Paroki Hati Kudus Yesus Maunori (HKYM) Gaungkan Gerakan KUB Ramah Anak dan Peduli Ibu Hamil

Maunori NTT , 15 Maret 2025 Atalomba.com — Suasana Aula Paroki Hati Kudus Yesus Maunori pada Minggu pagi terasa berbeda dari biasanya. Di tengah kesibukan umat setelah perayaan Ekaristi, puluhan pengurus stasi, ketua lingkungan, Pengurus KUB, para ibu kader, hingga para bidan dan tenaga kesehatan berkumpul dalam satu ruang yang sama. Mereka tidak sekadar datang untuk menghadiri sebuah rapat, tetapi untuk merawat masa depan, masa depan anak-anak, para ibu, dan keluarga-keluarga di wilayah paroki.
Pada hari itu digelar kegiatan bertema “Sosialisasi dan Rencana Tindak Lanjut Tiga Model Gerakan”, sebuah program pastoral sosial yang memadukan kekuatan Gereja dan tenaga kesehatan dalam upaya membangun keluarga yang sehat, ramah anak, dan peduli terhadap ibu hamil.
Kegiatan ini menghadirkan peserta dari berbagai unsur umat, pengurus stasi dan lingkungan, pengurus Komunitas Umat Basis (KUB), para ibu-ibu kader , serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Maunori. Pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi bersama sekaligus forum strategis untuk mengevaluasi capaian program dan merancang langkah-langkah konkret ke depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori terus mengembangkan berbagai gerakan pastoral yang menyentuh langsung kehidupan keluarga. Salah satunya adalah Gerakan KUB Ramah Anak, sebuah inisiatif yang bertujuan menjadikan keluarga dan komunitas basis sebagai ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Dalam sesi sosialisasi, tim paroki bersama tenaga kesehatan memaparkan capaian gerakan tersebut yang selama ini dijalankan di berbagai stasi dan lingkungan.
Gerakan ini menekankan Sepuluh Aksi Nyata yang sederhana namun berdampak besar dalam kehidupan keluarga. Beberapa di antaranya adalah mendorong anak usia 3 hingga 6 tahun untuk mengikuti pendidikan PAUD atau TK, membangun kebiasaan makan bersama dalam keluarga, membiasakan doa pagi dan malam, hingga mengajak orang tua untuk bijak dalam penggunaan media sosial di hadapan anak-anak.
Langkah-langkah sederhana itu diyakini menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Para peserta terlihat aktif berdiskusi, saling berbagi pengalaman tentang bagaimana gerakan tersebut dijalankan di tingkat KUB dan lingkungan masing-masing.
Selain Gerakan KUB Ramah Anak, perhatian serius juga diberikan pada Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil. Program ini difokuskan pada upaya pencegahan stunting melalui penguatan pemantauan kesehatan dan nutrisi ibu hamil di lingkungan umat.
Tenaga kesehatan dari Puskesmas Maunori menjelaskan bahwa keterlibatan komunitas sangat penting dalam memastikan setiap ibu hamil mendapatkan perhatian dan pendampingan yang memadai.
Para kader lingkungan dan KUB diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam memantau kondisi ibu hamil di wilayah mereka, mulai dari memastikan pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi, hingga memberikan dukungan moral bagi keluarga.
“Pencegahan stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Peran keluarga dan komunitas sangat menentukan,” ungkap salah satu tenaga kesehatan dalam sesi diskusi.
Karena itu, kerja sama antara Gereja dan tenaga kesehatan menjadi kekuatan penting dalam memastikan bahwa setiap ibu hamil mendapat perhatian yang layak.
Gerakan ketiga yang disosialisasikan dalam kegiatan ini adalah Orang Tua Peduli Anak Usia Dini. Program ini menekankan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anak.
Melalui gerakan ini, para orang tua diajak untuk membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus menanamkan nilai-nilai iman sejak dini dalam kehidupan keluarga.
Anak-anak tidak hanya diajarkan tentang kebersihan, pola makan sehat, dan disiplin waktu, tetapi juga tentang kasih, kepedulian, serta nilai-nilai Kristiani yang menjadi dasar kehidupan umat.
Bagi Gereja, pembentukan karakter anak tidak bisa menunggu hingga mereka dewasa. Ia harus dimulai sejak masa kanak-kanak, dari dalam keluarga.
Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam membangun lingkungan rumah yang penuh kasih, perhatian, dan teladan.
Kegiatan sosialisasi ini tidak berhenti pada penyampaian materi semata. Dalam sesi diskusi bersama, para peserta juga menyusun berbagai rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan di tingkat stasi dan lingkungan.
Beberapa langkah konkret yang dirumuskan antara lain pelatihan tambahan bagi para kader, pendataan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, serta kampanye rumah ramah anak di setiap KUB.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu memperluas dampak ketiga gerakan ini sehingga semakin banyak keluarga yang merasakan manfaatnya.
Di akhir kegiatan, satu hal terasa sangat jelas, gerakan ini bukan hanya milik Gereja atau tenaga kesehatan semata. Ia adalah gerakan bersama seluruh umat.
Komitmen yang terbangun dalam pertemuan itu menunjukkan bahwa masa depan anak-anak tidak boleh diserahkan hanya kepada waktu. Ia harus diperjuangkan sejak sekarang, melalui perhatian, pendidikan, kesehatan, dan kasih dalam keluarga.
Melalui kerja sama antara Gereja, tenaga kesehatan, dan umat, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori berharap fondasi iman, kesehatan, dan karakter anak-anak dapat dibangun dengan lebih kuat.
Karena di balik setiap anak yang sehat dan berkarakter baik, selalu ada keluarga yang peduli, komunitas yang mendukung, dan Gereja yang setia mendampingi. Dan dari Maunori, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan, masa depan Gereja dan masyarakat dimulai dari keluarga yang peduli pada anak-anaknya. (AL/Irminus Deni)
