Sekolah Dasar Katolik (SDK) Maunori: 100 Tahun Menyalakan Harapan

Oleh Irminus Deni, Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Rubrik Khusus: Atalomba Kiri Kanan — Senggol Dong!
Hujan tak berhenti sejak dini hari. Langit Maunori seperti meneteskan air matanya, menyambut sebuah peristiwa yang tak biasa. Di balik langit yang muram, umat Paroki Hati Kudus Yesus Maunori bersiap-siap. Bukan sekadar pesta. Bukan pula sekadar nostalgia. Ini adalah peristiwa iman. Sebuah napak tilas yang sakral: seratus tahun Sekolah Dasar Katolik (SDK) Maunori.
Bayangkan seratus tahun lalu. Jalanan belum beraspal, rumah-rumah masih berdinding bambu, dan suara lonceng gereja lebih keras dari suara radio. Di tengah sunyi itu, pendidikan Katolik menyalakan lilin kecilnya: SDK Maunori berdiri. Bukan di gedung megah. Bukan pula dengan guru bersertifikat. Tapi dengan semangat. Dengan doa. Dengan harapan.
Sekolah ini didirikan oleh para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1924. Mereka datang jauh dari Eropa, membawa salib dan buku, bukan senjata. Mereka tak hanya membaptis, tapi juga membangun. Di banyak tempat di Flores, para misionaris SVD mendirikan sekolah, membangun jembatan, dan menggagas perubahan. SDK Maunori adalah salah satu warisan pendidikan paling hidup dari perjuangan itu. Sebuah tonggak sejarah yang menyatukan iman, ilmu, dan keberanian di tengah belantara waktu.
Seratus tahun kemudian, pada sebuah hari yang dibasahi hujan deras, Yang Mulia Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD datang. Beliau bukan hanya hadir sebagai tamu, tapi sebagai simbol perjalanan rohani dan sejarah umat Katolik di Keuskupan ini. Umat menanti dengan sabar di sepanjang jalan. Dari Bengga hingga Maunori, setiap tikungan dan belokan dipenuhi suara syukur, tarian adat, dan linangan air mata.
Dari Lingkungan St. Paulus Bengga, penjemputan dimulai. Upacara adat Sebha Raghi digelar. Di bawah derasnya hujan, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dikenakan pakaian adat Nagekeo. Di lehernya tergantung kalung tenun, simbol cinta dari umatnya. Tak ada karpet merah, tapi tanah basah itu sendiri telah menjadi altar suci penyambutan. Anak-anak, dan kaum muda menari dengan semangat yang tak bisa dihentikan hujan.
Arak-arakan umat tak main-main. Dengan motor butut dan mobil bak terbuka, umat Paroki Maunori menyambut gembala mereka. Tak peduli baju basah. Tak hirau jalan licin. Hati mereka penuh dengan satu rasa syukur. Syukur atas sekolah yang telah mendidik mereka. Syukur atas iman yang tumbuh bersama ilmu. Syukur karena seratus tahun bukan waktu yang pendek, tapi SDK Maunori tetap berdiri.
Saat Bapa Uskup tiba di gereja paroki, suara gong dan gendang menggema. Tak ada pesta yang lebih suci dari pesta iman. Tak ada sejarah yang lebih kuat dari sejarah yang diukir dengan salib dan buku tulis. Dalam upacara sabda yang berlangsung khidmat, umat meneteskan air mata. Tak perlu homili yang panjang. Kehadiran Bapa Uskup sendiri adalah pesan yang mendalam: Gereja peduli. Gereja hadir. Gereja tak melupakan akar rumput.
SDK Maunori telah menjadi saksi sejarah. Dari zaman tanpa listrik hingga era media sosial. Dari penggaris kayu hingga laptop. Dari guru misionaris hingga pengajar lokal yang adalah alumni sekolah itu sendiri. Semua mengalir dalam satu cerita besar: bahwa pendidikan Katolik adalah tentang hati.
Umat tahu, banyak hal bisa berubah. Pemerintah bisa datang dan pergi. Jalan bisa berlubang atau mulus. Tapi SDK Maunori tetap menjadi ruang bagi anak-anak untuk bermimpi. Di sanalah mereka pertama kali belajar menulis. Di situlah mereka pertama kali menyebut kata “cita-cita.”
Seratus tahun ini bukan hanya milik Umat Paroki Maunori. Ini adalah milik seluruh Umat Keuskupan Agung Ende. Bahkan milik bangsa. Sebab setiap anak yang lahir dari sekolah ini, adalah cahaya kecil yang menyala dalam gelapnya dunia. Mereka menjadi guru, biarawan, ibu rumah tangga, petani, perawat, bahkan imam. Mereka menyebar, tapi hatinya tetap di Maunori.
Perayaan ini adalah pengingat: bahwa kita tak boleh melupakan akar. Kita tak boleh menertawakan sekolah kecil dengan dinding tua. Kita tak boleh menyombongkan gedung tinggi dan melupakan pondasi iman yang sederhana. Maunori adalah pelajaran tentang kesetiaan.
Sebagai penutup, Atalomba ingin berkata: Terima kasih, SDK Maunori. Terima kasih karena telah menyalakan harapan di tengah hujan. Terima kasih karena telah menjadi rahim ilmu dan iman. Terima kasih karena tetap berdiri, meski dunia terus berubah.
Seratus tahun telah lewat. Tapi terangmu belum padam. Lilin kecil itu masih menyala. Dan selama masih ada anak-anak yang bermimpi, SDK Maunori akan tetap hidup. Dalam hati. Dalam sejarah. Dalam iman kita semua.
Ditulis oleh Irminus Deni
Pemimpin Redaksi Atalomba.com
