Temuan PMKRI Ende di Ruas Jalan Ndona – Sokoria: PT BCTC, Hotmix di Atas Rabat Swadaya Masyarakat

Di atas kertas, proyek jalan selalu tampak rapi, ada perencanaan, anggaran, hingga spesifikasi teknis yang menjanjikan kualitas. Namun di lapangan, cerita sering kali berbeda, lebih kompleks, bahkan menyisakan tanda tanya.
Investigasi yang dilakukan PMKRI Cabang Ende membuka lapisan lain dari proyek hotmix yang dikerjakan oleh PT BCTC. Setelah melakukan pertemuan dan diskusi langsung bersama masyarakat, terungkap fakta penting, setidaknya dua titik pekerjaan hotmix dilakukan di atas rabat beton swadaya masyarakat. Salah satu titik yang disorot berada di daerah persimpangan menuju Puutuga. Temuan ini bukan sekadar catatan teknis. Ia menyentuh dua hal mendasar, validitas pekerjaan dan integritas penggunaan anggaran publik.
Aspal di Atas Swadaya
Rabat beton swadaya bukanlah bagian dari desain proyek negara. Ia dibangun masyarakat, dengan tenaga, biaya, dan gotong royong, untuk menjawab kebutuhan akses yang mendesak. Ketika kemudian rabat tersebut dilapisi hotmix dalam proyek berbayar, muncul pertanyaan mendasar, apakah ini peningkatan kualitas, atau sekadar pelapisan ulang atas sesuatu yang sudah ada? Jika rabat swadaya dijadikan dasar tanpa kajian, maka proyek ini berpotensi bukan membangun dari nol, melainkan “menumpang” pada kerja masyarakat.
Standar yang Tak Boleh Dilompati
Dalam pedoman Bina Marga, pelapisan hotmix di atas struktur eksisting, termasuk beton, bukan hal tabu. Namun ia hanya boleh dilakukan dengan syarat ketat:
- Kajian teknis menyeluruh terhadap kondisi rabat
- Desain ulang struktur jalan
- Metode penanganan khusus, seperti pencegahan retak reflektif
- Dokumentasi dan transparansi dalam perencanaan
Tanpa itu, pekerjaan berisiko tinggi mengalami kegagalan dini. Masalahnya, dari hasil penelusuran dan keterangan masyarakat, tidak ada informasi terbuka mengenai kajian tersebut.
Dua Titik, Satu Pola
Fakta adanya dua titik pekerjaan dengan pola yang sama memperkuat dugaan bahwa ini bukan kasus insidental. Di simpangan menuju Puutuga, masyarakat mengaku rabat yang sebelumnya mereka bangun sendiri kini tertutup lapisan hotmix proyek. Tidak ada sosialisasi teknis yang memadai. Tidak ada penjelasan apakah rabat itu telah diuji kelayakannya. Jika praktik ini juga terjadi di titik lain, maka yang muncul adalah pola, pemanfaatan infrastruktur swadaya tanpa kejelasan dasar teknis dan administratif.
Risiko yang Disapu Aspal
Secara teknis, melapisi hotmix di atas rabat tanpa perlakuan khusus berpotensi memunculkan:
- Retak reflektif, di mana retakan beton “naik” ke permukaan aspal
- Kegagalan ikatan antar lapisan, menyebabkan aspal mudah terkelupas
- Umur jalan yang lebih pendek dari perencanaan
Namun risiko terbesar justru bukan di lapangan, melainkan di meja anggaran. Jika benar tidak ada penyesuaian desain dan volume pekerjaan tetap dihitung seolah-olah membangun struktur baru, maka muncul indikasi:
- Duplikasi pekerjaan
- Mark-up tersembunyi dalam bentuk volume
- Pemborosan anggaran publik
PT BCTC dan Tanggung Jawab Teknis
Sebagai pelaksana, PT BCTC semestinya tunduk pada spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Setiap deviasi dari desain harus didukung oleh justifikasi teknis dan persetujuan resmi.
Pertanyaannya:
- Apakah penggunaan rabat swadaya sudah masuk dalam dokumen perencanaan?
- Apakah ada hasil uji teknis terhadap rabat tersebut?
- Siapa yang menyetujui perubahan metode di lapangan?
Tanpa jawaban jelas, praktik ini berpotensi melanggar prinsip dasar konstruksi, kesesuaian antara desain, pelaksanaan, dan pengawasan.
Antara Efisiensi dan Penyimpangan
Sering kali, praktik seperti ini dibungkus dengan narasi efisiensi, memanfaatkan yang sudah ada untuk menghemat biaya. Namun efisiensi tanpa transparansi adalah wilayah abu-abu. Apalagi jika yang dimanfaatkan adalah hasil kerja swadaya masyarakat. Di titik ini, garis antara inovasi teknis dan penyimpangan menjadi tipis.
Jalan yang Harus Dijelaskan
Temuan PMKRI Cabang Ende seharusnya menjadi pintu masuk audit yang lebih dalam, bukan hanya pada kualitas pekerjaan, tetapi juga pada proses perencanaan dan penganggaran. Sebab jalan yang dibangun dengan anggaran publik tidak hanya harus kuat secara fisik, tetapi juga bersih secara administrasi.
Jika benar hotmix dihampar di atas rabat swadaya tanpa kajian dan transparansi, maka yang terjadi bukan sekadar persoalan teknis. Ini adalah pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan, dan siapa yang sebenarnya bekerja. Di atas aspal yang tampak mulus itu, ada kemungkinan tersimpan cerita lain,
tentang kerja masyarakat yang tak dihitung, dan anggaran negara yang perlu dipertanggungjawabkan. (Tim Editorial)
