“Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis: Satu Tahun Perjalanan Kasih Persaudaraan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD”
Oleh Irminus Deni, Sekretaris Divisi Migran Perantau Kevikepan Mbay – KAE
Perjalanan satu tahun bisa terasa singkat, tapi jika diisi dengan perjumpaan, doa, pelayanan, dan cinta, waktu setahun bisa menjadi catatan sejarah. Itulah yang dialami Keuskupan Agung Ende sejak 22 Agustus 2024, ketika seorang putra terbaik Flores Timur, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, ditahbiskan sebagai Uskup Agung Ende. Dan kini, tepat pada 22 Agustus 2025, kita menoleh ke belakang dengan rasa syukur, satu tahun perjalanan seorang gembala yang hadir dengan wajah persaudaraan, membawa motto tahbisannya yang indah: “Caritas Fraternitatis Maneat in Vobis” — Peliharalah Kasih Persaudaraan.
Motto yang Bukan Sekadar Kata
Motto tahbisan ini bukan sembarang kalimat. Motto ini diambil dari Surat kepada Orang Ibrani 13:1, “Hendaklah kasih persaudaraan tetap tinggal di antara kamu.” Ayat ini pendek, tetapi mengandung kedalaman yang luar biasa. Kasih persaudaraan di sini bukan sekadar sikap ramah atau basa-basi sosial. Ia adalah panggilan untuk menjaga ikatan yang hidup, yang saling memikul beban, saling menguatkan, dan saling menuntun pada kebaikan bersama.
Kasih persaudaraan bukanlah perasaan sesaat, melainkan tanggung jawab yang berakar dalam iman. Inilah yang tampak nyata dalam perjalanan pastoral Mgr. Paulus Budi Kleden sepanjang setahun ini. Ia tidak hanya mengajarkan kasih persaudaraan lewat homili, tetapi juga menghadirkannya lewat hadir, menyapa, dan berjalan bersama umat.
Satu Tahun, Delapan Puluh Paroki, Ribuan Senyuman
Setahun ini, sekitar 80 paroki di tiga kevikepan, Ende, Bajawa, dan Mbay, telah dikunjungi. Setiap kali beliau hadir, umat berbondong-bondong datang. Ribuan orang rela berdiri berjam-jam, hanya untuk menyambut, bersalaman, bahkan sekadar melihat sosok yang mereka nantikan. Mengapa demikian? Karena umat merasakan bahwa figur ini membawa sesuatu yang lebih dari sekadar seremonial, ia membawa kehangatan seorang sahabat, kerendahan hati seorang pelayan, dan kekuatan seorang gembala.
Di setiap kunjungan itu, motto “Peliharalah Kasih Persaudaraan” tidak hanya terdengar dari bibir, tetapi terlihat dalam tindakan. Ia duduk bersama umat, mendengar keluh kesah, berbagi tawa dengan anak-anak, bahkan menyentuh luka batin yang kerap tersembunyi. Kasih persaudaraan yang ia wujudkan adalah kasih yang hadir, nyata, dan tidak menggurui.
Makna Mendalam Kasih Persaudaraan
Mengapa motto ini begitu penting? Karena dunia kita hari ini semakin mudah tercerai-berai. Individualisme, politik identitas, kesenjangan sosial, konflik tanah, hingga ketidakadilan ekonomi menjadi ancaman nyata. Di tengah situasi ini, kasih persaudaraan bukan hanya sebuah ajaran, melainkan sebuah kebutuhan.
Di Flores, khususnya di wilayah Keuskupan Agung Ende, kita menghadapi banyak tantangan, konflik pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat kecil, kerusakan lingkungan akibat proyek-proyek besar, hingga luka sosial karena migrasi tenaga kerja. Dalam situasi seperti ini, motto uskup agung Ende menjadi peneguhan dan arah pastoral.
Kasih persaudaraan berarti:
-
Membela yang lemah. Umat kecil tidak boleh merasa sendiri ketika hak mereka terancam.
-
Merawat bumi. Tanah, air, dan hutan bukan sekadar aset, melainkan bagian dari kehidupan bersama yang harus dijaga.
-
Menghapus sekat. Persaudaraan melampaui suku, kampung, bahkan agama. Ia merangkul semua, tanpa kecuali.
-
Menguatkan Gereja. Persaudaraan dalam tubuh Kristus berarti hidup dalam solidaritas, bukan saling menjatuhkan.
Kasih Persaudaraan yang Hidup
Jika motto tahbisan adalah pijakan rohani, maka “Kasih Persaudaraan” adalah jembatan nyata bagi umat untuk melihat, merasakan, dan menghidupi semangat ini. Selama setahun terakhir, motto ini bukan sekadar slogan di spanduk, tetapi roh yang menyatukan umat dan gembalanya.
Kasih persaudaraan itulah yang membuat umat merasa dekat dengan uskup. Mereka tidak melihatnya hanya sebagai figur hierarkis, tetapi sebagai bapa, sahabat, dan saudara. Inilah yang membuat setiap kunjungan pastoral selalu disambut dengan antusiasme luar biasa. Umat tahu, kasih persaudaraan itu hidup, bukan teori.
Uskup yang Ditunggu, Uskup yang Dikenang
Ada sesuatu yang berbeda dalam sosok Mgr. Paulus Budi Kleden. Beliau adalah figur yang “ditunggu” bukan karena jabatannya semata, melainkan karena kehadirannya menyalakan harapan. Ia menghadirkan Gereja sebagai rumah yang hangat, bukan sekadar lembaga yang jauh. Ia mengajak semua untuk menjaga kasih persaudaraan, bukan hanya di altar gereja, tetapi juga di sawah, di jalan, di rumah, bahkan di ruang-ruang publik. Inilah yang menjadikan perjalanan satu tahun ini lebih dari sekadar catatan statistik kunjungan pastoral. Ia adalah tahun kasih persaudaraan yang nyata.
Momentum Ulang Tahun Pertama
Kini, 22 Agustus 2024 – 22 Agustus 2025 kita rayakan bukan hanya sebagai peringatan satu tahun tahbisan, melainkan sebagai momentum. Momentum untuk bertanya, sudahkah kita, umat Keuskupan Agung Ende, sungguh-sungguh menjaga kasih persaudaraan itu? Jangan sampai motto ini hanya berhenti di bibir uskup, tetapi mati di tengah umat. Sebaliknya, biarlah motto ini menjadi napas Gereja kita, kasih yang mempersatukan, persaudaraan yang memerdekakan.
Penutup
Setahun perjalanan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD sebagai Uskup Agung Ende adalah sebuah kesaksian tentang kasih persaudaraan yang hidup. Dari mimbar hingga jalan-jalan desa, dari altar hingga rumah umat, beliau menghadirkan kasih itu dengan nyata.
Maka pada hari ini, kita tidak hanya mengucapkan “selamat ulang tahun tahbisan,” tetapi juga mengucap syukur karena telah dianugerahkan seorang gembala yang berjalan bersama kita.
Selamat ulang tahun tahbisan yang pertama, 22 Agustus 2024 – 22 Agustus 2025, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Semoga kasih persaudaraan tetap tinggal di antara kita semua.

