Harmoni di Balik “Gedung Sasando” Saat Melodi Chrisye Menghapus Nada Sumbang Politik Ende

Oleh: Irminus Deni
Pernahkah Anda membayangkan sebuah bangunan yang tidak hanya berdiri kokoh dari semen dan baja, tetapi juga bernapas dalam irama musik? Di jantung Kota Kupang, berdiri sebuah gedung ikonik yang bentuknya menyerupai instrumen petik kebanggaan masyarakat NTT, banyak orang menyebutnya sebagai Gedung Sasando. Namun, gedung ini bukan sekadar tempat Gubernur dan para pejabat berkantor atau menandatangani tumpukan berkas administratif. Pekan ini, Gedung Sasando bertransformasi menjadi sebuah “Laboratorium Kedamaian” yang sangat unik.
Beberapa waktu lalu, publik di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Bumi Triwarna, Ende. Disuguhi tontonan yang lebih menegangkan daripada final Piala ETMC. Jika biasanya kita menonton berita tentang keberhasilan panen atau prestasi anak bangsa, kali ini layar kaca dan portal media lokal dipenuhi oleh adegan “politik urat leher“. Hubungan antara Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ende dan DPRD Kabupaten Ende sempat memanas hingga menyentuh titik didih yang cukup untuk mematangkan uap moke DW di dalam periuk tanah.
Kita masih ingat betul betapa dramatisnya suasana Rapat Paripurna saat itu. Ada interupsi yang nadanya lebih melengking daripada suara penyanyi rock tahun 80-an, ada gebrakan meja yang dentumannya mengalahkan suara letusan gunung Lewotobi, bahkan ada kabar tentang evakuasi Bupati yang harus dilakukan demi menjaga keselamatan, oleh para ASN Pemda Ende. Puncaknya, sebuah insiden yang membuat kita semua mengelus dada, lambang Garuda yang terhormat nyaris “mencicipi” lantai karena emosi yang meluap dari salah satu oknum anggota dewan. Sungguh sebuah komedi tragis yang terjadi di rahim tempat Bung Karno merenungkan Pancasila.
Panggilan dari “Gedung Sasando”
Namun, di tengah kebuntuan yang terasa seperti jalan buntu di tanjakan terjal, datanglah sebuah “surat cinta” dari Ibu Kota Provinsi. Sang Gubernur NTT, dengan naluri seorang dirigen yang peka terhadap nada sumbang, mengundang kedua belah pihak untuk bertemu di Kupang. Bukan di hotel mewah atau di lapangan terbuka, melainkan di Gedung Sasando.
Pemilihan lokasi ini, menurut hemat saya secara humoris namun masuk akal, adalah sebuah langkah psikologis yang jenius. Sasando adalah alat musik yang terdiri dari puluhan dawai. Jika satu dawai ditarik terlalu kencang, ia akan putus. Jika terlalu kendur, ia tidak akan berbunyi. Filosofi inilah yang ingin “disuntikkan” kepada para pemimpin kita dari Ende. Gedung Sasando seolah-olah berbisik kepada mereka saat mereka melangkah masuk. “Woi bos-bos sekalian, kalian masuk ke gedung yang bentuknya alat musik, jadi tolong jangan bawa suara knalpot brong ke dalam sini!”
Sihir Chrisye dan Gencatan Senjata Musikal
Di dalam gedung unik itu, sebuah strategi “gerilya budaya” dijalankan. Alih-alih langsung menyodorkan tumpukan Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang biasanya bikin mata sepet dan kepala berdenyut, sang Gubernur justru menyetel sebuah pemutar musik. Dan pilihannya jatuh pada sang maestro lintas generasi, Chrisye.
Bayangkan adegan ini, Bosqu, Di ruangan yang biasanya penuh aroma kopi pahit dan ketegangan politik, tiba-tiba suara bariton yang lembut dan menenangkan mulai mengisi ruang udara. Lagu “Damai Bersamamu” mulai mengalun:
“Aku tiada berdaya bila di hatiku tak ada cinta… Aku hampa tanpa kasih-Mu…”
Lirik ini sebenarnya adalah “sentilan” maut. Bayangkan para anggota DPRD yang tadinya sudah menyiapkan peluru interupsi, atau jajaran Pemda yang sudah memasang tameng pembelaan diri, tiba-tiba harus berhadapan dengan suara Chrisye. Rasanya seperti mau pergi berperang tapi tiba-tiba di jalan disuguhi es kelapa muda yang segar. Gengsinya luntur, urat lehernya yang tadinya kencang seperti senar gitar yang baru diganti, perlahan-lahan mulai mengendur.
Ini adalah bentuk humor yang cerdas. Siapa yang tega untuk tetap marah-marah sambil mendengarkan melodi yang begitu surgawi? Kalau ada pejabat yang masih mau gebrak meja saat Chrisye bernyanyi, itu tandanya dia perlu diperiksa asupan estetikanya. Di bawah “sihir” melodi inilah, komunikasi yang macet seperti jalanan di pusat kota saat jam pulang kantor mulai mencair.
Menyadari Kekurangan Sambil Menikmati Melodi
Kekuatan musik Chrisye terletak pada kejujurannya. Lewat lagu “Badai Pasti Berlalu”, suasana di Gedung Sasando berubah menjadi ruang refleksi kolektif.
“Awan hitam di hati yang sedang resah… segera akan sirna… badai pasti berlalu…”
Dan ajaibnya, awan hitam kericuhan yang sempat menghiasi berita-berita di NTT itu benar-benar sirna. Di sinilah poin “masuk akal” yang paling kuat. Kadang, manusia itu kalau ditekan dengan aturan, dia akan melawan. Tapi kalau disentuh dengan rasa, dia akan menyerah. Kedua lembaga besar di Ende ini akhirnya menyadari kekurangan masing-masing tanpa harus ada yang merasa “kalah” atau “menang“.
Pemda Ende menyadari bahwa mereka tidak bisa menjalankan roda pembangunan sendirian tanpa “irama” pengawasan dari DPRD. Sementara DPRD menyadari bahwa pengawasan itu bukan berarti harus menjadi “polisi” yang galak, melainkan menjadi mitra yang harmonis. Mereka menyadari bahwa energi yang selama ini habis dipakai untuk bertikai, kalau dialihkan untuk membangun Ende, mungkin jalan-jalan yang berlubang sudah bisa mulus sehalus pipi bayi.
Humor konstruktifnya begini, ternyata butuh intervensi level provinsi dan suara Chrisye hanya untuk membuat sekelompok orang dewasa yang sangat terhormat untuk mau bersalaman dan bilang, “Maaf ya Bosqu, kemarin saya sedikit emosi.” Sungguh sebuah kemajuan luar biasa bagi demokrasi kita!
Filosofi Sasando, Satu Alat, Berjuta Harmoni
Perdamaian ini menjadi lebih bermakna karena dilakukan di gedung yang bernama Sasando. Kita tahu, Sasando memiliki banyak dawai yang dimainkan secara bersamaan dengan kedua tangan. Tidak ada satu dawai pun yang merasa lebih penting dari dawai lainnya. Jika tangan kiri dan kanan tidak kompak, maka yang dihasilkan bukanlah musik, melainkan kebisingan.
Begitu pulalah seharusnya hubungan antara Pemda dan DPRD Ende. Mereka adalah dua tangan yang harus memetik dawai-dawai kebijakan agar masyarakat Ende bisa mendengarkan “simfoni kemakmuran“. Jika Bupati dan DPRD kompak, maka rakyat tidak akan lagi disuguhi drama “evakuasi” yang memalukan, melainkan berita-berita tentang inovasi dan pembangunan.
Gubernur NTT telah membuktikan diri sebagai seorang konduktor yang mumpuni. Beliau tidak menggunakan “cambuk” kekuasaan, melainkan “tongkat estafet” budaya. Beliau paham bahwa orang NTT itu memiliki jiwa seni yang tinggi. Kita bisa berkelahi karena hal sepele, tapi kita bisa menangis haru dan berpelukan hanya karena satu lirik lagu yang tepat sasaran.
Untuk Masa Depan, Jangan Matikan Musiknya!
Sekarang, setelah perdamaian itu tercapai dan para pemimpin kita kembali ke Bumi Triwarna, tugas berat menanti. Harapan kita sebagai masyarakat adalah jangan sampai perdamaian ini hanya bertahan selama lagu Chrisye diputar. Jangan sampai begitu sampai di Ende dan kena panas matahari, emosinya naik lagi dan lagu Chrisye dilupakan.
Kita berharap semangat dari Gedung Sasando ini dibawa pulang ke Ende. Kalau nanti di ruang sidang suasana mulai panas lagi, saran saya sederhana, Siapkan operator musik yang handal. Begitu ada yang mulai bicara pakai nada tinggi, langsung putar lagu “Pelangi” atau “Kala Sang Surya Tenggelam”. Biarkan melodi yang bekerja mendinginkan suasana.
Politik itu fana, Bosqu, tapi karya seni dan kebaikan itu abadi. Jangan biarkan jabatan yang hanya beberapa tahun itu merusak hubungan persaudaraan yang sudah dijalin bertahun-tahun. Malu sama rakyat, malu sama Garuda yang kemarin hampir jatuh, dan tentu saja malu sama Chrisye yang sudah susah payah mendamaikan lewat lagunya.
Biarkan Ende Bernyanyi
Terima kasih kepada Gedung Sasando yang sudah menjadi saksi bisu kembalinya akal sehat. Terima kasih kepada Bapak Gubernur NTT yang sudah menjadi “DJ perdamaian” yang sangat visioner. Dan yang paling utama, terima kasih kepada jajaran Pemda dan seluruh anggota DPRD Ende yang sudah mau melepaskan ego di pintu masuk gedung Sasando.
Momen ini mengajarkan kita satu hal, di mana ada harmoni, di situ ada solusi. Di mana ada cinta (seperti kata Chrisye), di situ ada kedamaian. Mari kita kawal perdamaian ini agar bukan sekadar janji di atas kertas, tapi menjadi aksi nyata bagi kemajuan Kabupaten Ende tercinta.
Sebab, pada akhirnya, rakyat tidak butuh drama politik kelas teri. Rakyat butuh pemimpin yang bisa merangkai nada-nada kebijakan menjadi melodi indah yang bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dari pesisir hingga pegunungan. Badai benar-benar telah berlalu. Sekarang, waktunya kita menatap matahari kemajuan. Biarkan Sasando terus berbunyi, dan biarkan Ende terus bernyanyi dalam harmoni. (Penulis adalah Pemimpin Redaksi Atalomba.com)
