Mgr. Heinrich Leven, SVD dan Gereja yang Bertumbuh dari Dalam

Mengenang 73 Tahun Wafat, Mantan Uskup Agung Ende, Pendiri Congregatio Imitationis Jesu (CIJ), dan Hamba Allah
Oleh: Irminus Deni
Sekretaris CIJ Sekuler Ende (CIJ-S)
Tanggal 30 Januari 2026 menjadi momen hening bagi Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Tujuh puluh tiga tahun lalu, tepatnya 31 Januari 1953, seorang gembala besar mengakhiri ziarah hidupnya di tanah kelahiran nun jauh di Eropa. Ia adalah Mgr. Heinrich Leven, SVD, mantan Uskup Agung Ende, seorang misionaris yang tidak hanya membangun Gereja dengan struktur, tetapi menumbuhkannya dari dalam kehidupan umat.
Hari ini, Gereja tidak sekadar mengenangnya sebagai tokoh sejarah. Keuskupan Agung Ende, di bawah kepemimpinan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, telah secara resmi menganugerahkan kepadanya gelar Hamba Allah, sebuah pengakuan awal bahwa hidup dan karya Mgr. Leven layak dikenang, diteladani, dan dipertimbangkan dalam proses kanonisasi Gereja Katolik.
Datang sebagai Misionaris, Tinggal sebagai Bapak
Mgr. Heinrich Leven, SVD lahir di Jerman dan bergabung dengan Serikat Sabda Allah (SVD). Pada 1919, ia mengajukan permohonan untuk diutus ke Kepulauan Sunda Kecil, wilayah yang saat itu masih asing baginya. Tanpa banyak romantisme, ia berangkat dari Rotterdam pada 23 Oktober 1920, tiba di Tanjung Priok 20 November 1920, dan akhirnya menginjakkan kaki di Ende pada 11 Desember 1920.
Seperti banyak misionaris besar, Leven memulai dari hal paling dasar, belajar bahasa dan memahami manusia. Ia mempelajari bahasa Melayu di Ndona, berjumpa dengan Mgr. Arnold Verstraelen, SVD, dan kemudian menjalani perutusan sebagai pendidik dan pastor di Halilulik, Timor. Ia bahkan dipercaya pemerintah kolonial sebagai inspektur sekolah misi, sebuah posisi strategis yang dijalaninya dengan penuh disiplin selama lima tahun.
Pendidikan baginya bukan sekadar alat misi, tetapi jalan pembebasan. Ia percaya, Gereja yang kuat tidak lahir dari altar semata, melainkan dari sekolah, dari akal budi yang tercerahkan, dan dari martabat manusia yang diangkat.
Dari Administrator Apostolik hingga Uskup
Setelah wafatnya Pastor Yan van Cleef dan kemudian Mgr. Arnold Verstraelen, Leven diangkat menjadi Administrator Apostolik, lalu secara resmi ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil pada 25 April 1933. Penunjukan ini sempat ditentang pemerintah Belanda karena kewarganegaraannya, namun akhirnya diselesaikan dengan kebesaran hati Leven menerima kewarganegaraan Belanda demi kelangsungan Gereja.
Ia ditahbiskan menjadi uskup pada 12 November 1933, dengan moto episkopal yang sangat personal dan profetis. “O Crux, ave, spes unica” — Salam, wahai Salib, satu-satunya harapan.
Moto ini bukan hiasan. Dalam kepemimpinannya yang dikenal tegas, disiplin, dan teratur, Leven tetap meyakini bahwa Salib adalah tempat belas kasih, bukan alat penindasan. Ia membawa Gereja melewati masa-masa sulit dengan keteguhan iman dan ketekunan kerja.
Gereja yang Berdialog dengan Budaya
Salah satu langkah visioner Mgr. Leven adalah Sinode Ndona tahun 1935, yang membahas persoalan perkawinan adat Flores dan hukum Gereja. Alih-alih memaksakan aturan kaku, ia membuka ruang dialog agar Gereja bertumbuh tanpa mencabut akar budaya umat. Di sinilah terlihat watak pastoral Mgr. Leven. Gereja hadir untuk menyelamatkan, bukan mengasingkan.
CIJ: Gereja yang Membela Martabat Perempuan
Pada 25 Maret 1935, di Jopu, Ende, Mgr. Leven mendirikan Congregatio Imitationis Jesu (CIJ), sebuah kongregasi religius pribumi. Keputusan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi perempuan saat itu, yang kerap diperlakukan sebagai komoditas sosial dan feodal.
Melalui CIJ, Mgr. Leven ingin menghadirkan Gereja yang menyembuhkan luka sosial, mengangkat martabat perempuan, melayani kaum miskin, dan memberi pendidikan bagi mereka yang terpinggirkan. Ia sadar, bantuan dari Eropa tidak selalu bisa diandalkan. Maka, Gereja lokal harus berdiri di atas kakinya sendiri. Hari ini, semangat itu hidup bukan hanya dalam para suster CIJ, tetapi juga dalam CIJ Sekuler (CIJ-S), kaum awam yang memilih jalan spiritualitas Imitatio Jesu di tengah dunia.
Uskup yang Menyiapkan Regenerasi
Mgr. Heinric Leven, SVD mengundurkan diri pada 21 Juni 1950, namun hingga tahun-tahun terakhir hidupnya, ia masih dipercaya menahbiskan para uskup baru di Flores dan sekitarnya. Ia menutup hidupnya pada 31 Januari 1953 di Steyl, Belanda, jauh dari tanah misi, tetapi dekat dalam ingatan umat yang pernah ia layani.
Namanya kini diabadikan dalam berbagai lembaga pendidikan Katolik, antara lain Sekolah Katolik Henricus Leven di Kalimantan Utara, serta sekolah-sekolah Katolik yang menyandang namanya di Larantuka, Flores Timur, tanda bahwa warisan pendidikannya melampaui wilayah dan generasi.
Hamba Allah dan Tanggung Jawab Kita
Penganugerahan gelar Hamba Allah bukanlah garis akhir, melainkan undangan bagi umat untuk membaca kembali sejarah dengan hati. Hidup Mgr. Heinrich Leven, SVD adalah kesaksian bahwa Gereja bertumbuh bukan lewat dominasi, melainkan lewat kedekatan dengan manusia, budaya, dan penderitaan konkret.
Tujuh puluh tiga tahun setelah wafatnya, pertanyaan yang tersisa bagi kita bukan hanya siapa Mgr. Heinric Leven, SVD tetapi apakah Gereja hari ini masih setia pada semangatnya, Gereja yang mendidik, merangkul, membela martabat, dan berani bertumbuh dari dalam. Di sanalah warisan sejatinya hidup.
