mama dipersilakan masuk.
Romo “Selamat siang, Mama. Mari duduk. Ada perlu apa?”
Mama “Romo, saya datang mau minta surat status liber anak saya yang kerja di Kalimantan. Dia bilang perusahaan minta surat itu. Kalau tidak, dia dipecat.”
Pastor paroki, menatap mama cuku lama, dalam hati Romo berpikir, mama ini pasti tidak mengerti soal status liber, karena untuk usia mama hampit 70 puluhan ini nika tidak pakai status liber dulu.. lalu Romo menyambung pembicaraan dengan mama.
Romo “Oh… anak Mama si Riko itu ya, yang istrinya dan anaknya ada di sini, bersama dengan mama?”
Mama “Iya, Romo. Dia bilang ini urusan perusahaan, Riko minta saya supaya ke isterinya pun saya jangan kasitau, maka itu, tadi pagi-pagi saya pamit ke kebun, saya takut mantu saya tau.”
Romo menghela napas panjang, dalam hati Pastor Paroki berpikir, Sialan ni anak tipu orang tua….
Romo “Sebentar ya, Mama. Saya mau pastikan dulu. mama tunggu disini sebentar ya, tapi mama tau Riko di Kalimantan dimana”
Mama ” tau Romo, dia bilang kalau sudah ketemu Romo, mama tunjuk SMS ini “, sambil menyerakan hp Nokia jadul ke tangan Romo untuk diperiksa. Romopun menerima HP lalu buka isi SMS yang isinya alamat paroki di kalimantan, nomor telepon pastor paroki dll.
Lalu Pastor Paroki mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Romo Adrian, (Bukan nama sebenarnya) pastor paroki di Kalimantan.
Romo paroki, “Selamat siang, Romo Adrian.”
Romo Adrian, “Selamat siang juga, Romo. Apa kabar di Flores?”
Romo Paroki, “Baik, Romo. Saya mau tanya, apakah di paroki Romo ada umat saya atas nama Riko … yang sedang urus KPP?”
Romo Adrian: “Betul, Romo. Mereka sudah ikut kursus. Kami menunggu surat status liber dari paroki asal. Surat dari sini sudah kami kirim minggu lalu, mungkin belum tiba di tempat Paroki Romo.”
Romo Paroki, “Ooh, begitu. Romo, di hadapan saya sekarang ada ibu kandung anak itu.
Ia datang sendiri ke sini karena ditipu anaknya. Anak itu bilang surat ini diminta perusahaan agar ia tidak dipecat.”
Romo Adrian (hening sejenak), “Astaga… jadi dia sudah menikah?”
Romo Paroki, “Sudah, Romo. Ia punya istri dan anak di sini.”
Romo Adrian, “Kalau begitu, kami batalkan proses KPP itu, Romo. Terima kasih sudah memastikan. Kami akan panggil dia. Kasihan juga calon perempuannya.”
Romo Paroki, “Terima kasih, Romo. Tuhan memberkati.”
Telepon ditutup. Romo Paroki menatap Mama Yuliana yang masih duduk menunduk di kursi.
Air Mata Seorang Ibu
“Mama,” kata Romo Paroki pelan, “anak Mama minta surat ini bukan untuk kerja.
Dia mau menikah lagi di Kalimantan.”
Mama Yuliana terdiam. Tangannya menggenggam HP di dada. Air matanya jatuh pelan ke lantai.
“Kalau begitu, jangan kasih surat itu, Romo. Biar anak saya marah, yang penting Gereja tidak ikut berdosa. biarkan saya mewakili anak saya yang berdosa, dengan air mata mama Yuliana mengatakan ke Romo Paroki, Romo saya siap dihukum karena telah menipu Romo.”
Kalimat itu membuat Romo Paroki terdiam lama. Ia sadar, kadang iman terbesar justru keluar dari mulut orang tua yang polos tapi jujur, yang mau menanggung penderitaan anaknya.
Penyesalan di Tanah Sawit
Beberapa hari kemudian, kabar sampai ke Riko. Romo Adrian memanggilnya ke pastoran.
“Riko, saya sudah bicara dengan Romo Paroki di Flores. Kau sudah menikah, punya anak, dan sekarang menipu ibumu sendiri.”
Riko menunduk.
Riko “Romo, saya malu. Saya takut. Saya cuma mau hidup tenang.”
Romo Adrian “Ketenteraman tidak dibangun di atas kebohongan. Gereja tidak akan memberkati dosa.”
Air mata Riko jatuh. Malam itu ia menulis surat yang tidak pernah dikirim,
“Ma, saya menipu Mama, tapi Mama tidak menipu saya. Mama malah lindungi Gereja dari dosa saya. Kalau Tuhan izinkan, saya ingin pulang suatu hari nanti.”
Pesan Moral, Imam dan Gereja yang Menjaga Kebenaran
Kisah ini bukan hanya tentang dosa dan kebohongan, tapi tentang Gereja yang tetap berdiri di sisi kebenaran meski harus menyakiti hati orang yang dicintai. Imam bukan sekadar manusia rohani,
mereka adalah penjaga kesetiaan Gereja agar tidak hanyut oleh belas kasihan palsu.
Romo Paroki tidak bodoh, tapi juga tidak kejam. Ia menolak menandatangani kebohongan karena tahu, kasih sejati tidak akan pernah bersekongkol dengan dosa.
Imam bukan hanya pelayan sakramen, tapi penjaga keutuhan kebenaran. Dan Gereja, meski sering disalahpahami, tetap berdiri bukan untuk menghakimi, tetapi untuk melindungi kesucian cinta yang sejati.
“Jangan nilai imam dari penampilannya,” kata seorang umat tua.
“Nilailah dari keberaniannya berkata benar di tengah dunia yang takut pada kebenaran.”
Selama masih ada ibu yang jujur, selama masih ada Romo yang menolak ikut menutupi dosa,
dan selama masih ada Gereja yang berani berkata “tidak” demi kebenaran, Tuhan masih bekerja, di tengah sawit, di tengah luka, di tengah manusia yang rapuh.
Kisah ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia ditulis agar menjadi cermin, bahwa cinta tanpa kendali bisa menuntun ke jalan yang salah, dan kebohongan kecil bisa menyeret banyak orang pada luka yang dalam.
Riko dan Lina adalah gambaran nyata dari banyak remaja yang bercinta tanpa berpikir panjang, yang mengira cinta bisa menanggung segalanya, padahal kenyataan hidup tidak selalu semanis kata-kata janji di bangku sekolah. Dan ketika tanggung jawab datang lebih cepat dari usia, barulah kita sadar bahwa setiap keputusan kecil bisa mengubah seluruh arah hidup.
Para imam dan Gereja hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyembuhkan, menuntun, dan menjaga agar kebenaran tetap tegak di atas kasih. Sebab dalam setiap keputusan yang tampak tegas dari seorang Romo, sesungguhnya ada air mata, doa, dan tanggung jawab rohani yang berat agar Gereja tidak ikut terseret dalam dosa manusia.
Gereja memang penuh manusia yang lemah, namun di balik kelemahan itu, ada sistem iman yang luas dan hidup, jejaring kasih yang bekerja dari paroki kecil sampai ke seluruh dunia. Maka jangan lihat imam hanya sebagai pribadi, tapi lihatlah Gereja yang bekerja melalui mereka, yang menjaga kesucian sakramen, membela kebenaran, dan melindungi yang lemah.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 2025!
Semoga semangat persatuan dan tanggung jawab muda terus hidup, bukan hanya dalam kata-kata, tapi dalam pilihan hidup yang penuh kasih, iman, dan kebijaksanaan.
Atalomba Human Story
“Imam tidak sempurna, tapi mereka berdiri menjaga agar Gereja tidak ikut berdosa.”
Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende
