Ketika Umat Ditindas, Kami Para Imam Berdiri Di Barisan Paling Depan

Oleh: Irminus Deni
Aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay
Media Partner: Atalomba.com
“Imam memang memimpin Misa di Gereja, tapi ketika umatnya menjerit di jalan, di sanalah altar yang sebenarnya. Karena Ekaristi bukan sekadar liturgi, melainkan kasih yang hidup.”
Beberapa hari belakangan ini, banyak perbincangan muncul, baik di media sosial maupun dalam obrolan sehari-hari. Ada yang bertanya, ada yang menyindir, ada pula yang tulus ingin tahu, “Mengapa para pastor turun ke jalan?” Lebih tajam lagi, “Apa para imam tidak ada pekerjaan lain sampai harus ikut demo menolak proyek geotermal?”
Sebagai orang muda Gereja dan aktivis Forum Peduli Lingkungan Hidup Kevikepan Mbay, saya memilih untuk tidak menjawab dengan emosi. Saya menjawab dengan kesaksian iman, karena saya pribadi sudah duduk dan berbincang langsung dengan beberapa imam di Kevikepan Mbay, termasuk dengan Vikep Mbay sendiri, RD. Asterius Lado.
Jawaban-nya sederhana namun dalam:
“Kami tidak punya kepentingan. Tapi kalau ada yang merusak alam dan kehidupan umat, kami harus berdiri bersama umat.”
Bukan Sekadar Turun ke Jalan
Mereka tidak sedang berdemo ala politik praktis. Mereka tidak sedang kampanye. Yang mereka lakukan adalah aksi damai, aksi iman, dan aksi cinta tanah air. Mereka turun bersama umat untuk mengatakan satu hal, “Tanah ini bukan hanya tanah proyek. Tanah ini tanah warisan. Tanah ini tanah adat. Tanah ini tanah sakral.”
Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman tidak hanya hidup di dalam Gereja, tetapi harus menjadi nyata dalam kehidupan sosial. Dalam dokumen Ajaran Sosial Gereja, khususnya dalam ensiklik Laudato Si’, Paus Fransiskus menekankan pentingnya menjaga bumi sebagai “rumah bersama“.
Maka ketika rumah bersama ini terancam oleh sebuah proyek yang tidak berpihak pada rakyat kecil, tidak melalui proses partisipatif, dan berpotensi merusak ekosistem serta hak hidup masyarakat adat, para imam berkewajiban moral dan pastoral untuk bersuara.

Imam Tidak Punya Kepentingan
Ada yang bilang, para imam punya kepentingan pribadi. Mari kita luruskan, Imam bertugas di paroki hanya sekitar lima tahun. Mereka tidak tinggal menetap seumur hidup di satu tempat. Mereka tidak punya tanah di kampung itu. Mereka tidak akan tinggal di sana selamanya. Tapi justru karena itu mereka bisa berpikir jernih dan bertindak adil.
Mereka tidak sedang membela milik pribadi. Mereka membela rumah umat, tanah hidup umat, lingkungan hidup anak cucu umat. Mereka turun ke jalan bukan karena ingin populer, tapi karena ingin umatnya hidup tenang, sehat, dan damai.
“Kami ini hanya singgah di paroki. Tapi umat yang kami layani akan hidup di sini selamanya. Kalau kami diam, itu berarti kami mengkhianati hati nurani kami.” Imam Kevikepan Mbay. Sebagai imam, kami tidak boleh bersembunyi ketika umat kami menderita. Kami Iman di Nagekeo berdiri bersama umat. Itulah wujud nyata pelayanan yang berpihak pada kehidupan.
Kami Tidak Melawan Negara, Kami Menjaga Kehidupan
Aksi damai bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Ini adalah seruan moral agar negara hadir dengan hati nurani. Agar pembangunan tidak melukai rakyat. Agar pembangunan tidak menjadi malapetaka.
Gereja tidak pernah anti pembangunan. Gereja hanya menolak pembangunan yang tidak adil, tidak partisipatif, dan merusak ciptaan. Dan sebagai lembaga moral, Gereja berhak dan wajib bersuara saat umatnya terancam. Maka, ketika para imam memimpin doa di jalanan, itu bukan pelanggaran liturgi. Itu adalah perpanjangan misi Ekaristi, membawa kasih Kristus ke tengah dunia nyata, ke tengah tangisan umatnya.
Mengikuti Arahan Bapa Uskup
Aksi ini bukan liar. Tidak dilakukan sembarangan. Sikap Bapa Uskup Agung Ende sangat jelas, lingkungan harus dilindungi, dan proyek yang merusak kehidupan masyarakat harus ditolak.
Dalam beberapa kali kunjungan pastoral dan komunikasi dengan umat di Sokoria dan Mataloko, Bapa Uskup mendengar langsung keluhan masyarakat terkait dampak buruk proyek geotermal yang telah berjalan. Kerusakan sumber air, polusi udara, dan keresahan sosial telah terjadi. Oleh karena itu, Bapa Uskup menyatakan sikap tegas bahwa proyek semacam ini harus dievaluasi dan ditolak jika merusak kehidupan rakyat dan lingkungan.
Para imam di Kevikepan Mbay hanya menjalankan tanggung jawab pastoral dan mengikuti arah Bapa gembala, Uskup Agung Ende. Dan tentu saja, semua dilakukan dalam semangat damai, doa, dan kasih.
Aksi Damai, Bukan Aksi Benci
Aksi ini tidak berisi kekerasan. Tidak ada makian. Tidak ada benturan. Yang ada adalah, doa, nyanyian rakyat, dan seruan cinta tanah.
Gereja menunjukkan bahwa imam tidak diam ketika dunia menangis. Imam harus hadir, harus hidup, dan harus membela yang tertindas.
“Ekaristi tidak hanya untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan. Ketika umat sedang berteriak di jalan, altar suci itu berpindah ke jalan raya. Di sanalah kasih menjadi nyata.”
Untuk Mereka yang Masih Bertanya
Kalau hari ini masih ada orang yang bertanya, “Kenapa para pastor tidak tinggal saja di Gereja?”, barangkali mereka belum tahu bahwa tugas imam bukan hanya membagikan Hosti, tapi juga membagikan harapan.
Dan kalau ada yang berpikir negatif, kami hanya bisa mendoakan:
“Tuhan, terangilah hatinya agar ia mengerti bahwa para gembala-Mu tidak tinggal di menara gading. Mereka turun ke padang, karena domba-domba-Mu sedang terluka.”
