CLARA: Jalan Pulang dari Dunia Gelap Episode 4 “Rumah Tampa Jendela”

Suara mesin truk berhenti di depan sebuah rumah besar bercat abu-abu. Tidak ada plang, tidak ada tulisan. Hanya pagar tinggi, anjing penjaga, dan kamera kecil di sudut tembok. Clara turun dari bak truk bersama lima gadis lain. Tubuhnya masih menggigil, bajunya basah oleh air laut. Di hadapan mereka berdiri seorang wanita berusia sekitar empat puluhan, berpakaian ketat, bibir merah menyala. “Selamat datang di rumah kalian,” katanya dingin. “Saya Mami May.” Gadis-gadis saling berpandangan. Tak satu pun berani bicara. Mami May menatap mereka satu-satu, lalu menunjuk ke arah pintu besi. “Masuk. Jangan banyak tanya. Di sini, yang bicara hanya saya.”
Mereka berjalan pelan. Di dalam, udara pengap dan bau parfum murahan bercampur asap rokok. Lampu-lampu neon menyala redup. Ada banyak pintu, tapi tidak satu pun jendela. Clara memandang ke langit-langit, ventilasi tertutup kawat besi. “Rumah tanpa jendela,” batinnya. “Tempat di mana cahaya tak diizinkan masuk.”
Malam pertama, mereka dikumpulkan di ruang tengah. Mami May menaruh rokok di bibir, menyulutnya dengan gaya seorang bos. “Dengar baik-baik,” katanya, menghembuskan asap.
“Mulai hari ini, kalian kerja di bawah saya. Kalian bukan turis, kalian bukan tamu. Kalian utang biaya perjalanan—dua puluh juta per orang.” Clara terkejut. “Tapi Mami, saya tidak punya uang sebanyak itu.”
Mami May menatapnya datar. “Makanya kerja. Kalau kau mau bebas, lunasi dulu. Kalau tidak, jangan bermimpi keluar.” Gadis lain mulai menangis. Mami memutar matanya malas. “Jangan drama. Di sini tidak ada mama, tidak ada papa. Hanya kerja, uang, dan diam.” Clara menunduk. Dunia terasa berputar. Ia ingin teriak, tapi tenggorokannya kering.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Clara belajar dari Mira, gadis yang sudah setahun di sana.
Mira wajahnya pucat, matanya sayu, tapi senyumnya lembut. “Jangan melawan,” bisik Mira suatu malam. “Kalau kau melawan, mereka akan ambil paspormu, dan kau tidak akan pernah pulang.” “Sudah diambil,” jawab Clara lirih. Mira mengangguk, seolah sudah tahu. “Ya. Semua begitu.”
Mereka berbagi makanan seadanya, nasi dingin dan ikan asin. Kadang, listrik padam, dan ruangan jadi gelap gulita. Suara langkah penjaga terdengar di koridor seperti bayangan. Clara memeluk lututnya. “Mira, kamu tidak ingin pulang?” “Setiap hari,” jawab Mira. “Tapi pulang ke mana kalau tak ada uang untuk menebus diri?”
Suatu siang, Clara dipanggil oleh Mami May. “Kau bisa menulis?” Clara mengangguk pelan. “Bagus. Tulis surat ke keluargamu. Katakan kau baik-baik saja. Katakan kau kerja di restoran. Saya kirimkan lewat orang.” Clara bingung, tapi menuruti. Ia menulis di selembar kertas kecil, “Mama, Clara sehat. Kerja di restoran, capek tapi cukup makan. Doakan Clara rajin supaya bisa bantu adik sekolah.” Tangannya gemetar menulis kalimat terakhir. Mami May mengambil surat itu tanpa menatapnya.
“Bagus. Nanti uangmu minggu depan saya kirim. Katakan pada mereka bahwa, kamu kerja halal.”
Dua minggu kemudian, Mami May datang sambil membawa ponsel. “Telepon, cepat!” katanya. Di layar, nama yang muncul, Mama. Clara menangis sebelum bicara. “Mama… Clara sehat.” Suara di seberang terdengar riang. “Anakku! Di sana baik-baik, ya. Jangan lupa makan. Di sini mama senang sekali, uangmu sudah sampai!”
Clara terdiam. “Uang mama sudah terima anaku?” jawab mama Lidia di telepon. uangnya banyak sekali nak. Semua orang bilang kamu hebat, Clara. kamu baik baik disana ya nak, jangan lupa berdoa. Tiba-tiba ada suara mami May “Clara cukup” lansung Clara mengatakan ke Mamanya, ” Ma.. sudah ya Clara mau lanjut kerja, bos sudah panggil.” Mama Lidiapun mengatan “baik Clara anaku, kamu baik-baik disana dan semoga tuhan selalu melindungimu”. teleponpun terputus.
Air mata Clara menetes deras. Ia tak sanggup menjelaskan. “Ya, Ma… Clara kerja keras.” Clara ingin berteriak, “Mama, aku bukan pekerja restoran! Aku tawanan, Ma!, aku kerja melayani Lelaki hidung belang ma, aku kotor ma, aku berdosa sama almarhum bapa ma, aku berdosa telah menipu mama, aku telah mengirim uang haram untuk mama dan adik ma.” Tapi yang keluar hanya gumaman lirih, tenggelam dalam kamar gelap tampa jendela. Clara menatap ponsel itu lama, seolah di dalamnya tersimpan dua dunia yang tak pernah akan bertemu, dunia bangga di kampung, dan dunia luka di balik pagar besi.
Beberapa bulan berlalu. Clara mulai terbiasa. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya mati rasa. Setiap akhir bulan, Mami memberikan amplop berisi uang. Sebagian dikirim ke Indonesia, sebagian diambil untuk “biaya makan dan tempat tinggal”.
“Bagus, Clara,” kata Mami suatu hari. “Kamu cepat belajar. Nanti saya kasih kerja tambahan. Kau pintar bicara, bisa bantu urus anak-anak baru.” Clara hanya mengangguk. Malamnya, ia duduk di lantai, membuka amplop uang. Kertas-kertas ringgit itu ia pandangi lama-lama. “Dengan uang ini Mama bisa makan, adik bisa sekolah. Tapi aku sendiri, kapan bisa bebas?” Ia menggenggam uang itu erat, lalu menangis dalam diam.
Suatu malam, hujan turun deras. Atap rumah bocor di beberapa titik. Air menetes pelan ke lantai.
Clara dan Mira duduk berdampingan di dekat tembok. “Kamu tahu,” kata Mira, “waktu aku pertama kali ke sini, aku pikir Tuhan sudah lupa padaku.” “Sekarang?” tanya Clara. Mira menatap hujan. “Sekarang aku tahu, Tuhan ada. Tapi kadang Dia diam terlalu lama.” Clara tidak menjawab. Ia menatap dinding yang lembab. Di dinding itu, seseorang menulis dengan arang, “Kalau kamu baca ini, berarti kamu masih hidup. Bertahanlah.”
Suatu pagi, salah satu gadis mencoba kabur. Ia tertangkap di gerbang belakang. Sore itu, semua penghuni rumah dipaksa berbaris. Mami May datang dengan wajah dingin. “Ini contoh kalau kalian lupa tempat kalian berada,” katanya. Ia menatap Clara tajam. “Ingat, kalian bukan tamu. Kalian barang.” Setelah itu, tak ada yang bicara lagi.
Clara menatap langit-langit. Tak ada bintang, tak ada cahaya. Hanya suara langkah penjaga di luar pintu dan dengung lampu neon. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat kampungnya sawah, tawa Mama, suara jangkrik. Semua terasa jauh. Terlalu jauh. “Aku ingin pulang, tapi ke mana? Rumahku mungkin sudah tak kenal wajahku.”
Air matanya jatuh pelan. Di luar, hujan masih turun. Di dalam, waktu berhenti. Dan di rumah tanpa jendela itu, seorang gadis bernama Clara belajar arti kata tahanan, dan bagaimana harapan bisa mati tanpa suara.
🕯️ Bersambung ke Episode 5: “Lubang Ventilasi” — di mana Clara mencoba kabur dari rumah tanpa jendela itu, namun menemukan bahwa pintu keluar tidak selalu berarti kebebasan.
