Bencana Datang Tanpa Izin, Kejahatan Datang Menghitung: Ketika Korban Belum Pulih, Pemburu Sudah Siap

Jakarta Atalomba.com – Bencana alam selalu datang tanpa izin. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memberi aba-aba. Ia merobohkan rumah, merendam ladang, memutus jalan, dan mencabut rasa aman manusia dalam waktu singkat. Namun bagi banyak korban, musibah tidak berhenti ketika air surut atau tanah berhenti bergerak. Justru di sanalah penderitaan memasuki babak baru, lebih sunyi, lebih licik, dan sering kali lebih kejam, “perdagangan orang”.
Di balik tenda-tenda pengungsian, di sela antrean bantuan, dan di antara wajah-wajah letih yang belum sempat pulih dari trauma, ada mata lain yang mengamati. Bukan untuk menolong, melainkan menghitung peluang. Bukan untuk memulihkan, melainkan mencari celah.
Peringatan keras ini disampaikan Caritas Indonesia (KARINA KWI) menyusul rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir 2025. Bagi Caritas, bencana alam bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga momen paling rapuh ketika martabat manusia mudah diperdagangkan.
“Setiap bencana hampir selalu diikuti ancaman baru. Korban yang kehilangan segalanya menjadi sasaran empuk perdagangan orang dan migrasi tidak aman,” demikian pernyataan Komite Migran, Pengungsi, dan Anti-Perdagangan Orang Caritas Indonesia, Senin (5/1/2026).
Ketika Kehilangan Menjadi Celah
Korban bencana tidak hanya kehilangan rumah. Mereka kehilangan pekerjaan, dokumen, jaringan sosial, bahkan keberanian untuk berkata “tidak”. Dalam situasi seperti itu, janji apa pun terdengar seperti harapan.
Para pelaku perdagangan orang memahami betul momen ini. Mereka tidak datang dengan kekerasan, tetapi dengan bahasa empati. Mengaku relawan. Menawarkan pekerjaan. Menjanjikan relokasi, pendidikan, bahkan masa depan yang tampak lebih terang. Semua dibungkus rapi dalam narasi kemanusiaan.
Dinna Prapto Raharja, anggota Komite Caritas Indonesia, menegaskan bahwa persetujuan korban dalam situasi bencana sering kali tidak lahir dari kehendak bebas.
“Ketika seseorang berada dalam trauma dan ketidakpastian, pilihan yang diambil bukan karena yakin, tetapi karena terdesak. Di situlah kejahatan bekerja,” ujarnya.
Pengungsian: Tempat Berlindung atau Ruang Rentan?
Caritas Indonesia mengingatkan, lemahnya pengawasan di lokasi pengungsian dapat mengubah ruang perlindungan menjadi ruang perekrutan. Tanpa pencatatan yang rapi, verifikasi relawan, dan penjagaan yang konsisten, pengungsian bisa menjadi wilayah abu-abu yang subur bagi sindikat.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh berhenti pada logistik.
“Memberi makan orang lapar itu penting. Tetapi melindungi mereka dari kejahatan yang mengintai di tengah kelaparan jauh lebih mendesak,” tegasnya.
Timur Sudah Mengalami, Jangan Terulang
Pengalaman pahit di Nusa Tenggara Timur menjadi pengingat yang tidak boleh diabaikan. Setiap bencana hampir selalu diikuti oleh peningkatan migrasi tidak aman dan perdagangan manusia.
Romo Chrisantus Paschalis, pendamping migran di Batam, menyebut wilayah pascabencana sebagai ladang subur bagi para calo.
“Ketika orang kehilangan segalanya, harapan sekecil apa pun bisa dibeli. Di situlah manusia mulai diperdagangkan,” katanya.
Sementara itu, Suster Laurentina SDP Aktivis dan Peraih penghargaan Hassan Wirayudha Award dari Kemenlu RI asal Kupang Nusa Tenggara Timur menambahkan, banyak korban baru menyadari jebakan ketika semuanya sudah terlambat. “Karena itu peringatan harus datang lebih cepat dari kejahatan,” ujarnya.
“Jangan Biarkan Bencana Menjadi Alat Kejahatan”
Nada paling tegas datang dari Romo Reginald Piperno, aktivis lingkungan hidup dan pegiat isu anti-perdagangan orang dari Keuskupan Agung Ende. Baginya, membiarkan perdagangan orang tumbuh di wilayah pascabencana adalah kegagalan nurani.
“Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi penderitaan lanjutan akibat kejahatan seharusnya bisa dihentikan. Jika pemulihan lambat dan pengawasan lemah, maka kita sedang membiarkan kejahatan hidup dari penderitaan korban,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa empati tidak boleh dijadikan topeng.
“Semua yang mengatasnamakan bantuan kemanusiaan harus transparan dan bertanggung jawab. Jangan biarkan empati diperalat,” katanya. Menurutnya, pemulihan yang lambat sama berbahayanya dengan bencana itu sendiri. “Selama orang hidup dalam ketidakpastian, selama itu pula mereka bisa diperdagangkan,” ujarnya.
Angka yang Tak Boleh Dibaca Dingin
Data Caritas Indonesia per 3 Januari 2026 mencatat lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak, dengan sekitar 1 juta orang mengungsi. Angka-angka ini bukan statistik mati. Di baliknya ada manusia yang sedang berdiri di batas paling rapuh dalam hidupnya. Jika negara, masyarakat, dan kita semua lengah, korban bencana bisa berubah menjadi korban kejahatan kemanusiaan berikutnya.
Catatan Kecil ala Atalomba
Di negeri ini, kita sering cepat mengirim bantuan, tetapi lambat menjaga manusia. Kita cekatan membangun tenda, tetapi abai mengawal martabat. Padahal, kejahatan tidak menunggu bencana reda. Ia bekerja justru ketika empati sedang sibuk berfoto. Bencana alam mungkin tak bisa dicegah. Tetapi bencana kemanusiaan akibat pembiaran seharusnya bisa dihentikan.
Jangan Diam
Caritas Indonesia menyerukan pengawasan ketat pengungsian, sosialisasi bahaya perdagangan orang, penguatan Gugus Tugas TPPO, serta percepatan pemulihan sosial dan ekonomi. Caritas juga membuka hotline pengaduan bagi siapa pun yang melihat tanda-tanda perdagangan orang. Sebagai langkah konkret, Caritas Indonesia membuka hotline pengaduan:
📞 0811-9996-728
📧 migran@karina.or.id
Karena dalam setiap bencana, yang paling cepat datang bukan hanya bantuan, tetapi juga pemburu. Dan ketika kita memilih diam, mereka merasa diberi ruang. (AL/Irminus Deni)
Rillis Resmi. 20260105_Press Release Peringatan Dini Bencana Alam dan Perdagangan Manusia Caritas Indonesia.docx
