Gabha/Bere Nagekeo di Vatikan: Ketika Identitas Lokal Menyapa Tahta Suci

Editorial Atalomba.com
Oleh: Irminus Deni, Pemimpin Redaksi Atalomba.com
Roma, 11 September 2025 akan dicatat bukan hanya sebagai hari pertemuan penuh kasih antara Paus Leo XIV dan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, melainkan juga sebagai hari ketika sebuah simbol budaya dari tanah kecil bernama Nagekeo di Pulau Flores ikut menyapa Tahta Suci di Vatikan.
Pertemuan itu sederhana namun penuh makna. Paus Leo XIV, yang dikenal dengan gaya kepemimpinan pastoralnya yang bersahaja, menyambut Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dengan tangan terbuka. Mereka berbagi kisah iman, perjalanan Gereja, serta harapan untuk umat Allah di dunia yang kian kompleks. Namun sorotan media dan umat tidak hanya berhenti pada dialog rohani itu. Ada sebuah benda kecil yang diam-diam menghadirkan narasi besar, gabha atau bere, tas adat khas Nagekeo yang dikenakan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.
Tas itu, berwarna khas tenunan Nagekeo, bertuliskan “Keuskupan Agung Ende.” Sepintas sederhana, namun sesungguhnya sarat makna. Ia menjadi tanda kehadiran budaya lokal Flores dalam ruang universal Gereja Katolik. Ia menjadi jembatan antara akar tradisi yang lahir dari tanah Nagekeo dengan arus global yang bertemu di Vatikan.
Simbol Kecil, Makna Besar
Di balik gabha/bere, ada kisah panjang sebuah masyarakat yang setia menjaga identitasnya. Gabha/bere bukan sekadar tas untuk membawa barang. Ia lahir dari tangan-tangan perempuan penenun, dari benang kapas yang diolah dengan sabar, dari motif-motif yang sarat filosofi hidup. Dalam kehidupan masyarakat Nagekeo, gabha/bere sering dipakai dalam acara adat, pertemuan keluarga, atau sebagai simbol penghargaan.
Ketika gabha/bere itu disandang Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD di Roma, ia tidak hanya membawa karya tangan manusia. Ia membawa jiwa sebuah tanah. Ia membawa napas solidaritas. Ia membawa pesan bahwa di balik semua kesibukan globalisasi, ada sekelompok orang di sudut dunia yang tetap setia dengan jati dirinya.
Gereja Universal yang Berakar Lokal
Gereja Katolik yang universal tidak akan pernah kehilangan rohnya justru ketika ia berani berakar pada budaya lokal. Paus Yohanes Paulus II pernah menyebutnya sebagai inkulturasi, iman yang menjelma dalam kebudayaan, dan kebudayaan yang ditransformasikan oleh iman.
Dengan mengenakan gabha/bere, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD menegaskan hal itu. Ia menunjukkan bahwa menjadi Katolik di Flores bukan berarti kehilangan identitas sebagai orang Nagekeo, orang Ende, dan Bajawa atau orang Flores. Sebaliknya, iman justru semakin kaya ketika dibungkus dalam warna lokal.
Paus Leo XIV tentu memahami simbol ini. Sambutan hangatnya, peneguhannya atas pelayanan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, serta pesannya tentang kasih persaudaraan menemukan pijakan yang nyata dalam gabha/bere itu. Kasih persaudaraan tidak pernah lahir dari ruang hampa, melainkan dari identitas yang dihayati bersama.
Dari Roma ke Nagekeo, One Be yang Menggema
Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo pernah menampilkan sebuah pentas seni budaya bertajuk One Be. Dalam pentas itu, gabha atau bere dipamerkan sebagai simbol kebanggaan daerah. Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah cara untuk merawat ingatan kolektif masyarakat akan warisan budaya mereka.
Ketika pemerintah daerah meneguhkan identitas melalui panggung budaya, dan ketika seorang uskup membawa simbol yang sama hingga ke Vatikan, maka kita menyaksikan sebuah harmoni, budaya tidak berhenti di kampung, tetapi bisa berbicara di panggung global. Editorial ini menilai, itulah kekuatan sesungguhnya dari warisan leluhur, ia tidak terkurung, ia mampu berdialog.
Mengapa Redaksi Angkat Suara?
Pertanyaan mungkin muncul, mengapa sebuah editorial media lokal memberi perhatian begitu besar pada sebuah tas adat? Jawabannya sederhana, karena di balik tas itu ada narasi tentang siapa kita.
Atalomba.com percaya bahwa pertemuan Paus dan Uskup Agung Ende bukan sekadar urusan Gereja. Ia adalah peristiwa budaya, sosial, bahkan politis. Ia mengingatkan kita bahwa identitas kecil dari sebuah kabupaten di Flores bisa hadir dengan anggun di pusat Gereja Katolik dunia.
Simbol kecil ini harus menjadi cambuk bagi kita semua. Sejauh mana kita merawat identitas budaya kita sendiri? Apakah kita hanya bangga ketika dipamerkan di luar negeri, ataukah kita juga memberi tempat baginya dalam kehidupan sehari-hari?
Kasih Persaudaraan dan Tanggung Jawab Bersama
Paus Leo XIV menegaskan dalam pertemuan itu. kasih persaudaraan harus menjadi dasar setiap langkah. Editorial ini ingin menambahkan, kasih persaudaraan juga berarti menghargai budaya satu sama lain.
Ketika Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD mengenakan gabha/bere, ia tidak hanya menunjukkan cinta pada Nagekeo. Ia juga sedang mengajak dunia untuk saling menghormati. Di era ketika banyak identitas kecil hilang ditelan arus besar, tindakan sederhana ini adalah pengingat bahwa kasih sejati berawal dari penghormatan pada akar masing-masing.
Untuk Generasi Muda Nagekeo dan Flores
Kepada generasi muda Nagekeo, editorial ini hendak berkata, lihatlah bagaimana simbol kecil dari tanahmu bisa berdiri di hadapan Paus. Itu berarti karya budaya leluhurmu tidak pernah remeh. Jangan malu menggunakan tenun, jangan anggap kuno memakai gabha/bere, jangan biarkan warisan ini hanya menjadi pajangan museum.
Kalau seorang uskup berani menyandangnya di Roma, mengapa kamu ragu menyandangnya di sekolah, kampus, atau kantor? Kalau pemerintah berani mengangkatnya dalam pentas One Be, mengapa kamu tidak ikut meneguhkan dengan gaya hidup sehari-hari?
Dari Nagekeo untuk Dunia
Pertemuan Paus Leo XIV dan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD akan dikenang sebagai pertemuan penuh kasih persaudaraan. Namun bagi kita di Nagekeo, Ende, Bajawa dan Flores, peristiwa itu juga akan dikenang sebagai saat ketika gabha/bere simbol kecil dari tanah ini ikut hadir di Vatikan. Budaya bukan aksesori, budaya adalah identitas. Ia bisa menjelajah jauh, bahkan hingga ke Roma, asal kita sendiri mau merawatnya.
Kasih persaudaraan yang dipesankan Paus Leo XIV, doa rendah hati yang dipersembahkan Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, dan simbol gabha/bere yang dibawanya, berpadu dalam satu makna, dari Nagekeo untuk dunia, dari budaya lokal untuk Gereja universal, dari kasih sederhana untuk persaudaraan umat manusia. (AL/Pemimpin Redaksi Atalomba.com)
