Ketika Bara Mbay Youth Day Menjadi Aksi Nyata: OMK Kevikepan Mbay Hadir di Tengah Luka Mauponggo

Nagekeo, Atalomba.com – Masih segar dalam ingatan bagaimana gegap gempita Mbay Youth Day 2025 mengguncang Kevikepan Mbay beberapa waktu lalu. Seolah bara yang ditanam dalam perjumpaan iman itu belum padam, api semangat kini menjelma nyata dalam langkah orang muda Katolik (OMK) seluruh Kevikepan Mbay, yang dikenal dengan sebutan Tiwo Liko.
Ketika banjir bandang melanda Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, orang muda Katolik tidak tinggal diam. Dari paroki ke paroki, dari kampung ke kampung, mereka bergerak, membuka posko, menggalang bantuan, berdiri di jalan-jalan, bahkan berkeliling pasar untuk mengetuk hati para pedagang dan pengunjung. Semua dilakukan bukan sekadar formalitas bantuan sosial, melainkan lahir dari hati yang telah dipupuk dalam pengalaman iman bersama.
Dalam Mbay Youth Day 2025, orang muda Katolik diajak menyalakan semangat sebagai “peziarah harapan yang ekologis”. Tema itu rupanya tidak berakhir di altar atau panggung, tetapi meresap ke dalam cara mereka memandang kehidupan. Semangat itu kini nyata terlihat, ketika saudara-saudara di Mauponggo dirundung duka, OMK Kevikepan Mbay hadir bukan hanya dengan doa, melainkan juga aksi nyata.
Tiwo Liko seakan menjawab panggilan zaman dengan tindakan konkret. Mereka belajar bahwa iman bukan hanya dirayakan dalam misa atau nyanyian rohani, melainkan diwujudkan dalam kesetiakawanan. Di sinilah jejak Mbay Youth Day terasa kuat, api itu terus menyala, memberi energi untuk bergerak bagi sesama.
Pantauan Atalomba.com menunjukkan, gerakan ini terjadi secara serentak dan spontan. Setiap paroki membuka posko solidaritas, tempat di mana warga paroki bisa menyalurkan bantuan berupa sembako, pakaian layak pakai, dan dana. Tak cukup di situ, OMK juga turun ke jalan, berdiri di perempatan, mengulurkan kardus bertuliskan ajakan berbagi, dan menyapa setiap pengendara dengan senyum penuh harapan.
Ada pula yang memilih menyusuri pasar tradisional. Dari kios ke kios, dari pedagang sayur hingga penjual ikan, mereka mohon uluran tangan. Para pengunjung pasar pun tersentuh, menyisihkan uang belanja untuk mereka yang kehilangan rumah dan harta benda akibat banjir. Semua dilakukan dengan sederhana, tanpa protokol rumit, tanpa menunggu aba-aba dari siapa pun. Semangat ini bukan sekadar kerja sosial, melainkan sebuah liturgi kehidupan, ibadah yang nyata di jalanan, di pasar, di antara peluh dan debu.
Atalomba.com mencatat, apa yang dilakukan orang muda Katolik Kevikepan Mbay ini telah menggugah banyak orang. Di balik keringat yang menetes, di balik wajah yang lelah berdiri berjam-jam di jalan, ada sukacita yang sulit dijelaskan. Sukacita itu lahir karena mereka tahu sedang menjadi sahabat bagi yang menderita.
Roh kesetiakawanan inilah yang menjadi inti dari semangat Tiwo Liko. Mereka tidak menunggu dewasa untuk peduli, tidak menunggu kaya untuk berbagi. Sejak remaja, mereka sudah belajar bahwa iman adalah tentang kehadiran, hadir saat orang lain sedang membutuhkan.
Gereja sering berbicara tentang “sinodalitas” berjalan bersama. Di Kevikepan Mbay, hal itu tidak hanya jadi slogan, melainkan tampak dalam gerak OMK. Mereka berjalan bersama, bukan hanya sesama OMK, tapi juga bersama umat paroki, bersama para pedagang pasar, bersama pengendara jalanan, bersama siapa pun yang mau terlibat. Dalam musibah Mauponggo, OMK Kevikepan Mbay memberi wajah konkret pada Gereja yang berjalan bersama. Bukan hanya imam, bukan hanya suster, tapi orang muda pun memegang peran penting.
Mbay Youth Day 2025 menanamkan pesan, orang muda Katolik adalah peziarah harapan. Kini, di Mauponggo, pesan itu menemukan bentuk. Mereka berjalan, mengulurkan tangan, mengumpulkan bantuan, menata ulang relasi dengan sesama dan dengan alam.
Seakan-akan, apa yang terjadi di Mauponggo adalah bab berikutnya dari Mbay Youth Day, sebuah kelanjutan perjalanan iman. Dan siapa tahu, kelak saat mereka kembali berkumpul dalam Youth Day berikutnya, cerita tentang aksi solidaritas di Mauponggo akan menjadi kesaksian yang menginspirasi banyak generasi.
Atalomba.com menyaksikan, di balik deru kendaraan yang melintas, suara seruan solidaritas menggema dari mulut anak muda. Di balik kesibukan pasar, langkah kaki OMK terus menembus kerumunan. Di balik posko-posko sederhana, ada wajah-wajah penuh harapan yang percaya bahwa kebaikan tidak pernah sia-sia.
Musibah memang menyisakan luka. Namun semangat OMK Kevikepan Mbay telah menunjukkan bahwa selalu ada cahaya di tengah gelap. Cahaya itu sederhana hati yang peduli, tangan yang terulur, dan iman yang diwujudkan dalam aksi.
Solidaritas yang lahir dari orang muda Katolik Kevikepan Mbay hari ini adalah bukti bahwa Mbay Youth Day 2025 bukan sekadar acara seremonial. Itu adalah titik api, yang kini terus menyala dan menerangi jalan banyak orang.
Bagi Mauponggo, bantuan ini mungkin tidak serta-merta menghapus luka. Namun kepedulian itu memberi pesan, mereka tidak sendiri. Ada saudara-saudara muda dari paroki-paroki lain yang siap berjalan bersama, siap menangis bersama, dan siap bangkit bersama. Dan di situlah iman menemukan artinya yang paling murni. (AL/Irminus Deni)
