EDITORIAL ATALOMBA.COM: “Guru, Negara Utang Padamu, Editorial Tanpa Rem untuk Hari Guru”

Oleh: Irminus Deni – Pemimpin Redaksi Atalomba.com dan Terranusanews.com
Bosqu, kita gaaaaas tanpa rem; bukan sekadar rem blong; ini remnya sudah dicopot, dibuang ke jurang, lalu kita terus melaju sambil klakson panjang; karena kalau bicara soal GURU di negeri ini, sopan santun kadang hanya membuat luka semakin ditutup-tutupi; maka izinkan Atalomba.com membuka semuanya; telanjang; gamblang; dan pedas seperti sambal terasi yang disajikan tanpa air.
Mari mulai dari kenyataan paling tajam, guru adalah profesi yang paling dipuji, sekaligus paling diabaikan; tiap tahun kita merayakan Hari Guru dengan gaya seperti sedang menyambut pesta emas republik; padahal keesokan harinya, guru kembali dibiarkan berjuang sendiri; mengajar anak bangsa sambil menambal hidup dengan penghasilan yang kadang lebih kecil dari uang jajan murid kelas 11 yang hobi pesan kopi susu literan.
Bangsa ini begitu lihai menciptakan pujian manis; “Guru pahlawan tanpa tanda jasa”; “Guru pelita peradaban”; “Guru pejuang masa depan”; semua terdengar indah; kalimat-kalimat itu seperti kembang api yang memecah langit malam yang indah, gemerlap, memukau; sayangnya, kosong. Karena setelah kembang apinya padam, guru kembali pulang, memegang amplop honor yang lebih tipis dari casing HP muridnya; ironis, tapi nyata; dan kita dilarang protes? Tidak; hari ini kita protes; lantang; tanpa rem; biar semua pejabat yang baca ikut panas dingin.
Mari lihat realita; guru honorer adalah makhluk paling setia yang pernah diciptakan Tuhan dan diabaikan negara; mereka mengabdi belasan tahun tanpa status jelas; gaji mereka bisa kalah dari upah jaga toko; tetapi setiap pagi tetap datang ke kelas sambil berkata pada diri sendiri, “Saya harus kuat”; padahal yang kuat itu bukan mereka, yang kuat adalah kemampuan mereka menahan sakit.
Coba bayangkan; guru honorer itu sering mengajar sambil menutupi kesulitan hidupnya; ada yang belum bayar listrik; ada yang menunggu gaji tiga bulan; ada yang harus pilih, beli beras atau beli pulsa untuk kirim nilai; tapi ketika masuk kelas, mereka tetap tersenyum seperti hidupnya seindah quotes motivasi.
Pejabat suka berkata, “Guru adalah prioritas kami”; ya, prioritas untuk difoto; prioritas untuk dijadikan bahan pidato; prioritas untuk jadi topik rapat; tapi bukan prioritas untuk disejahterakan; kalau guru benar-benar prioritas, tidak mungkin ada guru yang gajinya setara ongkos ojek dua hari; tidak mungkin ada guru yang harus jualan online sepulang sekolah; tidak mungkin ada guru yang menyembunyikan air mata sambil mengetik RPP tengah malam.
Dan yang lebih bikin darah mendidih, ada murid yang kurang ajar; tapi di rumah orang tuanya malah berkata, “Tugas guru dong membuat anak saya jadi baik”; padahal anak itu di rumah dibiarkan main HP sampai jam 2 pagi; makan mie instan tiga kali sehari; disapa tidak menoleh; disuruh tidur malah nonton YouTube; tetapi ketika nilainya jeblok, guru yang disalahkan; beginilah negeri yang pintar menuntut, tapi pelit berkontribusi.
Guru adalah korban harapan yang tak masuk akal; mereka diminta jadi pendidik, pembimbing, psikolog, pengawas, motivator, satpam, dokter, bahkan kadang jadi orang tua kedua; tetapi gaji yang diberikan setara dengan honor panitia acara musiman; lucu? Tidak; ini bukan lucu; ini tragikomedi tingkat nasional.
Mari kita bicara soal sekolah; ada kelas yang catnya mengelupas seperti kulit terbakar matahari; kipas anginnya berputar sambil menjerit; meja kayu berlubang, bangkunya goyang; tapi gurunya tetap berdiri di depan, menjelaskan dengan semangat seolah sedang mengajar di gedung ber-AC; guru mungkin tidak berkuasa memperbaiki gedung; tapi mereka selalu berkuasa memperbaiki masa depan murid; dan itu dilakukan tanpa keluhan yang terdengar; hebat? Iya; tapi jangan sampai kehebatan mereka dijadikan alasan untuk dibiarkan sengsara.
Kalau bicara soal murid zaman sekarang, guru bisa stres dengan kecepatan perkembangan mereka; murid sudah pandai edit video, bikin konten, main game online level tinggi; tapi ketika disuruh baca paragraf, napasnya langsung pendek; disuruh kerjakan soal, tiba-tiba kram tangan; disuruh kumpul tugas, hilang dari radar seperti pesawat tanpa sinyal.
Dan lucunya lagi; ketika guru menegur murid, ada orang tua yang tersinggung duluan; “Kenapa anak saya dimarahi?”; padahal marah itu bagian dari mendidik; dulu kita dimarahi guru pakai penggaris kayu tidak mati, malah jadi orang; sekarang ditegur saja sudah dianggap kekerasan; dunia ini benar-benar berubah sampai-sampai guru harus sejinak mungkin agar tidak viral.
Hari Guru semestinya bukan perayaan basa-basi; bukan acara makan nasi kotak; bukan sekadar pembagian piagam; Hari Guru harusnya jadi hari kita menagih negara, “Kapan kau bayar utangmu kepada para pendidik ini?”; karena negara ini, kalau jujur berdiri di atas pundak guru, bukan di atas pidato pejabat.
Kita berhutang banyak kepada guru; hutang yang tak mungkin terbayar dengan bunga, kue, atau karangan bunga di hari peringatan; hutang itu hanya bisa dibayar dengan keberanian memperbaiki sistem pendidikan; menaikkan gaji; menertibkan status; memastikan semua guru, tanpa terkecuali dipandang sebagai tulang punggung negeri, bukan tenaga tambahan yang bisa diganti sesuka hati.
Di kelas-kelas kecil di desa, ada guru yang menyapu lantai sebelum mengajar; ada guru yang menyalin buku pelajaran karena tidak ada fotokopi; ada guru yang naik motor menempuh medan berbatu; ada yang menyeberang sungai; ada yang mengajar sambil mengurus keluarga di rumah; semua dilakukan tanpa publik mengetahuinya; dan kalau bukan karena mereka, negeri ini sudah lama kehilangan cahaya.
Guru adalah manusia paling mulia yang sering diperlakukan paling biasa; mereka mendidik anak-anak menjadi dokter, insinyur, wartawan, perawat, pejabat, teknisi; tapi ketika mereka sendiri membutuhkan bantuan, sering kali suaranya kalah keras dari suara mesin birokrasi yang berjalan lambat seperti kura-kura habis makan siang.
Maka dari itu, hari ini Atalomba.com berdiri di belakang para guru; bukan dengan pujian manis; tetapi dengan kalimat yang mungkin membuat beberapa pihak merasa panas, bangsa ini memanfaatkan kesetiaan guru sambil pura-pura peduli.
Hentikan itu; hentikan semua drama seremoni; saatnya mulai kebijakan nyata; saatnya mengangkat guru seperti menghargai masa depan sendiri; karena kalau guru berhenti hari ini, esok paginya negara ini lumpuh; tidak ada intelektual; tidak ada tenaga profesional; tidak ada masa depan; hanya ada kekosongan yang kita ciptakan sendiri karena tidak mengurus pilar pendidikan.
Dan sampai hari itu tiba, hari ketika guru diberi penghargaan layak. Atalomba akan terus bersuara; lantang; tanpa rem; tanpa takut; karena guru telah memberi terlalu banyak untuk hidup dalam kesunyian. Selamat Hari Guru; maafkan kami sebagai bangsa yang sering lupa membalas jasamu; tapi hari ini, lewat tulisan ini, biarlah suaramu bergema lebih keras. Selamat Hari Guru, Untukmu Semua.
