Mauponggo Banjir, Nagekeo Tenggelam dalam Krisis Iklim?

Oleh: Irminus Deni, Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Air adalah berkat, sumber kehidupan, penghidup sawah, penyejuk tanah. Tetapi di Mauponggo, air tiba-tiba berubah wajah menjadi kutukan. Deras hujan turun tanpa kompromi, sungai meluap, dan banjir bandang melibas apa saja yang dilaluinya.
Rumah roboh, sawah hilang, ternak hanyut, dan lebih tragis lagi, nyawa melayang. Sedikitnya enam orang ditemukan meninggal, sementara tiga lainnya masih hilang. Beberapa desa hingga kini masih meratap, menunggu kepastian nasib orang-orang terkasih.
Sawah yang selama ini menjadi sumber hidup petani kini rusak total. Bukan lagi hamparan hijau padi, melainkan aliran kali baru akibat derasnya air bah. Lebih dari 70 hektar sawah di Mauponggo porak-poranda, termasuk 46,82 ha di Desa Mala Sawu, 12,7 ha di Desa Sawu, 10,13 ha di Lia Banga, dan 6,47 ha di Caya Coa. Nilainya ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Hari itu, hujan turun deras sejak pagi. Masyarakat Mauponggo awalnya mengira ini hujan biasa, karena NTT memang sedang dalam musim basah. Tetapi jam demi jam, derasnya kian menjadi. Sungai yang biasanya jinak berubah buas.
Dalam hitungan jam, desa-desa tergenang. Sawah tertutup lumpur, pematang jebol, jalur air baru terbentuk. 35 rumah hanyut terbawa banjir, ratusan orang terpaksa mengungsi. Dari lahan harapan, yang tersisa hanyalah hamparan kerikil dan lumpur.
Ada fakta yang tak bisa diabaikan, persis di hulu sungai yang meluap dan menghantam Mauponggo, terdapat wilayah Ululoga dan Pajoreja. Daerah ini kini sering disebut dalam rencana proyek panas bumi.
Jika saat ini, tanpa aktivitas industri besar, banjir sudah sedahsyat ini, apa jadinya jika proyek geotermal benar-benar jalan? Eksploitasi hutan dan tanah di hulu akan mengubah jalur air, merusak ekosistem, dan memperbesar risiko bencana. Apa yang terjadi di Mauponggo hari ini mungkin hanya permulaan.
Di Nagekeo, sawah adalah nyawa. Dari sanalah anak-anak disekolahkan, keluarga diberi makan, pesta adat dilaksanakan. Tetapi di Mauponggo, sawah kini hanya tinggal cerita.

Pematang jebol, tanah longsor, dan air menciptakan sungai baru di tengah hamparan padi. “Sawah kami bukan lagi sawah. Sawah kami sudah jadi kali,” ujar seorang bapak dengan suara bergetar.
Banjir di Mauponggo tidak hanya soal hujan deras atau hutan gundul. Setidaknya ada 10 titik galian C di Nagekeo, sebagian berada di daerah aliran sungai (DAS). Bukit-bukit dikoyak, bantaran sungai melebar tanpa kendali, jalur air liar tak terbendung, ini adalah ancaman bagi Nagekeo kedepan.
Setiap kali hujan, pasir, batu, dan lumpur dari galian ikut terbawa arus. Sungai dangkal, meluap, dan menghantam desa. Bukit yang ditambang untuk kepentingan sesaat kini jadi pintu masuk bencana. Ironisnya, sebagian galian itu diduga dilindungi oleh pemerintah daerah dan oknum berpengaruh.
Editorial ini menegaskan, banjir Mauponggo bukan sekadar “murka alam”, melainkan juga akibat rakusnya manusia yang menggali bumi tanpa tanggung jawab.
Setiap korban jiwa adalah dunia yang runtuh. Setiap kehilangan adalah luka yang tak bisa diukur dengan angka. Enam orang sudah tiada, tiga masih hilang. Itu bukan sekadar statistik, itu alarm yang seharusnya mengguncang nurani. Jika galian C terus merajalela, hutan terus gundul, dan proyek geotermal dipaksakan, korban jiwa hanya soal waktu.
Mari jujur. Banjir ini bukan sekadar salah hujan. Ini juga salah kebijakan. Hutan dibiarkan gundul. Galian C tumbuh bak jamur tanpa kontrol. Alih fungsi lahan dibiarkan liar. Tata ruang tak ditegakkan. Proyek pembangunan lebih berpihak pada investor daripada rakyat. Kini rakyat yang membayar mahal. Dengan nyawa, sawah yang hilang, rumah yang hancur, dan masa depan yang suram.
Banjir Mauponggo adalah wajah nyata dari krisis iklim global. Suhu bumi naik, curah hujan makin ekstrem, cuaca makin sulit ditebak. Tetapi di Nagekeo, krisis ini punya wajah lokal, sawah jadi kali, rumah hanyut, korban jiwa berjatuhan, hutan gundul, galian C merajalela, dan ancaman geotermal di hulu yang bisa jadi bom waktu.
Negara tidak boleh hanya hadir setelah bencana. Negara harus hadir sebelum bencana. Negara tidak boleh hanya memberi bantuan darurat, tetapi harus menutup galian C ilegal, melindungi hutan, menata tata ruang, dan mengevaluasi proyek yang berpotensi memperparah risiko bencana. Negara tidak boleh hanya berjanji di depan kamera, tetapi harus turun dengan kebijakan nyata.
Editorial Atalomba.com menegaskan, setiap korban yang meninggal, setiap keluarga yang berduka, setiap sawah yang berubah menjadi kali, setiap bukit yang dikoyak galian C, dan setiap hulu sungai yang dijadikan lahan eksploitasi adalah alasan kuat bagi kita untuk berubah.
Mauponggo tidak boleh terus tenggelam dalam air banjir dan kebijakan setengah hati. Nagekeo harus bangkit dengan pembangunan yang berpihak pada rakyat, lingkungan, dan masa depan. Karena setiap nyawa yang hilang adalah hutang. Dan hutang itu hanya bisa dibayar dengan tanggung jawab nyata.
