Dari Romba Menuju Ua, Langkah-Langkah Doa Mengantar Sang Bunda

Witurombaua, 20 Mei 2025 Atalomba.com — Pagi itu, kabut masih menyelimuti perbukitan. Angin lembut menyapu dedaunan, dan matahari mulai perlahan menyingkap tirai langit. Di tengah ketenangan itu, langkah kaki umat terdengar pasti. Mereka berjalan dalam diam dan doa, memulai perjalanan suci mengantar Arca Bunda Maria dari Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis Romba menuju Lingkungan Santo Agustinus Ua.
Bukan sekadar perarakan, bukan sekadar tradisi. Ini adalah perjalanan batin. Sebuah ziarah iman yang menghubungkan dua lingkungan, dua kampung, dan dua hati yang disatukan dalam cinta kepada Bunda Maria. Arca sang Bunda, dihiasi bunga dan diselimuti kain putih, diusung dengan penuh hormat. Di sekelilingnya, umat dari segala usia—anak-anak, remaja, orang tua, hingga lansia—melantunkan doa Rosario dan lagu-lagu pujian dengan khidmat.
Mata yang berkaca, langkah yang mantap, dan hati yang terbuka. Semua menyatu dalam satu semangat, menyambut Bunda Maria yang datang berkunjung ke Ua, kampung yang telah lama merindukan kehadiran-Nya.
Sesampainya di perbatasan lingkungan, rombongan dari Romba disambut dengan tarian adat dan lantunan doa oleh umat Lingkungan St. Agustinus Ua. Suasana menjadi haru. Beberapa umat terlihat menunduk sambil mengusap air mata.

Vinsensius Mite, sebagai tokoh umat dan perwakilan dari Lingkungan St. Agustinus Ua, kepada reporter Atalomba.com Esau Sede mengatakan dengan suara bergetar. Ia berbicara bukan hanya sebagai Tokoh, tetapi sebagai seorang anak yang menyambut kehadiran seorang ibu di rumahnya sendiri.
“Kami di kampung Ua sangat bersukacita menyambut Bunda Maria. Kami merasa diberkati, dilindungi, dan disemangati oleh kehadiran Arca ini. Kami yakin, seperti kisah-kisah berkat dalam bhea sa yang baru saja dibacakan, kehadiran Bunda Maria akan membawa terang di tengah kehidupan kami. Kami yang selama ini berjalan dalam bayang kecemasan, kini menemukan kembali harapan.”
Vinsensius menegaskan bahwa penyambutan ini bukan hanya soal simbol, tapi tentang iman yang hidup. Ia meyakini, dengan kehadiran Bunda Maria di tengah umat, suasana kampung akan dipenuhi damai, keluarga akan disatukan, dan hidup menggereja akan semakin tumbuh.
Salah satu tokoh adat setempat turut menyampaikan sambutan dalam bahasa lokal yang sarat makna:
“Romba ne Ua pa pawe pu ebho geo…”
Sebuah ungkapan yang bermakna “Romba dan Ua telah menyatu dalam semangat, menyatu dalam berkat, menyatu dalam cinta Bunda Maria.”
Prosesi ini juga menjadi perwujudan kerinduan umat akan kedamaian. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh kegelisahan, umat Katolik di lingkungan St. Agustinus Ua menemukan kembali tempat bersandar—di pangkuan Bunda Maria yang lembut dan penuh kasih. Dalam keheningan doa yang dipanjatkan bersama, mereka memohon satu hal, damai yang sejati, berkat yang melimpah, dan cinta yang tidak pernah usang.

Prosesi ini juga menegaskan semangat kebersamaan antar lingkungan. Umat dari Romba dan Ua berjalan bersama, berdoa bersama, dan kini bersyukur bersama. Dalam langkah-langkah itu, tidak ada sekat kampung, tidak ada jarak sosial, yang ada hanyalah umat yang bersatu dalam kasih ilahi.
Di akhir perarakan, Arca Bunda Maria diletakkan di tempat yang telah disiapkan dengan penuh cinta dan ketulusan. Umat kemudian berkumpul untuk mengikuti liturgi singkat, menyanyikan lagu “Ave Maria,” dan menyalakan lilin sebagai lambang terang yang dibawa oleh Bunda Maria bagi kehidupan mereka.
Dalam prosesi pagi itu, kampung Ua tidak hanya menerima arca, mereka menerima harapan. Mereka menyambut cahaya. Mereka membuka pintu hati bagi seorang Ibu yang tak pernah letih mencintai anak-anaknya. Dan sejak hari itu, doa-doa dari kampung Ua akan selalu naik ke langit, mengiringi langkah-langkah kehidupan umatnya, bersama dan di bawah perlindungan Bunda Maria.
Reporter: Atalomba.com, Esau Sede
Editor: Irminus Deni
