SEKARANG KITA MULAI “Refleksi pada Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025”
Oleh: Irminus Deni
Peserta SAGKI 2025, Perwakilan Keuskupan Agung Ende
Ada saatnya Gereja berbicara panjang lebar tentang masa lalu. Tentang kejayaan misi, tentang para misionaris yang datang dari jauh, tentang gereja tua dan sejarah panjang yang indah. Tapi tiba juga saatnya Gereja berhenti sejenak, menatap ke depan, menarik napas dalam-dalam, dan berkata pelan tapi pasti, “Sekarang kita mulai.”
Itulah yang kurasakan di ruang Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2025 ini. Ketika para uskup, imam, suster, bruder, dan umat awam dari seluruh Indonesia duduk bersama, tak lagi memisahkan antara pusat dan pinggiran, antara hierarki dan umat biasa, terasa seperti sebuah babak baru sedang dibuka.
Saat Gereja Belajar Mendengarkan
Selama berhari-hari di Jakarta, kami berdiskusi, berdoa, dan merenung. Tapi lebih dari itu, kami belajar mendengarkan. Mendengarkan suara Roh Kudus, tetapi juga suara umat yang jarang didengar. Mendengarkan tangisan petani di kampung, tawa anak-anak di sekolah Katolik, doa lirih para migran yang bekerja di negeri orang, dan napas umat yang setia bertahan dalam kesederhanaan.
Aku datang dari Keuskupan Agung Ende, bagian dari Provinsi Gerejawi Ende yang meliputi Flores, Ende Larantuka, Maumere, Ruteng, Labuan Bajo dan Denpasar. Wilayah yang luas, beragam, dan indah. Tapi di balik keindahan itu, ada banyak kisah getir, kemiskinan struktural, lingkungan yang rusak, migrasi, dan kehilangan panggilan rohani di tengah derasnya arus modernitas. Dan di tengah semua itu, Gereja kami tetap hadir. Kadang lemah, kadang terjatuh, tapi selalu berusaha berdiri dan melangkah lagi.
Gereja yang Bertumbuh di Tanah Batu
Iman di Ende dan Flores tumbuh di tanah berbatu. Setiap langkah menuju stasi adalah perjuangan. Setiap misa di desa terpencil adalah perayaan iman yang penuh keringat. Tapi di situlah kami menemukan makna sejati Gereja, bukan sekadar bangunan, tapi persekutuan yang berani berjalan.
Aku teringat wajah para imam tua yang naik ojek ke stasi melewati lumpur; para suster yang mengajar anak-anak di kampung terpencil tanpa sinyal internet; dan para katekis yang berjalan kaki dua jam hanya untuk mengajar anak-anak mengenal doa Bapa Kami. Mereka adalah saksi bahwa Gereja bukanlah institusi yang besar dan megah, melainkan tubuh kecil yang terus berdenyut karena cinta.
Dari Ende untuk Indonesia: Gereja yang Profetis
Di tanah Flores, Gereja belajar berbicara, bukan dengan nada marah, tapi dengan nada kasih yang tegas.
Ketika air mulai kering dan hutan mulai hilang, Gereja di Ende berkata tidak pada proyek-proyek besar yang mengancam kehidupan. Ketika rakyat kecil kehilangan tanah karena janji “energi bersih”, Gereja berdiri di antara mereka, bukan di sisi kekuasaan.
Karena kami percaya, berdiri bersama yang lemah adalah bentuk paling nyata dari doa. Itulah wajah Gereja yang ingin kami bawa ke SAGKI 2025. Gereja yang profetis, yang tidak hanya merayakan Ekaristi, tapi juga berani menghidupi roti yang dipecah-pecahkan dalam keadilan sosial dan keberpihakan kepada ciptaan.
Sinodalitas: Dari Konsep Menjadi Gerak Hidup
Banyak orang bertanya, apa sebenarnya makna sinodalitas yang menjadi inti SAGKI tahun ini? Bagi kami di Flores, sinodalitas bukan hal baru, ia telah hidup dalam budaya kami sejak lama.
Di kampung, ketika ada pesta, semua orang ikut menyiapkan. Ketika ada duka, semua turut berduka.
Ketika ada keputusan besar, semua duduk di Balai Adat, berbicara dari hati ke hati. Itulah sinodalitas dalam bentuk paling murni, berjalan bersama, mendengar bersama, memutuskan bersama.
Gereja kini hanya perlu menyadari kembali bahwa semangat itu sudah ada di antara kita. Bahwa Roh Kudus tidak hanya bekerja lewat dokumen Roma, tapi juga lewat ibu-ibu KUB di desa, lewat guru sekolah Katolik, lewat pemuda yang menjaga lingkungan, dan lewat katekis yang setia tanpa tanda jasa.
Gereja yang Turun ke Pasar
Salah satu kalimat paling indah yang kudengar dalam sidang ini adalah:
“Gereja tidak boleh hanya di altar. Gereja harus juga di pasar.”
Gereja harus hadir di tempat orang mencari hidup, di tengah bising dan hiruk-pikuk, di antara aroma ikan asin dan keringat kerja keras. Itulah medan perutusan kita yang sesungguhnya.
Di Ende, kami mulai melihat tanda-tanda kecil itu tumbuh, KUB yang membantu ibu hamil miskin, kelompok muda Katolik yang menanam pohon di bukit gersang, biarawati yang mendirikan koperasi untuk perempuan, imam yang membangun dialog dengan tokoh adat dan tokoh agama lain. Itu semua adalah tanda Gereja yang keluar dari zona nyaman. Bukan lagi Gereja yang menunggu, tapi Gereja yang menjemput. Bukan hanya Gereja yang berkhotbah, tapi Gereja yang bekerja.
Gereja yang Merangkul Semua
Dalam setiap pertemuan SAGKI, aku selalu teringat wajah mereka yang mungkin tak pernah disebut dalam laporan pastoral, anak difabel yang duduk di kursi roda, perempuan korban kekerasan, anak-anak migran yang kehilangan orang tua, dan para lansia yang hidup sendirian di kampung.
Mereka juga Gereja. Mereka juga tubuh Kristus. Dan sinodalitas hanya akan menjadi nyata kalau Gereja berani membuka pintu untuk semua orang, tanpa kecuali. Paus Fransiskus pernah berkata, “Lebih baik Gereja yang memar karena keluar ke jalan, daripada Gereja yang sakit karena tertutup.” Aku percaya, kalimat itu bukan ancaman, tapi undangan. Undangan untuk menjadi Gereja yang berani luka karena kasih.
Sekarang Kita Mulai
Kini, setelah sidang ini selesai, kami akan pulang ke keuskupan masing-masing. Ada yang ke Medan, ada yang ke Ambon, ada yang ke Jayapura, dan aku, kembali ke Ende, ke tanah yang setiap paginya disapa matahari timur. Dan sebelum pulang, aku menulis dalam hati:
“Sekarang kita mulai.”
Bukan nanti, bukan setelah semuanya sempurna, tapi sekarang, saat Gereja masih lemah, masih belajar, masih tertatih, tapi mau berjalan. Sekarang kita mulai berjalan bersama umat yang letih. Sekarang kita mulai mendengar suara yang tak pernah didengar. Sekarang kita mulai menanam pohon setelah sekian lama menebang. Sekarang kita mulai menulis sejarah baru, sejarah Gereja yang mendengarkan, mengasihi, dan bertindak. Karena tidak ada Gereja yang selesai, yang ada hanyalah Gereja yang terus berziarah, yang tak pernah lelah untuk mulai lagi, setiap hari.
Gereja yang Penuh Harapan
Aku percaya, masa depan Gereja Indonesia akan bersinar dari timur, dari Nusa Tenggara, dari Flores, dari tanah sederhana yang melahirkan banyak imam, suster, dan misionaris. Tapi lebih dari itu, dari hati umat kecil yang tetap percaya pada kasih Allah, meski dunia berubah cepat.
SAGKI 2025 telah menjadi cermin bagi kita semua. Bahwa Gereja yang besar bukan karena kekuasaan, tetapi karena kesetiaan. Bahwa Gereja yang kuat bukan karena uang, tetapi karena pengharapan.
Bahwa Gereja yang hidup bukan karena struktur, tetapi karena Roh yang terus meniupkan hidup di antara kita.

Penutup: Dari Jakarta ke Ende, dari Altar ke Dunia
Saat pesawat nanti membawa kami kembali ke Flores, aku tahu satu hal. SAGKI tidak boleh berhenti di hotel dan ruang sidang. Ia harus hidup di ladang, di pasar, di rumah, di ruang kelas, di jantung masyarakat.
Dan kalau Gereja kita hari ini mau benar-benar berubah, maka mari kita mulai dari satu kalimat sederhana yang penuh kekuatan:
Sekarang kita mulai.
Bukan dengan suara keras, tapi dengan langkah kecil yang setia.
Bukan dengan strategi besar, tapi dengan hati yang terbuka.
Bukan dengan rencana megah, tapi dengan kasih yang nyata.
Karena dari langkah kecil itulah Gereja akan tumbuh besar. Dan dari kata “sekarang” itulah, masa depan Gereja Indonesia akan dimulai.
Jakarta, November 2025
Irminus Deni
Peserta SAGKI 2025 Perwakilan Keuskupan Agung Ende

