OMK Paroki Wakaseko Pro Ekologi: Mendengar Jeritan Bumi, Menjadi Suara Harapan

WAKASEKO, 1 Agustus 2025, Atalomba.com— Di tengah malam-malam yang kadang terlalu sunyi, di antara desir angin dari perbukitan dan riak kecil air dari kali-kali tua yang mulai kehilangan arusnya, bumi sesungguhnya sedang menjerit. Tidak dengan kata-kata, tetapi dengan luka. Ia merintih lewat pohon-pohon yang tumbang, lewat hujan yang datang tak menentu, dan lewat panas yang membakar kulit lebih dari biasanya. Tapi sayangnya, banyak manusia telah tuli. Untunglah, masih ada orang muda yang bersedia mendengar, merasa, dan bergerak. Salah satunya adalah Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Wakaseko.
Jum’ad itu, aula Paroki ST. Hubertus Wakaseko berubah menjadi tempat suci perjumpaan. Bukan hanya perjumpaan antar-stasi, tapi perjumpaan antara iman dan tanggung jawab, antara spiritualitas dan realitas. Sekitar 200 orang muda dari seluruh stasi yang ada di wilayah Paroki Wakaseko datang dengan semangat baru, menjawab panggilan tema: “ OMK Pro Ekologi: Mendengar Jeritan Bumi, Menjadi Suara Harapan.” Ini bukan sekadar kegiatan OMK biasa, ini adalah bentuk pertobatan ekologis yang menjelma dalam wujud konkret.
RD Tadeus Depa: Orang Muda Adalah Detak Jantung Gereja
Sesi pertama materi dibawakan oleh RD Tadeus Depa, Pastor Paroki Wakaseko, yang tidak hanya membagikan materi, tetapi lebih tepat disebut membagikan “api”—api keyakinan bahwa orang muda adalah detak jantung gereja. Dengan suara yang lembut namun tegas, ia mengingatkan: “Jangan pernah berpikir kalian terlalu muda untuk membuat perubahan. Yesus memilih para murid di usia muda. Gereja lahir dari keberanian orang-orang muda yang bersedia mengambil risiko.”
Lebih dari itu, RD. Tedi (Sapaan Akrabnya) membawa peserta menengok wajah Gereja hari ini yang kerap kali terlilit rutinitas dan kehilangan semangat kenabian. Ia berkata, “Gereja bukan museum. Gereja harus hidup. Dan kehidupan itu hanya mungkin kalau orang mudanya hidup dalam iman, dalam cinta kasih, dan dalam keprihatinan terhadap dunia.”
Dalam semangat itu, RD. Tedi, mengajak OMK untuk tidak hanya menjadi pengisi barisan liturgi, tetapi menjadi pelopor keadilan ekologis, penjaga ciptaan, dan gembala kecil yang setia bagi bumi yang telah lama ditelantarkan. Gereja masa depan, katanya, bukan akan ditentukan oleh banyaknya bangunan, tapi oleh keberanian generasi mudanya untuk hidup selaras dengan kehendak Allah, termasuk dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama.
“Kalian adalah rahim masa depan,” katanya, “dan rahim itu tidak boleh dibiarkan steril dari kepedulian.”

Irminus Deni: Jika Anak Muda Diam, Maka Bumi Akan Mati
Materi ini dibawakan oleh Irminus Deni, aktivis lingkungan dan penulis dari Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay. Ia datang bukan hanya membawa data, tapi membawa jeritan nyata dari tanah-tanah yang telah dirampas, dari sungai yang kering karena tambang, dan dari anak-anak kecil yang lahir tanpa tanah warisan yang layak.
Dengan gaya bercerita yang kuat, Deni menyampaikan bahwa krisis ekologis bukanlah dongeng. Ia nyata. Ia terjadi. Dan ironisnya, sering kali kita ikut menyumbang dalam kebisuannya. “Kalian tahu apa yang paling mematikan dari krisis lingkungan? Bukan banjir, bukan longsor. Tapi diamnya orang baik,” tegasnya.
Ia menyinggung bagaimana tanah-tanah adat di Flores makin terkikis oleh proyek-proyek rakus, bagaimana warga desa kehilangan sumber air, dan bagaimana gereja pun kadang ikut absen dalam menyuarakan keadilan ekologis.
“Anak muda harus bersuara. Bukan karena suara kalian keras, tapi karena suara kalian tulus. Di sinilah harapan dimulai,” ujar Deni.
Deni mengajak OMK untuk membentuk komunitas yang peka pada isu lingkungan. Bukan hanya untuk aktivisme, tetapi untuk spiritualitas. Menanam pohon, memelihara sumber mata air, memilah sampah, dan menolak tambang yang merusak, semua itu bukan sekadar aksi sosial, tapi liturgi yang hidup.
“Bumi adalah altar pertama. Jika altar itu hancur, bagaimana kita bisa menyembah Tuhan dalam keindahan?” tanyanya menggugah.
OMK Bangkit Lagi Setelah 8 Tahun Diam
Dalam sesi refleksi, Ketua OMK Paroki Wakaseko, Marisa, S. menyampaikan bahwa kegiatan besar seperti ini terakhir dilakukan pada tahun 2017. Selama 8 tahun, OMK Paroki Wakaseko seperti tenggelam dalam keheningan panjang. Namun kini, benih-benih kebangkitan mulai tumbuh kembali.
“Kami sadar, OMK bukan sekadar kumpulan pemuda, tapi pewaris semangat iman dan penjaga bumi. Melalui kegiatan ini, kami ingin mempersatukan kembali semangat antar-stasi. Kami ingin bersuara untuk bumi, dan untuk masa depan Gereja,” ujar Marisa.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi ajang persiapan menuju Mbay Youth Day yang akan dilaksanakan di Paroki Maunori pada 3-7 September mendatang. “Kami tidak hanya datang dengan bekal dan lilin. Kami datang dengan semangat baru, bahwa OMK Paroki Wakaseko adalah bagian dari gereja yang hidup, gereja yang peduli,” tegasnya.
Bukan Sekadar Kegiatan, Tapi Titik Awal Pertobatan Ekologis
Lebih dari semua materi dan seruan, kegiatan ini mengajarkan satu hal, bahwa perubahan dimulai dari hati yang mendengar. Bumi tidak akan diselamatkan oleh konferensi besar atau pidato mewah, tetapi oleh anak-anak muda yang rela kotor tangannya, berkeringat tubuhnya, dan berani melawan arus budaya serakah.
Kegiatan OMK ini adalah sebuah deklarasi iman, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan yang sejati adalah yang menyentuh sesama serta ciptaan Tuhan. Bumi sedang menjerit. Ia tidak butuh kasihan. Ia butuh tindakan. Dan OMK Paroki Wakaseko telah menunjukkan bahwa mereka tidak lagi diam.
Dari Aula Sederhana Menuju Perubahan Nyata
Dari sebuah aula sederhana di pesisir utara Kevikepan Mbay, suara orang muda kini menggema. Mereka datang dengan iman, pulang dengan tekad. Mereka tidak membawa pulang piala, tetapi membawa pulang tanggung jawab.
Kegiatan ini tidak akan berhenti di dokumentasi atau foto grup di media sosial. Ia harus terus hidup dalam langkah konkret, dalam setiap pohon yang ditanam, dalam setiap air mata yang dibersihkan, dan dalam setiap suara yang tidak lagi diam saat bumi meminta tolong.
Dan untuk siapapun yang membaca tulisan ini: jika kalian masih muda dan merasa belum terlambat, maka inilah saatnya bergerak. Jangan tunggu sampai bumi benar-benar sunyi, karena saat itu, mungkin sudah tak ada lagi suara yang tersisa untuk berseru.
Ditulis oleh: Tim Redaksi Atalomba.com
