Kursus Persiapan Perkawinan Paroki St. Fransiskus Asisi Gako, Sentuh Luka Sosial. Gereja dan Keluarga Bersatu Melawan Perdagangan Manusia

Gako Boawae, 20 Mei 2025 Atalomba.com— Sebanyak 16 pasang calon suami istri mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di Paroki St. Fransiskus Asisi Gako, Kevikepan Mbay, Keuskupan Agung Ende. Namun tahun ini, KPP Paroki Gako bukan sekadar tentang sakramen pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Para peserta diajak masuk lebih dalam ke dalam pergumulan sosial Gereja, dengan menghadirkan materi khusus tentang bahaya perdagangan manusia, sebuah kejahatan kemanusiaan yang masih terus mencabik martabat banyak orang, termasuk umat di wilayah Paroki St. Fransiskus Asisi Gago Kevikepan Mbay.
Materi penting ini dibawakan oleh Irminus Deni, Sekretaris Divisi Migran dan Perantau Kevikepan Mbay, yang juga merupakan penerima Hassan Wirajuda Award tahun 2022 kategori masyarakat madani dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya dalam mendampingi korban perdagangan manusia dan keluarganya selama lebih dari satu dekade.
“Perdagangan manusia bukan lagi isu asing bagi kita. Ini bukan hanya cerita dari luar negeri atau media sosial. Ini adalah kenyataan pahit yang dialami tetangga, saudara, bahkan anak-anak muda dari desa-desa kita sendiri. Karena itu, keluarga Katolik harus siap menjadi benteng pertama perlindungan,” ungkap Deni dalam paparannya.
Deni juga menekankan bahwa perhatian Gereja terhadap isu ini bukan hal baru. Dalam Ajaran Sosial Gereja, ditegaskan bahwa martabat manusia adalah nilai tertinggi yang tidak boleh dikorbankan demi apa pun. Ia juga mengutip seruan Paus Fransiskus, yang menyebut perdagangan manusia sebagai “luka terbuka pada tubuh umat manusia dan tubuh Kristus.”
“Paus Fransiskus secara tegas mengatakan bahwa keluarga, khususnya keluarga muda, harus berperan aktif menyebarkan informasi tentang bahaya perdagangan manusia. Dalam Ajaran Sosial Gereja disebutkan bahwa keluarga adalah Gereja mini—maka ia pun harus menjadi cahaya dan suara kenabian di tengah masyarakat,” lanjut Deni.
Materi ini disampaikan dengan pendekatan pastoral dan reflektif, membuat para peserta terlibat secara emosional dan intelektual. Banyak dari pasangan muda tersebut mengaku baru menyadari betapa luas tanggung jawab mereka sebagai keluarga Katolik di masa kini.
Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Gako, dalam arahannya, mengapresiasi langkah pembinaan yang menyentuh langsung realitas umat.
“Pernikahan bukan hanya soal kasih antara dua insan, tapi soal komitmen bersama untuk merawat hidup, termasuk hidup orang-orang yang rentan di sekitar kita. Gereja hadir bukan hanya untuk memberkati pernikahan, tetapi juga membekali umat untuk memberkati dunia,” katanya.
Ketua Rumpun Pembinaan Paroki Gako, Bapak Antonius Siga, menegaskan bahwa materi ini akan menjadi bagian tetap dari KPP di masa mendatang.
“Ini adalah pertama kalinya KPP di Paroki Gako mengangkat isu perdagangan manusia, dan kami menyadari betapa pentingnya hal ini. Ke depan, setiap kursus perkawinan akan memuat materi ini, agar pasangan muda tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga dalam kepekaan sosial,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung setelah materi pun memperlihatkan semangat dan keterbukaan para peserta. Mereka bertanya, berdiskusi, dan berbagi pandangan tentang bagaimana mereka bisa turut mencegah praktik-praktik perekrutan ilegal, eksploitasi, dan perdagangan orang di lingkungan masing-masing.
Seorang peserta, mengatakan:
“Kami tidak hanya mendapatkan bekal rohani, tapi juga bekal sosial. Ini membuka mata kami bahwa menikah berarti juga membangun dunia yang lebih manusiawi, bukan hanya membangun rumah tangga.”
Langkah Kecil, Dampak Besar. Apa yang dilakukan Paroki St. Fransiskus Asisi Gako ini menunjukkan bahwa Gereja tidak tinggal diam di tengah gelombang penderitaan umat. Melalui 16 pasang calon keluarga baru, Gereja mengutus misionaris-misionaris cinta yang siap menjadi suara dan pelindung bagi yang tak bersuara.
Dengan memasukkan materi perdagangan manusia dalam KPP, Gereja tidak hanya merespons Surat Gembala Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, yang menolak keras segala bentuk perdagangan manusia dan kekerasan terhadap perempuan dan anak, tetapi juga menanamkan komitmen keadilan sejak dari fondasi keluarga.
Langkah ini sederhana, namun dampaknya sangat besar. Ketika keluarga Katolik dibekali bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan kesadaran akan penderitaan sesama, maka Gereja sungguh hadir sebagai tubuh Kristus yang hidup, berbelas kasih, solider, dan setia melindungi martabat setiap insan. (AL/Tim Atalomba.com)

