Pustardos Voice Takatunga: “Suara yang Tak Didengar, Tapi Menggetarkan”

Oleh Irminus Deni – Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Edisi Khusus Budaya dan Musik Rohani
Pagi itu, kabut menggantung di atas bukit-bukit kecil yang memeluk Ngorabolo, sebuah kampung yang tenang di Paroki Laja, Kevikepan Bajawa. Jalan setapak menuju kapela kecil itu masih basah oleh embun, dan dari kejauhan, samar-samar terdengar suara perempuan memandu beberapa anak muda menyanyikan lagu “Ave Maria”.
Suara itu tidak nyaring, tapi hangat. Tidak sempurna, tapi jujur. Dan di balik harmoni sederhana itu, aku tahu, ada sesuatu yang lebih besar sedang tumbuh di kampung kecil ini, sesuatu yang lahir bukan dari kemegahan, tapi dari cinta yang sederhana, mereka adalah, Pustardos Voice Takatunga.
Sebuah Suara dari Tanah
Ngorabolo. Nama itu mungkin tidak tercatat di peta pariwisata Flores. Namun bagi mereka yang tahu mendengar, kampung ini memiliki nada tersendiri. Di sini, orang-orang tidak hanya bekerja untuk hidup. Mereka hidup untuk bernyanyi. Di sela sawah dan kebun, di antara gong tua dan rosario, mereka menenun iman dengan suara. Anak muda dan orang tua duduk dalam satu lingkaran, menyamakan nada, menyatukan napas, dan di bawah satu komando, suara mereka melesat ke langit, seolah menggetarkan seluruh bukit di sekitarnya.
Di tengah mereka, berdiri Ibu Bernadetha Wea, perempuan yang suaranya lembut tapi langkahnya teguh. Ia bukan sekadar pelatih. Ia adalah jantung kelompok ini. Dengan tangan kecilnya, ia mengatur tempo antara kulintang, foi, okalele, gitar, bas, kajon, gong, gendang, dan keyboard, perpaduan unik yang membuat setiap lagu Pustardos Voice Takatunga terdengar seperti doa yang dinyanyikan alam.
Lahir dari Dua Dunia
Ngorabolo berdiri di antara dua budaya, Ngada dan Nagekeo. Seperti dua nada yang berbeda, keduanya bergetar dalam frekuensi yang unik, tapi saat disatukan, menghasilkan harmoni yang luar biasa. Budaya Ngada memberi mereka kekuatan ritme dan struktur, disiplin dan semangat kebersamaan yang lahir dari tatanan adat yang kuat. Sementara budaya Nagekeo menanamkan rasa lembut, liris, dan keseimbangan dalam tiap bait lagu.
Pustardos Voice Takatunga hidup di tengah tarikan dua jiwa ini. Ketika gong dan gendang dipukul, mereka mewarisi Ngada. Ketika okalele dan foi dimainkan, mereka berbicara dalam bahasa Nagekeo.
Dan ketika semua berpadu di bawah harmoni keyboard dan gitar, jadilah musik yang melampaui batas budaya, musik iman yang universal tapi tetap berakar.
Ketika Musik Menjadi Jalan Iman
Di dunia yang semakin bising oleh hiburan, Pustardos Voice Takatunga memilih jalan sunyi, bernyanyi untuk Tuhan. Mereka tahu, mereka bukan artis. Mereka pelayan. Namun pelayanan itu justru membawa mereka pada pemahaman paling dalam tentang arti iman.
“Kami tidak mencari tepuk tangan,” kata Ibu Bernadetha suatu sore setelah latihan panjang.
“Kami hanya ingin Tuhan mendengar, bahwa di kampung ini, orang-orang masih mau bernyanyi untuk-Nya dengan cara kami sendiri.”
Kalimat itu menampar lembut. Sebab di banyak tempat lain, musik rohani telah menjadi tontonan, kehilangan rohnya. Tapi di Ngorabolo, musik masih menjadi jembatan antara langit dan tanah, antara doa dan budaya.
Lintas Generasi, Satu Lagu
Di satu sisi berdiri anak-anak muda dengan jeans sobek dan gitar di tangan; di sisi lain duduk para ibu dengan selendang tenun dan gong di depan dada. Perbedaan usia bukan penghalang, justru kekuatan. Yang muda belajar tentang kesetiaan dan kesabaran dari yang tua. Yang tua belajar keberanian dan kreativitas dari yang muda. Ketika mereka bernyanyi, tidak ada generasi, tidak ada jarak. Yang ada hanyalah satu suara bersama, satu jiwa yang bernyanyi dalam iman.
Mungkin di sinilah rahasia Pustardos Voice Takatunga, mereka tidak hanya menyatukan nada, tapi menyatukan manusia. Mereka menyatukan dua generasi, dua budaya, dan dua cara pandang, menjadi satu kesaksian iman yang hidup.
Musik yang Menyentuh Tanah dan Langit
Ketika mereka tampil di misa-misa besar, suasana berubah total. Nada dari foi meluncur lembut, seperti angin dari hutan yang menyapa altar. Gong berdentum pelan, seolah mengingatkan bahwa iman selalu berpijak di bumi. Kulintang dan kajon memberi ritme, sementara keyboard menautkan semua ke masa kini.
Itu bukan sekadar nyanyian. Itu adalah liturgi hidup. Sebuah pertemuan antara langit yang suci dan tanah yang sederhana. Sebuah pernyataan diam bahwa iman tidak pernah terpisah dari kebudayaan, bahwa Tuhan tidak hanya disembah lewat bahasa Latin, tetapi juga lewat bahasa bambu, gong, dan gendang.
Kritik yang Bernada Lembut
Namun, di balik harmoni itu, ada keheningan yang menggigit. Kesenian rohani seperti ini jarang diperhatikan. Di kota, musik rohani sering identik dengan teknologi, panggung, dan popularitas.
Sementara di kampung, suara-suara murni seperti dari Ngorabolo hanya menjadi gema yang cepat berlalu.
Siapa yang akan menjaga mereka? Siapa yang akan memastikan bahwa musik seperti ini tidak lenyap pelan-pelan ditelan modernitas? Pustardos Voice Takatunga bukan sekadar kelompok paduan suara. Mereka adalah penjaga perbatasan terakhir antara iman dan budaya. Mereka menolak tunduk pada tren. Mereka memilih setia pada akar. Dan justru karena kesetiaan itulah, mereka berharga.
Bernyanyi di Tengah Kekurangan
Latihan mereka sering dilakukan di ruangan sempit kapela kecil. Lampu redup, kursi tidak cukup, dan kadang listrik mati. Namun, tidak ada keluhan. Jika keyboard tak berbunyi, mereka nyanyikan acapella.
Jika gendang koyak, mereka perbaiki dengan tali rafia. Jika hujan turun, mereka menutup gong dengan kain supaya tidak berkarat. Semuanya dilakukan dengan satu semangat:
“Yang penting nyanyian tetap hidup. Sebab kalau suara diam, maka iman pun akan ikut sepi.”
Kalimat itu sederhana, tapi penuh makna. Dari kampung kecil ini, mereka menunjukkan bahwa keindahan tidak butuh kemewahan, cukup hati yang mau setia.
Resonansi Sosial dari Kampung
Ada sesuatu yang paradoks di sini. Ketika banyak gereja kota menghabiskan anggaran untuk sound system dan alat musik mahal, di Ngorabolo orang-orang bernyanyi dengan alat tradisional dan tetap mampu menyentuh jiwa. Bukankah ini pengingat bahwa kemurnian iman tidak diukur dari kerasnya suara, tetapi dari ketulusan hati?
Pustardos Voice Takatunga mengajarkan bahwa liturgi bukan sekadar tata ibadat, tetapi tata rasa, tata hidup, dan tata hormat kepada alam dan sesama. Mereka tidak memisahkan doa dari tanah, musik dari budaya, atau iman dari kehidupan sehari-hari. Mereka hidup di tengah sawah dan bernyanyi di tengah ladang, tapi nyanyian itu melampaui batas altar.
Dari Kampung untuk Dunia
Bisa jadi, suara mereka tidak sampai ke radio nasional. Tapi dari kapela kecil di Ngorabolo, mereka mengirim pesan yang lebih kuat daripada konser manapun, Bahwa iman bisa bertumbuh di tanah sederhana, jika dijaga dengan cinta dan budaya. Kelompok ini layak mendapat perhatian, bukan karena mereka butuh panggung, tapi karena mereka menjaga sesuatu yang sedang hilang dari bangsa ini, harmoni antara iman, budaya, dan kebersamaan. Ketika dunia sibuk dengan kompetisi dan ego, Pustardos Voice Takatunga mengingatkan kita untuk kembali mendengar, suara tanah, suara leluhur, suara Tuhan dalam kesunyian gong dan bambu.
Penutup: Doa dari Ngorabolo
Sore hari, ketika matahari mulai turun di balik bukit, mereka menutup latihan dengan lagu “Tuhan Kasianilah Kami”. Suara mereka tidak seragam, tapi setiap nada punya jiwa. Ibu Bernadetha menatap mereka satu per satu, tersenyum, lalu berkata pelan:
“Teruslah bernyanyi, anak-anakku. Karena selama ada suara, kampung ini tidak akan mati.”
Aku menatap ke arah gong yang tergantung di dinding. Ada goresan, karat, dan debu. Tapi setiap kali dipukul, bunyinya tetap sama, nyaring, jujur, dan hidup. Seperti kampung ini, seperti iman mereka, seperti suara yang datang dari bumi dan menuju langit.
Di antara gema gong dan kulintang itu, aku mendengar sesuatu yang tak bisa dijelaskan, Doa yang bernyanyi. Doa yang menembus batas waktu dan budaya. Doa yang lahir dari Ngorabolo, kampung kecil dengan hati besar. Dan aku tahu, selama masih ada suara seperti Pustardos Voice Takatunga, Flores tidak akan kehilangan nadanya. Ia akan tetap bernyanyi, dalam bahasa iman dan budaya yang sama, sederhana, tapi abadi.
Irminus Deni
Pemimpin Redaksi – Atalomba.com
Edisi Khusus Budaya dan Musik Rohani
“Atalomba menulis bukan untuk sekadar dibaca, tapi untuk dirasakan. Dari kampung kecil di lereng Ngada, kami menemukan suara yang lahir dari iman dan tumbuh dari budaya...”
