Pendidikan Politik: “Ketika Partai Nasdem Memilih Belajar Sebelum Berteriak”

Mbay Nagekeo Atalomba.com – Di Nagekeo, politik kadang terasa seperti memasak tanpa resep. Bahannya ada, apinya menyala, semangat menggebu, tapi hasil akhirnya sering bikin perut sakit. Sabtu, 20 Desember 2025, di Aula Stasi Penginanga, Paroki Danga, Partai NasDem tampaknya memutuskan untuk membuka buku resep lebih dulu, sebelum kembali sibuk di dapur demokrasi.
Sejak pagi, ratusan pengurus DPC dan DPRT NasDem se-Kabupaten Nagekeo berdatangan. Ada yang datang jauh-jauh dari kampung, ada yang tiba dengan wajah masih menyimpan sisa kantuk. Tidak ada baliho raksasa. Tidak ada janji yang dilaminating. Yang ada hanya kursi plastik, meja panjang, dan satu kesadaran kolektif yang jarang diucapkan, politik tidak selalu kalah karena kurang suara, tapi sering kalah karena salah langkah.
Tepat pukul 09.00 Wita, aula yang biasanya sunyi itu mendadak hidup. Pekikan “NasDem Bersatu, Berjuang, Menang, Nasdem Bersatu, Berjuang, Menang, dan Nasdem Menang, Menang, Menang!” menggema. Pekikan yang biasa terdengar heroik itu kali ini terasa sedikit berbeda, lebih seperti alarm sekolah daripada genderang perang. Pertanda, hari ini bukan soal menyerang, tapi belajar.
Ketua DPD NasDem Kabupaten Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do, memimpin pembukaan dengan nada yang tidak terlalu manis. Ia tidak mengajak kader bermimpi tinggi-tinggi. Ia justru mengajak mereka menunduk sejenak, melihat garis batas.
“Kita hadirkan KPU dan Bawaslu,” kurang lebih begitu pesannya, “karena politik tidak cukup dijalankan dengan niat baik dan kaos partai.” Ada aturan. Ada mekanisme. Ada sanksi. Dan semuanya nyata, bukan cerita horor.
Dua lembaga itu, KPU dan Bawaslu, sering disebut dengan suara pelan di ruang-ruang politik. Kadang dipuji saat hasil sesuai harapan, kadang dicurigai saat hasil tak sejalan. Tapi di Aula Penginanga, dua lembaga itu justru duduk di depan, terang-terangan, tanpa jarak.
Di barisan kursi peserta, tampak, Antonius S. Wangge dan Lukas Y.M.P Boleng, dua anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari NasDem. Mereka tidak sekadar hadir untuk formalitas. Kehadiran mereka seperti catatan kaki yang penting, belajar aturan bukan hanya tugas yang belum punya jabatan, tapi juga yang sudah menikmati jabatan. Demokrasi, kalau mau adil, tidak mengenal senioritas dalam hal kepatuhan.
Masuk ke sesi materi, Ketua KPU Kabupaten Nagekeo, Fransiskus Huber Waso, mulai berbicara dengan gaya tenang. Ia tidak mengancam. Tidak menggurui. Ia hanya menyebut angka. Dan angka itu cukup membuat beberapa peserta bergeser di kursi, sekitar 68 persen pemilih di Nagekeo adalah pemilih milenial.
Enam puluh delapan persen. Angka yang artinya sederhana tapi menyakitkan bagi politik gaya lama. Generasi ini, kata Fransiskus, tidak terlalu peduli siapa paling sering bicara, tapi sangat peduli siapa paling konsisten bersikap. Mereka tidak selalu hadir di rapat, tapi rajin hadir di bilik suara. Kalau dulu baliho bisa bicara banyak, hari ini satu tangkapan layar bisa menghabisi karier politik. Dan itu tidak butuh pengeras suara.
Fransiskus mengingatkan bahwa KPU bukan hanya mesin pencoblosan, tetapi juga penjaga prosedur. Pendidikan politik, katanya, bukan milik partai saja, tetapi tanggung jawab bersama. Karena demokrasi yang sehat tidak lahir dari kejutan, tapi dari keteraturan.
Lalu giliran Bawaslu berbicara. Ketua Bawaslu Kabupaten Nagekeo, Yohanes Emanuel Nane, tidak banyak basa-basi. Ia langsung masuk ke wilayah yang sering membuat politisi alergi. “Pelanggaran“. Ia membedah kasus-kasus Pilkada 2024 lalu. Tidak menyebut nama, tapi cukup detail untuk membuat peserta saling mengangguk pelan. Beberapa contoh terasa familiar. Terlalu familiar, bahkan. Banyak pelanggaran, kata Yohanes Emanuel Nane, lahir dari satu kalimat pendek yang sering dianggap remeh, “Ini kan biasa.”
Padahal, dalam demokrasi, yang “biasa” sering menjadi awal laporan. Dari laporan, lahir pemeriksaan. Dari pemeriksaan, lahir cerita panjang yang tidak pernah direncanakan. Ia menjelaskan dengan sabar, apa yang boleh, apa yang tidak, apa yang terlihat kecil tapi dampaknya besar. Bawaslu, tegasnya, tidak bekerja dengan perasaan, tetapi dengan aturan. Dan aturan tidak mengenal kata “kasihan”.
Aula hening. Tidak ada yang bercanda. Tidak ada yang sibuk dengan ponsel. Pendidikan politik hari ini terasa seperti tes kesehatan, tidak menyenangkan, tapi perlu. Karena lebih baik tahu sekarang daripada menyesal nanti. Menariknya, suasana tidak tegang. Justru terasa jujur. Seolah semua orang sepakat bahwa politik selama ini terlalu sering dijalankan dengan semangat, tapi minim pemahaman. Terlalu rajin bergerak, tapi malas membaca regulasi.
Setelah jeda makan siang, yang rasanya seperti jeda napas, kegiatan masuk ke sesi kedua, evaluasi. Inilah bagian yang biasanya paling sensitif. Karena berbicara soal suara berarti berbicara soal ego. Perolehan suara Pileg dan Pilkada sebelumnya dibedah pelan-pelan. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Yang ada adalah upaya membaca kenyataan apa adanya. Mana strategi yang berhasil. Mana yang gagal. Mana yang perlu ditinggalkan sebelum menjadi kebiasaan buruk.
Evaluasi semacam ini jarang viral. Tidak seksi. Tidak bisa dijadikan konten pendek. Tapi justru di ruang inilah partai diuji kedewasaannya. Karena yang paling sulit dalam politik bukan menang, melainkan mengakui bahwa tidak semua cara layak dipertahankan.
Di Aula Penginanga, NasDem seolah sedang mengulang pelajaran dasar yang sering terlupakan, bahwa demokrasi bukan lomba lari tanpa garis. Ada jalur. Ada aturan. Ada wasit. Dan yang paling sering kalah justru mereka yang merasa paling pintar. Sekolah politik hari ini mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan meriah. Tapi ia menghasilkan sesuatu yang lebih penting, kesadaran. Bahwa kemenangan tanpa pemahaman hanya akan melahirkan masalah lanjutan. Bahwa politik yang sembrono mungkin terasa heroik, tapi cepat melelahkan.
Mungkin pendidikan politik tidak membuat partai langsung menang. Tapi tanpa pendidikan politik, kekalahan sering datang bersama bonus yang tidak diinginkan, sengketa, laporan, dan stigma. Di Penginanga, NasDem Nagekeo tampaknya sedang memilih jalan yang tidak terlalu gemerlap, tapi lebih panjang umurnya. Jalan yang dimulai dari belajar, bukan dari merasa paling benar.
Dan di tengah politik yang sering ribut oleh janji, mungkin justru sekolah seperti inilah yang paling radikal. Karena ia mengajarkan sesuatu yang jarang diajarkan, bagaimana berambisi tanpa melanggar, bagaimana berjuang tanpa tersandung, dan bagaimana menang tanpa harus rajin bertamu ke Bawaslu. (AL/Irminus Deni)
