No Bale Nagi dan Jeritan Rakyat: Membaca Khotbah Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD di Tahbisan Uskup Larantuka

Oleh: Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Perayaan tahbisan Uskup di Larantuka beberapa waktu lalu bukan sekadar seremoni liturgi yang penuh jubah putih dan nyanyian meriah. Di altar yang sakral itu, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD tidak hanya berkhotbah tentang sukacita gerejani. Ia berbicara tentang luka. Ia berbicara tentang NTT. Ia berbicara tentang bahaya yang sedang menggerogoti rakyat kecil. Dan ia berbicara tentang satu kalimat yang menggema kuat: “No Bale Nagi.”
No Bale Nagi: Pulang Bukan untuk Nostalgia
Dalam bahasa lokal, No Bale Nagi berarti “pulang kampung.” Namun Uskup Agung Ende menegaskan, pulang bukanlah soal nostalgia, bukan soal kembali ke tanah kelahiran untuk menikmati kenyamanan identitas budaya. Pulang adalah panggilan misi.
Seorang gembala yang kembali ke tanah asalnya tidak datang untuk dielu-elukan. Ia datang untuk memikul salib umatnya. Ia datang untuk menyentuh luka yang mungkin sudah lama ia kenal, luka kemiskinan, luka ketidakadilan, luka eksploitasi.
Pesan ini ditujukan langsung kepada Uskup Larantuka yang baru ditahbiskan. Bahwa pulang ke tanah sendiri berarti siap berdiri di tengah persoalan riil umat. Bukan menjadi simbol, tetapi menjadi pelayan.
Gereja dan Luka Sosial NTT
Dalam khotbahnya, Uskup Agung tidak menghindari realitas sosial. Ia menyentuh persoalan kemiskinan struktural, kesenjangan, migrasi tenaga kerja, dan ancaman terhadap lingkungan hidup.
NTT bukan hanya wilayah iman yang kuat. Ia juga wilayah dengan angka kemiskinan tinggi, kasus perdagangan orang, stunting, dan bencana ekologis yang berulang. Gereja tidak boleh berdiri di menara gading. “Gembala harus berjalan bersama yang miskin dan yang menderita,” kira-kira itulah nada kuat yang terasa. Iman tanpa keberpihakan sosial adalah kosong.
Bahaya Koperasi Harian: Jerat Modern di Tengah Umat
Yang menarik dan berani, dalam refleksi sosial itu Uskup Agung Ende juga menyinggung praktik ekonomi yang merugikan rakyat kecil, khususnya fenomena koperasi harian yang mencekik.
Koperasi harian, yang sering berkedok membantu ekonomi rakyat, dalam praktiknya justru menjebak masyarakat dalam lingkaran utang tanpa akhir. Bunga harian yang mencekik, tekanan penagihan, hingga rasa malu sosial yang ditanggung keluarga menjadi beban psikologis yang berat.
Di banyak kampung di Flores dan NTT, praktik ini tumbuh subur karena kemiskinan dan keterbatasan akses perbankan formal. Orang kecil meminjam untuk kebutuhan mendesak, biaya sekolah, sakit, modal kecil tetapi akhirnya terjebak dalam sistem yang tidak manusiawi.
Ketika Uskup Agung ende menyinggung bahaya ini, itu bukan sekadar kritik ekonomi. Itu adalah pembelaan terhadap martabat manusia. Gereja, melalui suara gembalanya, mengingatkan bahwa sistem ekonomi yang tidak adil adalah bentuk ketidakadilan sosial. Dan ketidakadilan adalah dosa struktural yang melukai tubuh Kristus sendiri.
Lingkungan: Rumah Bersama yang Terancam
Selain soal ekonomi rakyat, khotbah itu juga menyentuh isu lingkungan. Di tengah maraknya proyek eksploitasi sumber daya alam, dari pertambangan hingga energi panas bumi, umat sering berada pada posisi paling rentan.
Tanah bukan sekadar aset ekonomi. Bagi masyarakat Flores, tanah adalah identitas, warisan leluhur, dan sumber hidup. Ketika lingkungan rusak, yang hancur bukan hanya ekosistem, tetapi juga struktur sosial dan budaya. Seruan ekologis dalam khotbah itu jelas. Gereja harus berdiri menjaga ciptaan. Karena merusak bumi berarti merusak masa depan anak-anak.
Pesan untuk Uskup Baru: Jadilah Gembala yang Berani
Di tengah semua isu itu, pesan paling penting tertuju pada Uskup yang baru ditahbiskan. No Bale Nagi bukan berarti pulang untuk aman. No Bale Nagi berarti pulang untuk berjuang. Artinya:
-
Berani bersuara ketika rakyat kecil tertindas.
-
Berani membela ketika sistem ekonomi menindas umat.
-
Berani mendampingi ketika tanah dan lingkungan terancam.
-
Berani merangkul yang miskin tanpa takut kehilangan kenyamanan struktural.
Seorang Uskup bukan manajer administrasi. Ia adalah nabi. Dan tugas kenabian selalu berisiko.
Gereja Tidak Boleh Netral terhadap Ketidakadilan
Khotbah itu, bagi saya, adalah alarm keras. Gereja di NTT tidak boleh netral terhadap ketidakadilan sosial. Netralitas dalam konteks penindasan sama dengan pembiaran. Ketika koperasi harian menjerat umat, Gereja harus bersuara. Ketika tanah dirampas atau dirusak, Gereja harus berdiri. Ketika anak-anak kekurangan gizi dan pendidikan tertinggal, Gereja harus hadir.
No Bale Nagi bukan hanya pesan untuk seorang Uskup. Itu pesan untuk seluruh umat. Bahwa kita semua dipanggil untuk pulang, pulang kepada tanggung jawab sosial kita. Pulang kepada komitmen membela yang lemah. Pulang kepada keberanian bersuara.
Penutup: Iman yang Membumi
Tahbisan itu mungkin telah selesai. Lilin-lilin sudah dipadamkan. Lagu-lagu sudah berhenti. Namun khotbah itu masih menggema. Di tengah NTT yang sedang bergulat dengan kemiskinan, jerat ekonomi, dan ancaman lingkungan, suara Uskup Agung Ende menjadi pengingat. Gereja bukan sekadar tempat berdoa. Gereja adalah tubuh yang harus merasakan sakit ketika rakyatnya sakit.
Dan kepada Uskup yang baru: Selamat datang di ladang yang tidak mudah. No Bale Nagi berarti siap memikul salib bersama umat. Karena iman yang sejati bukan hanya dirayakan di altar, tetapi diperjuangkan di tengah kehidupan nyata, bersama umatnya.
