OMK KITA PEZIARAH, BUKAN TURIS: “Mbay Youth Day 2025 di Paroki Hati Kudus Yesus Maunori”

Oleh: Irminus Deni
Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende
Di setiap jantung desa, di balik doa-doa sederhana, dan di tengah langkah-langkah kaki muda yang berdebu oleh harapan, selalu ada perjalanan yang lebih dalam dari sekadar acara rohani. Itulah yang sedang kita tempuh, bukan sekadar kumpul-kumpul tahunan, bukan hanya ziarah karena kalender paroki, tapi sebuah pergerakan batin.
Kita adalah orang muda zaman ini, hidup dalam derasnya notifikasi, tenggelam dalam budaya instan, dan kadang lupa bahwa iman butuh perjalanan, bukan sekadar pose. Di sinilah kita diuji, Apakah kita datang untuk mengalami? Atau sekadar hadir karena takut ketinggalan tren?
Mbay Youth Day 2025 di Paroki Hati Kudus Yesus Maunori 3-7 September 2025, bukanlah perhentian santai. Ia adalah tanjakan jiwa. Dan siapa pun yang bersedia melangkah, akan tahu, “Kita ini peziarah. Bukan turis“. Dan itulah yang membedakan jalan kita dari sekadar perjalanan.
“Turis sibuk cari spot, peziarah sibuk cari makna.”
Begitu kata teman saya, ketika kami duduk di bawah pohon kelapa di pinggir Pantai Witurombaua di Maunori, Keo Tengah, sambil menanti sunset yang akan tenggelam di ufuk barat. Laut bergelombang lembut, angin sore menari di sela-sela rambut, dan suasana senja seolah mengamini kalimat itu, sebuah pengingat bahwa hidup ini bukan sekadar tempat persinggahan untuk selfie, tapi perjalanan yang menuntut kesadaran.
Saya tertawa sambil berkata, “Kalau begitu, yang sibuk selfie di depan gereja pakai baju baru, itu masuk kategori yang mana?” Dia menjawab, “Itu kategori baru, OMK setengah sadar. Setengah sadar Tuhan, setengah sadar gaya.”
Nah, tulisan ini bukan untuk menghina. Tapi untuk menggugah. Karena Mbay Youth Day 2025 di Paroki Hati Kudus Yesus Maunori bukanlah ajang pamer hoodie paroki, sepatu kets baru, atau update status pakai caption “#blessed” sambil minum boba. Ini adalah peziarahan iman. Maka, marilah kita bertanya, apa artinya menjadi peziarah, bukan turis? Dan kenapa itu penting?
Makna Tagline: OMK Kita Peziarah, Bukan Turis
Tagline ini bukan sekadar kata-kata manis di spanduk atau caption Instagram. Ini adalah pernyataan identitas rohani. Ini adalah cara pandang hidup bagi Orang Muda Katolik (OMK) yang memilih untuk tidak sekadar “hadir”, tetapi “mengalami”.
“OMK Kita Peziarah“ berarti kita adalah orang muda yang sadar bahwa hidup ini adalah perjalanan. Kita tidak menetap di dunia, kita bergerak menuju Allah. Kita belajar sabar dalam setiap tapak, setia dalam setiap salib, dan bersyukur dalam setiap restu. Kita melangkah bukan karena tren, tapi karena iman.
Sementara itu, “Bukan Turis“ adalah kritik halus tapi tajam untuk mentalitas rohani yang dangkal,
-
yang datang hanya demi foto, bukan doa;
-
yang hadir hanya demi ramai-ramai, bukan refleksi diri;
-
yang sibuk tanya “ada sinyal?” bukan “ada Sakramen?”
-
yang pulang hanya bawa kenangan, bukan pertobatan.
Peziarah menunduk, turis menengadah kamera. Peziarah bertanya Tuhan mau apa?’ Turis bertanya ‘Di mana tempat makan enak?’
Jadi, tagline ini mengajak OMK se-Kevikepan Mbay, bahkan se-Flores dan se-Indonesia untuk menyadari bahwa menjadi muda bukan berarti hidup seenaknya. Tapi hidup dalam kesadaran bahwa kita sedang “menempuh jalan pulang”, bersama Tuhan, bersama sesama dan bersama alam.
Tagline ini juga mengandung misi ekologis, bahwa sebagai peziarah, kita harus merawat bumi yang kita pijak, bukan mengotori tempat yang kita kunjungi. Peziarah mencium tanah, kalau turis meninggalkan sampah. Tagline ini adalah deklarasi iman, arah gerak pastoral, dan sekaligus tamparan kasih untuk setiap OMK yang masih bingung, “Mau jalan bareng Tuhan, atau cuma jalan-jalan doang?”
Turis Mengambil Foto, Peziarah Menyimpan Perjalanan
Turis datang untuk melihat, peziarah datang untuk mengalami. Turis ambil gambar, peziarah menangkap makna. Mbay Youth Day 2025 bukan destinasi wisata. Maunori bukan Labuan Bajo ada wisata ke Komodo, bukan pula Kelimutu, dan bukan Pantai Enagera tempat orang-orang berjemur dengan hati kosong dan kamera penuh. Ini adalah Maunori titik geografis sederhana, tetapi titik spiritual yang padat makna.
Sebagai peziarah, OMK tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga secara batin. Kita berjalan bukan untuk mencatat jarak, tapi untuk menata arah. Kita berkumpul bukan karena undangan dari panitia, tapi karena panggilan dari Tuhan. Turis akan pulang dengan koper penuh oleh-oleh. Peziarah akan pulang dengan hati penuh pertobatan.
Turis Ingin Nyaman, Peziarah Siap Berjuang
Turis mengeluh, “Makanannya kurang enak!” Peziarah berkata, “Makanan sederhana, tapi penuh berkat.” Turis protes, “Kamar mandinya antri!” Peziarah bersyukur, “Setidaknya airnya masih mengalir.” Turis gelisah, “Sinyalnya jelek.” Peziarah tenang, “Mungkin ini waktu untuk menyambung sinyal ke surga.”
Begitu banyak OMK hari ini terjebak dalam budaya instan. Kalau tidak nyaman, tidak usah ikut. Maka, Mbay Youth Day 2025 jadi panggilan untuk keluar dari “zona nyaman rohani”. Ini bukan camping ceria. Ini perjalanan spiritual. Peziarah tahu, bahwa di balik peluh dan debu di Maunori, ada pesan dari Salib yang menunggu untuk dipeluk.
Turis Bertanya “Apa yang Aku Dapat?” Peziarah Bertanya “Apa yang Aku Bawa?”
Mental konsumen adalah mental turis. Mereka datang ke Mbay Youth Day dan berharap dihibur, ada games kah? ada hiburan malam kah? ada snack sore kah? Peziarah datang bukan untuk minta, tapi untuk memberi. Memberi waktu, tenaga, tawa, bahkan air mata. Peziarah membawa diri sepenuhnya dengan luka masa lalu, dengan iman yang rapuh, dengan harapan yang berdebu. Dan di altar sederhana Maunori, semua itu ditata kembali oleh Tuhan. Maka, OMK sejati akan pulang dari Mbay Youth Day 2025 bukan dengan goodie bag, tapi dengan Good News.
Turis Fokus ke Outfit, Peziarah Fokus ke Hati
Lihatlah tren OMK masa kini:
-
Hoodie paroki edisi terbatas
-
Celana kargo army biar keliatan maskulin
-
Tato salib di lengan tapi lupa makna salib di dada
Gaya itu penting. Tapi jangan sampai OMK lebih sibuk menyetrika baju daripada meluruskan niat. Mbay Youth Day bukan panggung fashion rohani. Peziarah fokus pada yang tidak kelihatan:
-
Air mata saat adorasi.
-
Sujud diam saat komuni.
-
Pelukan sesama OMK yang memaafkan.
-
Bisikan batin yang berkata: “Kamu berharga di mata-Ku.” Itu yang tak bisa diunggah ke Instagram tapi tercatat di surga.
Peziarah Pulang Berubah, Turis Pulang Lupa
Turis bisa datang ke tempat suci dan tetap pulang dengan hati beku. Peziarah datang dengan hati terbuka dan pulang dengan hati yang diperbaharui. OMK se-Kevikepan Mbay tahu bahwa jalan iman itu menanjak. Tapi justru di tanjakan itulah kita belajar setia. Peziarah tidak mencari shortcut rohani. OMK tahu bahwa jalan salib bukan sekadar drama saat Paskah, tapi jalan hidup setiap hari. Di Mbay Youth Day 2025, setiap OMK dipanggil untuk menjadi peziarah yang pulang dengan satu keputusan: “Aku mau hidup baru.”
Misi Ekologis: Peziarah Merawat Alam, Turis Merusak Alam
Turis kadang datang, buang sampah sembarangan, dan merasa tak bersalah. Peziarah tahu bahwa bumi ini altar juga. Sebagai aktivis lingkungan, saya ingin OMK yang hadir di Maunori bukan hanya meninggalkan kenangan, tapi juga menjaga kebersihan. Jangan bawa iman dalam tas, tapi buang plastik di rumput. Jangan nyanyi pujian sambil injak botol plastik. Peziarahan kita juga ekologis. Kita datang ke tanah orang dengan rasa hormat. Kita mencium tanah, bukan menodainya.
Akhir Kata: Kita Ini Peziarah yang Sedang Diperjalanan Pulang
Kita semua, OMK Kevikepan Mbay, sedang meniti jalan pulang, menuju rumah yang sesungguhnya. Mbay Youth Day 2025 bukan tujuan akhir. Ini hanya satu perhentian. Tapi ini penting. Di sini, kita belajar makna jalan. Di sini, kita disapa oleh Tuhan lewat sesama. Di sini, kita menemukan bahwa hidup bukan soal viral atau views, tapi soal iman dan kesetiaan.
Maka mari kita bertanya: “Apakah aku OMK turis yang hanya lewat”? Atau “OMK peziarah yang berjalan bersama Tuhan”? Pilihlah. Karena perjalanan ini akan terus berlanjut. Dan hanya yang sungguh berjalan dengan hati, akan tiba di rumah Bapa dengan senyum sejati.
Salam dari Witurombaua yang senja, sederhana, dan penuh pesan. Dari seorang peziarah biasa,
Irminus Deni
Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende
